Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Chapter. 43


__ADS_3

“Enak ya ... semua olang punya Mama,” ucap Abian tiba-tiba. Dia mengomentari kartun yang sedang dia tonton di mana adegan seorang anak sedang memeluk ibunya.


Alfa yang sejak tadi menemani Abian menonton TV itu sontak langsung menoleh menatap putra semata wayangnya yang terduduk di sampingnya. Mereka hanya menonton berdua karena Sesha sedang pergi keluar menemani Mbok Minah yang bekerja sebagai ART di rumah untuk membeli keperluan rumah.


Mama Mila dan Shella juga tidak ada karena mereka sedang sibuk dengan kesibukan mereka.


“Papa juga punya Oma Mila, telus kenapa Abi tidak punya Mama? Mama Abi sebenalnya kemana? Kenapa dia tidak ada?” tanya Abian pada sang ayah yang sedang berada di sampingnya.


“Kata siapa Mama Abi tidak ada? Mama Abi ada kok,” jawab Alfa.


“Kalau ada telus kemana? Abi tidak pelnah beltemu dengan Mama. Apa jangan-jangan Mama tidak sayang pada Abi jadi dia meninggalkan Abi?” tanya Abian pada sang ayah.


Alfa diam sebentar saat putranya itu bertanya. Ia bingung harus menjawab pertanyaan Abian dengan kata apa. Faktanya ibu kandung Abian yang tak lain ialah Sesha itu tidak tahu jika bayi yang 9 bulan berada di kandungannya itu masih hidup. Kalau Sesha tahu jika bayinya masih hidup dan sudah tumbuh menjadi bocah yang sangat menggemaskan, Sesha pasti akan sangat sayang pada putranya.


“Abi juga gak tau muka Mama itu sepelti apa.” ucap Abian lagi dengan kedua tangan yang terlipat di bawah dada dan bibir yang mengerucut. “Setidaknya sebelum pelgi, Mama kasih Abi fotonya bial kalau Abi hkangen sama Mama, Abi bisa cium foto Mama! Tapi, Abi tidak punya fotonya juga!”


Alfa kembali diam tak berucap, ia berpikir sejenak. Apakah ini sudah saatnya ia memperlihatkan wajah Sesha pada Abian? Lalu jika Abian malah lanjut bertanya di mana keberadaan Sesha bagaimana? Ia tidak tahu harus menjawab dengan penjelasan yang seperti apa pada Abian karena sampai detik ini ia masih belum berhasil menemukan Sesha.

__ADS_1


Mengatakan jika ibunya pergi entah kemana tanpa jejak? Itu juga tidak mungkin. Abian pasti akan berpikir jika Sesha tak menyayanginya karena malah pergi meninggalkannya begitu saja.


Atau berkata dengan jujur kalau ia yang memisahkan Abian dan juga Sesha? Itu lebih tidak mungkin, ia enggan dibenci oleh putranya nanti.


“Kenapa Mamanya Abi jahat sekali? Apa dia tidak pelnah kangen sama Abi?” Abian mengerucutkan bibirnya semakin kesal. “Abi benci sama Mama! Lihat saja, kalau nanti dia datang, Abi tidak mau memeluk Mama! Abi sangat malah dengan Mama, Abi benci Mama! Mama jahat!” ucap Abian lagi dengan bibir yang semakin maju. Ia lalu beranjak turun dari sofa yang sejak tadi ia duduki dan berlari ke arah kamarnya.


Alfa yang mendengar Abian berucap dan juga berlari kabur itu sontak merasa tak tega. Ia juga jadi merasa bersalah karena kini Abian malah seolah membenci Sesha, padahal faktanya Sesha sama sekali tidak bersalah.


“Tidak ... aku tidak mau Abian membenci ibunya, Abian tidak boleh sampai benci pada Sesha.” Alfa lantas langsung beranjak dari duduknya, ia berjalan masuk ke kamar Abian dan dilihatnya jagoan kecilnya itu sedang terbaring tengkurap di atas ranjang. “Abi ... Mama tidak seperti yang Abi pikirkan, Mama orang yang baik,” ucap Alfa yang kini sudah terduduk di tepi ranjang.


Alfa memejamkan mata sebentar, kemudian akhirnya berucap dengan mantap. “Abi ingin melihat wajah Mama? Papa punya fotonya.” ucap Alfa.


Abian sontak langsung beranjak dari posisinya dan duduk bersila menghadap sang Ayah. “Papa punya foto Mama?” tanya Abian terlihat sangat antusias.


Alfa tersenyum dan mengangguk, ia mengambil dompet dalam saku celananya hendak memperlihatkan foto Sesha pada Abian. Ia rasa ini sudah waktunya untuk ia memperlihatkan wajah Sesha pada Abian. Entah apa yang akan ia katakan jika nanti Abian malah bertanya kenapa sang ibu pergi dan bertanya juga dimana kini keberadaannya.


Yang jelas, untuk saat ini ia hanya ingin mengatakan pada Abian jika Sesha bukan ibu yang buruk dan Alfa tak ingin nantinya Abian membenci Sesha. Ia akan berusaha mengatakan kata-kata yang nantinya membuat Abian tidak berpikir jelek tentang Sesha. Ia akan mengatakan pada Abian jika ibunya cantik, bukan hanya cantik wajah tapi juga cantik hati.

__ADS_1


Abian kini terlihat sangat bersemangat sudah tak sabar ingin melihat wajah ibunya. Alfa lalu membuka dompetnya dan mengambil foto yang terselip di sana dan memberikannya pada Abian.


“Ini Mama yang melahirkan Abian, namanya Mama Sesha,” ucap Alfa, “Mama cantik, kan?” tanya Alfa seraya tersenyum.


Abian melihat foto yang kini sudah berada di tangannya, ia malah mengerutkan alis setelah melihat foto itu karena tidak asing dengan foto yang sedang dia pegang itu.


Melihat ekspresi wajah Abian yang terlihat aneh, membuat Alfa mengernyitkan dahi. “Kenapa? Mama cantik, kan?”


“Ini Mama?” tanya Abian menatap sang ayah.


“Iya, itu Mama,” jawab Alfa.


Abian mendengus dan memberikan foto itu pada sang ayah dengan sangat kasar, kemudian merapatkan kedua tangannya di bawah dada lagi. “Papa sedang mengeljai Abi, ya? Jelas-jelas itu Ibu Sasa, kenapa Papa malah kasih foto Ibu Sasa? Abi mau lihat foto Mama, bukan Ibu Sasa!”


“Hah? I–Ibu ... Sasa?” tanya Alfa dengan dahi yang mengernyit.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2