
“Dia tinggal di rumah kost ini? Kamu yakin?” tanya Alfa melihat rumah yang berada di seberang jalan dimana mobilnya kini terparkir.
“Iya, aku sangat yakin dia tinggal di sini. Aku berhasil mendapatkan informasinya dari Pak David.” Ucap Daffa, ia akhirnya berhasil mendapatkan informasi dari Pak David setelah mengancam tidak akan pernah melakukan kerjasama antar perusahaan. Akhirnya Pak David mau memberikan informasinya asal Daffa mau menutup mulut jika tahu informasi itu darinya. “Aku juga mengikuti Lita dari pabriknya bekerja sampai ke tempat tinggal dia yaitu di sini. Dan ternyata benar dugaanku kalau dia berbohong. Alamat yang Pak David katakan ternyata yang rumah ini. Keyakinanku semakin kuat saat melihat mereka keluar bersama untuk mencari makan.”
Alfa tak menjawab, matanya terus melihat ke arah pintu pagar yang tingginya sekitar 2 meter di seberang jalan dimana mobilnya kini terparkir.
“Terus setelah ini, bagaimana rencanamu selanjutnya?” tanya Daffa lagi.
Alfa tak menjawab saat matanya susah lebih dulu menangkap Sesha yang keluar dari pintu pagar itu. Ia lantas langsung keluar dari mobilnya dan langsung berlari menghampiri Sesha.
Sesha yang melihat Alfa berada di depan matanya itu terbelalak kaget. Matanya terbuka sempurna, ia hendak kabur melarikan diri dan segera masuk, tetapi tangan Alfa sudah lebih dulu memegang pergelangan tangannya.
“Ka–kamu ... mau apa?” tanya Sesha gelagapan.
“Katakan dengan jujur padaku, siapa ayah dari anak yang sedang kamu kandung itu? Apa dia anakku?” tanya Alfa to the point.
Saliva Sesha tertahan di tenggorokan, jantungnya mulai berdegup kencang saat melihat sorot mata Alfa yang terlihat begitu tajam. Alfa juga memegang pergelangan tangannya cukup kuat hingga terasa sedikit nyeri. Ia yang takut itu dengan refleks berkata, “A–aku tidak tahu siapa ayahnya! Kamu tahu sendiri kalau aku ini wanita malam, ada banyak pria yang tidur denganku.”
“Apa?”
Sesha melepas tangan Alfa sekuat tenaga hingga akhirnya terlepas, kemudian dia langsung berbalik dan masuk meninggalkan Alfa. “Pergi dan jangan ganggu aku!” ucap Sesha setelah mengunci pintu pagar itu. Kemudian berbalik dan masuk meninggalkan Alfa begitu saja.
Alfa membuang napas dengan sangat kasar. Dirasa akan percuma juga dia memanggil karena Sesha pasti enggan menjawab, ia lantas langsung kembali ke mobilnya lagi.
Tap tap tap.
Klak!
“Bagaimana?” tanya Daffa.
“Dia bilang itu bukan anakku dan dia juga tidak tahu siapa ayahnya karena dia sudah tidur dengan banyak pria,” jawab Alfa.
“Pffftt ....” Daffa tertawa pelan hingga membuat Alfa yang melihatnya mengerutkan alis.
__ADS_1
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Alfa dengan nada yang ketus.
“Kamu percaya dengan ucapan dia?” tanya Daffa.
Alfa tak menjawab.
“Dia mengatakan omong kosong seperti itu karena takut padamu! Kamu datang seperti orang yang akan menculik kemudian membunuh. Terlihat jelas raut wajahnya terlihat ketakutan, jadi dia langsung berucap begitu saja. Lagi pula memangnya kamu yakin kalau dia betulan tidur dengan banyak pria? Marcel mengatakan jika dia menjual diri hanya satu kali, itu pun terpaksa karena ibunya.”
Alfa menghembuskan napasnya dengan sangat kasar. “Aku juga merasa dia memang sedang berbohong,” ucap Alfa.
