
Gerimis sejak pagi tidak juga berhenti, rasanya sangat malas untuk sekedar mengangkat tubuh dari bangku tempatku duduk meski bel istirahat telah berbunyi.
Hari itu aku duduk dengan Aura di bangku paling belakang samping cendela menyimak Diah dan Ayu yang sedang asik menghafalkan rumus-rumus fisika, maklum satu minggu lagi kami akan menghadapi ujian semester genap. Saat sedang asik belajar tiba-tiba terdengar suara
Tok tok tok
Dimas mengetuk kaca cendela disampingku sambil berteriak
“Woi pacarku!”
Saat aku menoleh dia tertawa dan lari mengejar Abas yang berjalan di depannya, tentu saja teman-temanku dikelas tertawa mendengarnya, beberapa bersorak mengodaku.
Rupanya dia sudah kembali dari Jakarta, sebenarnya aku tidak terlalu kaget jika dia akan melakukan itu, maksudku Dimas memang begitu, belum jadian saja dia sudah iseng semaunya sendiri apalagi setelah musibah jadian itu. Itulah salah satu alasan kuat untuk aku segera mengakhiri salah paham ini. Sikap kekanak-kanakan Dimas, jika dibiarkan maka makin lama dia akan semakin melunjak.
“Sudah makin terang-terangan saja kalian,” kata Aura mengodaku
“Iya, aku kira kalian bakal sembunyi-sembunyi,” Ayu menambahkan
“Aku ingin putus!” perkataanku membuat tiga temanku kaget
“Gila, yang benar saja kamu belum juga seminggu udah minta putus?” ucap Diah
“Kenapa sih Ka? Apa coba salahnya Dimas?” tanya Ayu penasaran
“Ya pokoknya putus,” aku tidak ingin memberikan alasan apapun
"Gara-gara kami bikin heboh waktu itu? Kami kan udah minta maaf, lagian bukan salah Dimas, ngapain sampai putus?"ucap Ayu tampak kesal
__ADS_1
"Kamu tidak adil Ka, hanya karena malu terus kamu jadi berubah pikiran! apa kamu tidak mempertimbangnkan perasaan Dimas?" Aura menambahkan
"Kalian tidak tahu apa-apa, ini bukan soal itu!" jawabku sedikit marah. Aku kesal mereka menghakimi aku tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi
"Mangkanya cerita, apa gunanya kita berteman kalau tidak saling cerita masalah masing-masing?" ucap Diah membuatku tampak semakin buruk. Aku hanya diam tertunduk tidak tahu harus bagaimana membela diri.
Sejujurnya aku juga ingin cerita kepada semua orang jika yang ku sukai adalah Abas bukan Dimas. Tapi aku tidak enak dengan Aura, dia sepertinya juga menyukai Abas. Jika aku cerita mungkin persahabatan kita akan berakhir. Tidak hanya itu, kami duduk satu bangku bagaimana kami akan bersikap jika Aura tau kita suka pria yang sama?
“Bisa dikatakan kalian belum pacaran loh, kan kalian belum bertemu lagi setelah hari jadian itu, masak udah mau putus?” Ucap Aura memecahkan kesunyian.
Jika dipikir memang benar kami belum bertemu lagi sejak hari itu. Malam itu Dimas langsung berangkat ke Jakarta dan baru kembali hari ini.
“Iya, setidaknya sampai selesai ujian lah Ka,” Diah menasehatiku
“Benar tuh, kalau gara-gara putus terus nilainya Dimas hancur bagaimana?” tambah Ayu untuk meyakinkan Aku
Aku memang kesal dengan teman-teman ku tapi aku mengerti maksud mereka baik. Lagipula itu juga salahku yang merahasiakan perasaanku sendiri saja. Aku menghela nafas panjang dan menaruh kepala di mejaku.
-*-*_*-*-
Dimas mengantarku pulang sekolah, siang itu aku ingin menyudahi kesalah pahaman namun Dimas mengajakku pergi nonton bioskop malam nanti. Aku pikir mungkin saat itu akan lebih tepat untuk mengatakannya. Lalu aku putuskan untuk menunda hingga malam datang.
