Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Bab 20. Menjalankan Rencana Part 2


__ADS_3

“Bagaimana? Ibu tertarik?” tanya Lita menatap Ika dengan senyuman.


“Saya boleh melihat surat perjanjiannya? Saya mau tahu, benar tidak isinya sesuai dengan yang tadi Mbaknya katakan. Kan saya harus jaga-jaga,” ucap Ika.


“Tentu saja boleh.” jawab Lita, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas di dalam tas yang salah satunya sudah ia dan Sesha siapkan sejak semalam. Kemudian memberikan lembaran kertas itu pada Ika.


Ika membaca dengan seksama lembaran kertas itu, isinya sama persis seperti yang di katakan Lita tadi.


“Bagaimana? Yang saya katakan benar, kan? Bunganya hanya 1 persen per 5 juta rupiah. Tidak akan ada tambahan biaya jika telat membayar,” ucap Lita lagi, “Gak ada lho, Bu, pinjaman yang seperti kita ini, di tempat lain telat satu hari saja sudah ada tambahan bunga sekian persen. Cuma di kita doang yang gak ada bunganya walau telat,” ucap Lita lagi berusaha meyakinkan Ika.


Ika tersenyum dan begitu sangat tertarik. Ia memang begitu suka jika berhubungan dengan uang.


“Ini saya beneran bisa pinjam 20 juta? Cairnya kapan?” tanya Ika menatap Lita dengan sangat serius.


“Hari ini juga uangnya bisa langsung cair, Bu. Kami bisa memberikan uangnya detik ini juga, mau cash atau transfer juga bisa kok.”


Senyum Ika begitu sangat merekah. “Memang uangnya dibawa, Mbak?”


“Tentu saja,” jawab Lita, ia lalu menoleh menatap Sesha, memberi isyarat agar Sesha membuka tasnya.


Sesha langsung membuka tas yang sejak tadi dia pegang itu dan memperlihatkannya pada Ika. Mata Ika dengan seketika berbinar saat melihat lembaran uang seratus ribuan di dalam tas.


“Kebetulan ini ada sekitar 20 juta, Bu,” ucap Lita


“Oke kalau begitu saya mau, Mbak. Saya mau yang cash jangan di transfer. Ini saya harus tanda tangan di sini, kan? Mana pulpennya, saya tanda tangani sekarang juga,” ucap Ika.


Sesha dan Lita sontak langsung beradu pandang dan saling mengulurkan senyum. Walau wajah Sesha tertutup kain, tapi sorot matanya begitu sangat jelas jika ia tersenyum cukup puas.


“Sebentar, Bu. Sabar ... saya kan harus catat dulu jumlah uang yang akan di pinjam dan isi-isi data dulu. KTP-nya mana, Bu? Biar saya bisa catat datanya” ucap Lita.


“Sebentar Mbak saya ambil dulu,” jawab Ika. Ia berjalan ke arah kamar untuk mengambil KTP dan tak berselang lama ia kembali lagi dan memberikannya pada Lita.


“Hmmm ... Bu? Sebentar deh, ini boleh gak saya minta air minum? Tenggorokan saya agak seret, capek habis jalan kesana-kemari terus banyak ngomong juga jelasin sistem pinjaman kami pada yang lain.”


“Aaahh ... saya sampe lupa tawarin kalian minum saking senengnya. Ya sudah sebentar ya, saya ambilin dulu minumnya.” Ika langsung beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah dapur.


Lita yang melihat Ika sudah berjalan pergi itu langsung menatap Sesha. “Kamu siap-siap, setelah ini kamu yang beraksi. Nanti aku coba alihin dia, nah kamu langsung mulai aksi kamu. Oke?”


“Oke!” jawab Sesha seraya mengarahkan jari telunjuk dan jari jempolnya yang menyatu hingga terlihat seperti huruf O.


Tak berselang lama kemudian, Ika kembali datang lagi seraya membawa nampan berisi 2 gelas air putih, lalu menaruhnya di atas meja.

__ADS_1


“Ini, Mbak. Maaf ya cuma ada air putih saja,” ucap Ika.


“Gak pa-pa, Bu.”


“Ya sudah di minum, Mbak.”


“Iya sebentar, Bu. Ini nanggung, saya konfirmasi dulu jumlah uang yang akan ibu pinjam dan datanya sesuai atau tidak, agar tidak terjadi kesalahan nantinya.” Lita mendekati Ika dan memperlihatkan lembaran kertas yang sedang ia pegang pada Ika.


Lembaran kertas itu sengaja ia angkat sedikit untuk menutupi gelas di atas meja.


“Ini betul segini kan ya, Bu, jumlahnya. 20 juta rupiah dan ini bunganya sebelah sini. Data nama asli Bu Ika juga ini, Ika Sulastri? Sudah benar kan, ya?” tanya Lita. Ia sedang berusaha mengalihkan pandangan Ika agar tak melihat ke arah yang lain.


Mata Ika tertuju pada lembaran kertas yang Lita pegang. Saat Mata Ika fokus ke arah kertas, Sesha mulai melancarkan aksinya. Ia mengambil bubuk obat tidur yang tadi Lita beli dari temannya, ia memasukkannya ke dalam satu gelas yang berada di atas meja.


Mata Lita sesekali melirik ke arah gelas, agar ia tahu gelas mana yang Sesha taburi obat tidur.


“Iya, Mbak. Sudah betul ini,” ucap Ika.


Sesha segera menarik tangannya setelah berhasil memasukkan obat itu ke dalam satu gelas. Lita yang melihat Sesha sudah berhasil itu kembali terduduk lagi di sofa. “Oke, sebentar ya, Bu, saya minum dulu. Haus banget soalnya, mana tadi di luar panas banget. Saya gak tahan sama panasnya,” ucap Lita


Ia engambil gelas miliknya kemudian langsung meneguknya.


