Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Bab 10. Rebut Saja Kekasihnya


__ADS_3

“Sha? Dari siapa?” tanya Rafa lagi masih dengan nada yang lembut.


“Iya! Dari mana kamu dapat uangnya, huh? Dari siapa?” tanya Ika ikut bersuara dengan dagu yang sedikit terangkat dan begitu angkuh.


“Da–dari Lita,” jawab Sesha.


“Lita? Siapa dia?” tanya Rafa.


“Dia temen aku di pabrik, Kak.”


“Temen kamu di pabrik?” tanya Rafa dengan dahi yang mengernyit.


“Bukan Lita sebenarnya yang meminjamkan aku uang, tapi pacarnya,” jawab Sesha berdusta, siap mengatakan sebuah cerita omong kosong.


Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika dirinya baru saja menjual diri. Ibu tirinya mungkin akan biasa-biasa saja dan bahkan tak peduli, tetapi Rafa yang begitu menyayanginya sejak kecil, sudah pasti akan sangat marah padanya.


Selama ini hanya Rafa yang hanya bersikap baik padanya, hanya Rafa yang memanusiakannya di rumah. Sesha tidak mau dengan kebenaran yang terjadi, Rafa malah akan jadi membencinya nanti.


Siapa yang akan membela dan menjadi tempat sandarannya jika Ika marah padanya nanti kalau Rafa membencinya?


“Aku perhatikan Lita selalu memakai barang branded dan juga mahal, padahal dia hanya karyawan pabrik seperti aku. Jadi aku penasaran dan tanya sama dia, siapa tau aku bisa juga seperti dia. Dan ternyata memang dia ada pekerjaan lain setelah dari pabrik, tapi kebanyakan dari semua barang yang dia punya, dia dikasih sama pacarnya. Pacarnya Lita ini orang berada, jadi aku meminjam uang dari pacarnya Lita,” jelas Sesha menciptakan sebuah kebohongan.

__ADS_1


“Jadi kamu pinjam uang ini sama pacarnya temen kamu?” tanya Ika.


Sesha memberikan anggukan kepala walau agak ragu. “I–iya, terus tadi aku juga pergi ke rumah pacarnya Lita dan rumahnya begitu sangat besar dan mewah. Cuma, pacarnya Lita sedang tidak ada di rumah jadi aku sama Lita nunggu pacarnya Lita itu di rumahnya. Dan cukup jauh juga dari sini makanya jam segini aku baru pulang,” ucap Sesha lagi.


“Hmmm ....” Rafa mengangguk paham, “Baik juga ya pacarnya temen kamu, mau kasih pinjam uang sebanyak itu sama kamu. Padahal baru aja kenal loh,” ucap Rafa.


“I–itu ... sebenernya, Lita bilang kalau yang butuh uang itu dia, untung shopping dan jalan-jalan sama aku, jadi pacarnya mau kasih,” ucap Sesha berdusta lagi, “Sengaja ngomong kayak begitu biar nanti aku bayarnya ke Lita bisa dicicil. Kalau aku yang pinjam langsung, kayaknya memang gak akan dikasih.”


“Hmmm ...,” Rafa kembali mengangguk lagi, “Pacarnya temen kamu ini kayaknya cinta banget ya sama temen kamu, Sha. Uang segitu banyaknya dikasih gitu aja,” ucap Rafa.


“Uang 20 juta tidak akan ada apa-apanya untuk orang berada, Kak,” sahut Sesha.


“Mama!” tegur Rafa, dia tidak setuju dengan ucapan sang ibu.


“Apa? Yang Mama katakan kan tidak ada salahnya! Kapan lagi Mama punya menantu anak orang kaya, si Dewi kan gak bisa di arepin! Dia malah tergila-gila sama si Sandi yang cuma PNS itu! Kalau dibandingkan sama pacarnya temen si Sesha ini kan gak ada apa-apanya.”


“Dapetin PNS juga bersyukur!” ucap Rafa, "Kalau aku jadi pacarnya Dewi, aku gak mau tuh! Lebih tepatnya gak mau punya mertua yang kek Mama!"


“Aaahh ... udahlah!” Ika kembali melihat ke arah Sesha lagi, “Pokoknya kamu deketin tuh si Lita-Lita itu, kamu harus kecipratan duit dari pacarnya dia! Kalau bisa rebut juga pacarnya sekalian! Atau kalau enggak ya minta dia cariin pacar kek buat kamu, yang kayanya sama dengan pacar si Lita itu. Pacarnya si Lita anak orang kaya kan? Circle dia juga pasti anak orang berada semua tuh, jadi kamu harus bisa berteman deket sama si Lita dan juga pacarnya!” ucap Ika lagi.


Setelah banyak mengucapkan kata, Ika langsung berbalik dan pergi ke dalam kamar meninggalkan Rafa dan juga Sesha.

__ADS_1


“Tidak usah mendengarkan ucapan Mama, anggap saja angin lalu,” ucap Rafa. Dia begitu sangat berat jika membiarkan Sesha menjalin hubungan dengan pria lain. Karena ia begitu sangat berharap bisa menjalin hubungan dengan Sesha.


Sayang, hubungan persaudaraan menghalangi rasanya walau hanya sekedar saudara tiri.


Sesha memberikan anggukan kepala. “Uang yang Kakak pinjam pada atasan kakak, berikan lagi saja. Kan uangnya sudah ada,” ucap Sesha.


“Apa gak sebaiknya di simpan saja? Nanti uangnya kan bisa di pakai untuk bayar hutang ke teman kamu.”


“Maksudnya gali lubang tutup lubang? Sama aja, Kak. Kan uangnya pasti untuk bayar hutang juga. Sudah ... kembalikan saja uangnya, tidak usah memikirkan bagaimana cara aku membayar hutang pada Lita. Lita bilang kan bisa di cicil,” ucap Sesha, dia kemudian berbicara dengan nada suara pelan berbisik pada Rafa, “Aku kan sudah pernah bilang sama Kakak kalau uang gaji tidak aku berikan sepenuhnya sama Mama, aku sisihkan sedikit. Nanti aku bayar hutang itu dengan uang gaji yang biasa aku sisihkan,” ucap Sesha tersenyum.


Faktanya uang itu tidak perlu diganti karena itu adalah uangnya sendiri. Uang di rekeningnya bahkan masih sangat lumayan.


“Ya sudah kalau begitu, besok uangnya Kakak berikan lagi pada Nyonya besar, tapi kamu tenang saja ... setiap Kakak gajian, Kakak akan bantu kamu untuk bayar hutangnya,” ujar Rafa seraya tersenyum.


Sesha tak lagi menjawab ucapan Rafa, dia hanya membalas ucapan Rafa dengan senyuman. Menolak keinginan sang kakak malah akan membuat kakaknya itu curiga, jadi ia membiarkannya saja.


“Kamu pasti belum makan, kan? Ayo, makan dulu ...,” Rafa merangkul pundak Sesha dan berjalan ke arah meja makan, “Kakak goreng ayam tadi, kamu suka kan sama ayam goreng?”


Sesha memberikan anggukan kepala pada Rafa. “Iya, aku suka.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2