Rembulan malam itu bulat sempurna sangat cantik berbeda dengan hatiku yang sedang kebingungan merangkai kata-kata untuk putus dengan Dimas. Aku menunggu Dimas cukup lama, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam tapi dia tidak juga datang menjemputku.
Aku masih menunggu di depan warung Bu Ida sambil memandangi bulan. Aku berharap Dimas akan segera datang. Tengah asik memandang bulan, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara yang sangat aku kenal. Abas, dia datang membawa pesan dari Dimas.
“Keterlaluan, masak wanita cantik begini disuruh menunggu!” seru Abas yang tampak mengerti jika suasana hatiku sedang tidak baik
__ADS_1
“Abas?” bukan maksudku untuk bertanya aku hanya kaget saat itu aku masih canggung untuk bertemu dan aku rasa Abas pun begitu setelah acara makan siang di taman kota tempo hari. Namun dia mencoba untuk mencairkan suasana.
“Iya, nama saya Abas,” dia tersenyum sangat manis “ini ada pesan,” dia memberikan sepucuk surat dari Dimas yang isinya
Teruntuk Eka yang sedang menantikan Dimas
Jika kamu membaca surat ini, itu artinya aku tidak bisa datang menjemputmu untuk kencan pertama kita, tapi aku akan menepati janji. Besok sepulang sekolah aku akan mengajakmu nonton bioskop sebagai ganti hari ini dan memberikan bonus es cream sebagai permohonan maaf.
Dengan segenap jiwa dan raga aku sampaikan salam rinduku untuk mu
D.N
Aku menghela nafas panjang usai membaca surat itu sambil bergumam sendiri
“Kencan? Siapa yang mau kencan?” Abas tertawa melihatku kesal. Sebenarnya waktu itu aku malu pada Abas, tapi aku sungguh sangat kesal pada Dimas.
“Tadi sore tiba-tiba Dimas diminta Pak Winarno untuk ikut ke Balai Pemuda Surabaya, mau dikenalkan seseorang yang bisa membawanya dalam kompetisi di Amerika, kamu tahu kan dia sangat mengagumi Andy Rubin? Kata Pak Winarno lomba itu disponsori oleh perusahaannya. Dimas berpesan jika sampai jam delapan belum datang aku disuruh menyampaikan surat ini untuk kamu,” Abas mencoba menjelaskan mengapa Dimas tiba-tiba membatalkan janjinya.
“Serius? Wah Dimas keren, anak itu tidak pernah menyerah untuk meraih mimpinya, semoga dia mendapatkan apa yang dia inginkan,” Aku berdoa dengan tulus untuk Dimas. Meskipun aku jengkel dan sering memarahinya sesungguhnya aku sangat bangga padanya.
“Nggak jadi marah?” tanya Abas mengodaku
“Saya tidak mara hanya kesal, hari ini saya ingin menyelesaikan salah paham tentang kejadian di pensi waktu itu” jawabku sambil melipat kembali surat dari Dimas
“Kamu benar-benar ingin mengatakannya? Maksudku bukan berarti aku takut Dimas akan marah padaku tapi sebentar lagi kita ujian kenaikan kelas dan Dimas harus menyiapkan diri untuk lomba di Amerika, aku kawatir itu akan menganggu konsentrasinya,” Abas berusaha meyakinkan aku agar mau menunda keputusanku itu
Aku tidak tahu apakah keputusanku ini benar, tidak ada seorang pun yang mendukungku. Aku juga merasa apa yang dikatakan teman-temanku itu ada benarnya. Dimas sudah susah payah melakukan yang terbaik. Dia menorehkan banyak pertasi untuk sekolah, sekarang dia ingin meraih mimpinya lalu bagaimana aku akan bertanggung jawab jika mimpinya itu hancur karena aku? Mungkin aku bisa menunggu hingga setelah kompetisi itu.
__ADS_1