“Hm? Aneh bagaimana?” tanya Ika, “Itu air putih biasa kok.”


“Ibu coba deh, rasanya agak aneh.”


“Sebentar saya ambil dulu ke belakang.”


“Ada minuman di sini kenapa harus ambil ke belakang, Bu?” Lita berusaha melarang.


“Tapi itu buat Mbaknya yang cadaran,” jawab Ika.


“Minum saja, Bu. Temen saya gak terbiasa minum di rumah orang karena ribet katanya, dia kan pake cadar. Jadi agak malu kalau minum di rumah orang. Daripada nanti airnya ke buang kan mubazir.”


“Aaahh begitu? Ya sudah saya coba rasain minuman yang ini deh.” ucap Ika. Ia lalu mengambil gelas di atas meja dan meneguknya dalam sekali teguk.


Sesha dan Lita yang melihatnya begitu sangat senang karena air itu berhasil Ika minum.


“Iya juga, ya? Kok agak aneh rasanya,” jawab Ika.


“Nah kan, apa saya bilang. Besok-besok beli yang agak bagusan deh Bu air isi ulangnya, kan bentar lagi punya uang banyak,” ucap Lita seraya tersenyum.

__ADS_1


“Mbaknya bisa saja,” jawab Ika tersenyum malu.


“Ya sudah sebentar saya catat dulu ya, Bu. Nanti baru Ibu tanda tangani,” ucap Lita.


Ika tak menjawab, ia hanya memberikan anggukan kepala pada Lita. Sedangkan Lita, ia terduduk di atas lantai dan berpura-pura menulis di lembaran kertas yang tadi ia perlihatkan pada Ika. Matanya berkali-kali melihat ke arah Ika menunggu obat itu segera bereaksi. Bukan hanya Lita tetapi juga Sesha, ia begitu sangat menunggu obat yang ia berikan secara diam-diam pada ibu tirinya itu segera bereaksi.


Tak berselang lama kemudian, obat itu akhirnya mulai bereaksi. Beberapa kali Lita dan Sesha melihat Ika yang sudah mengedipkan mata berkali-kali dan berusaha membukanya tetapi matanya itu semakin terasa berat ingin sekali terpejam.


“Aduh, ngantuk banget saya,” ucap Ika.


“Efek mau punya uang banyak tuh, Bu. Sebentar, saya hitung dulu uangnya. Ibunya mau cash kan, ya?”


“Iya, saya mau cash, Mbak.”


Lita menatap Sesha, meminta Sesha untuk mengeluarkan uang yang sudah diambil tadi pagi.


Sesha lantas langsung mengeluarkan uang yang ia dapatkan dari cara yang haram. Selama ini ia begitu sangat bingung harus menggunakan uang itu untuk apa dan sekarang, akhirnya ia pergunakan uang itu untuk menipu Ika. Tidak peduli jika nantinya uang itu tak kembali lagi padanya, toh ia juga enggan memakainya. Yang penting rumah yang kini ia pijaki akan kembali lagi ke tangannya.


Lita mengeluarkan uang yang berada di dalam tas itu dan menaruhnya di atas meja. “Ini uangnya dan ini surat yang harus ibu tandatangani.”


Ika mengambil pulpen dan siap menandatangani surat itu. “Aduh saya ngantuk parah ini, Mbak. Sebelah mana ini?” tanya Ika dengan mata yang sudah tak jelas pandangannya karena begitu sangat mengantuk.


“Di sini.” Lita mengarahkan tangan Ika untuk menandatangani surat itu. Saat dirasa yakin jika Ika sudah tak begitu awas matanya. Lita memberikan surat lain pada Ika yang ia taruh di paling bawah tumpukan kertas yang sejak tadi ia pegang. Kemudian menaruhnya di atas kertas yang tadi Ika tanda tangani. “Terus di sini, Bu. Satu lagi,” ucap Lita.


Dahi Ika mengernyit, matanya setengah terbuka dan pandangan semakin tak jelas. Lita dan Sesha nampak sangat was-was dan takut jika Ika akan menyadari kalau surat yang kini berada di atas meja itu bukanlah surat perjanjian pinjam-meminjam uang tetapi surat yang harus ditandatangani untuk kepentingan pemindahan kepemilikan rumah.


Tanpa ragu, Ika mulai menandatangani kertas yang tertempel materai itu. “Ada lagi?”


Lita langsung mengambil surat itu, ia begitu sangat puas karena rencananya dan juga Sesha akhirnya berhasil. “Sudah, Bu, hanya ini saja,” ucap Lita, “Karena semua sudah selesai, suratnya sudah ditandatangani dan uangnya juga sudah kami berikan. Kami permisi, Bu. Mau keliling lagi,” pamit Lita.


"Iya, Mbak. Hati-hati ya …."


Setelah berpamitan, Lita dan juga Sesha keluar dari rumah itu. Sedangkan Ika, dengan mata yang sayu ia mengambil uang di atas meja dan membawanya ke kamar. Ia memasukkan uang itu ke dalam lemari dan menguncinya, kemudian langsung terbaring di atas ranjang karena begitu sangat mengantuk dan tak tahan lagi ingin tidur.


Sesha dan Lita yang kini sudah berada di atas motor dan sudah melaju jauh berada di jalan raya itu berteriak kegirangan.


“YEEEEE ... KITA BERHASIL ....”


Lita yang mengendarai motor itu tersenyum saat melihat Sesha dalam pantulan kaca spion motor itu terlihat kegirangan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2