“Terus apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanya Daffa.
“Minta orang untuk mengawasi dia sampai nanti dia melahirkan. Lalu lakukan tes DNA,” sahut Alfa.
“Oke,” jawab Daffa.
***
1 Minggu kemudian.
Kini ia sedang berjalan sendirian untuk mencari makan siangnya. Ia sedang malas memasak dan malas memesan di aplikasi juga karena terkadang rasanya tak sesuai dengan selera lidahnya. Saat ini ia sedang menginginkan makanan warteg di depan jalan raya.
“Makasih ya, Bu.” ucap Sesha tersenyum ramah, ia lantas langsung keluar dan berjalan lagi hendak kembali ke rumah kostnya.
Namun, baru beberapa langkah ia melangkahkan kaki. Sebuah motor dari belakang tiba-tiba saja melaju dengan kecepatan tinggi.
Brak!
“Astaghfirullahaladzim ... aaauuwwhh ....” ucap Sesha saat tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangannya menghindari motor tadi, hingga ia dan pria itu terjatuh.
Mata Sesha tertuju pada pria yang membawa motor tadi, pria itu menoleh melihat ke arah Sesha dan membuka sedikit kaca helmnya.
Sesha begitu terbelalak kaget, ia ingin salah melihat akan siapa orang yang berniat jahat padanya itu, tapi faktanya wajah pria itu terlihat jelas di matanya.
__ADS_1
“Kakak ...,” gumam Sesha. Ia ingin beranjak dari posisinya untuk menghampiri motor itu, namun motor yang menabraknya itu sudah lebih dulu melaju dan melarikan diri saat melihat orang-orang yang berada di sekitaran sana itu berlarian menghampiri Sesha.
Sedetik kemudian, rasa nyeri di perutnya begitu sangat terasa hingga ia tak bisa berdiri sama sekali. “Ssshh ... aauuwwhh ....”
“Anda tidak apa-apa?” tanya Pria yang menolong Sesha.
“Perut saya ... sakit!” Rasa nyeri di perutnya semakin begitu terasa. “Auuwwhh ... sakit! Tolong ....”
Pria yang menolong Sesha itu berucap meminta bantuan hingga beberapa orang yang tadi menonton itu langsung membantu dengan mengangkat tubuh Sesha dan langsung membawanya masuk ke dalam mobil si pria yang menolong.
Sesha langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat agar segera menerima penanganan.
***
“Kenapa kau begitu sangat tidak becus! Menjaga seorang wanita saja tidak bisa!” pekik Alfa begitu sangat kesal. Api amarah terlihat sangat jelas di matanya. Wajahnya juga memerah karena begitu sangat marah.
“Saya mengawasinya dari jauh, Tuan. Jadi sedikit agak terlambat saat menyelamatkan dia, kan Tuan sendiri yang meminta saya menjaga jarak agar tidak ketahuan,” jawab pria yang tadi menolong Sesha.
Ya, pria itu adalah orang suruhan Alfa yang sejak beberapa hari lalu memang selalu mengawasi Sesha dan mengikuti kemana pun Sesha melangkah. Sejak tadi ia sudah mencurigai gelagat orang yang membawa sepeda motor, pria itu terlihat mengawasi Sesha dari kejauhan dan saat Sesha berjalan pelan, pria itu langsung mengemudikan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Rendi si pria yang diminta Alfa untuk mengawasi Sesha itu dengan cekatan langsung keluar dari mobilnya saat motor itu melaju. Sayang dia telat beberapa detik untuk menarik tubuh Sesha, hingga akhirnya ia terlalu kuat menarik tubuh Sesha dan mereka terjatuh bersama.
“Menjawab saja kerjamu!” pekik Alfa.
“Sabar, aku yakin Sesha dan bayinya pasti akan baik-baik saja,” jawab Daffa.
“Sabar katamu? Bayi yang kemungkinan adalah bayiku itu sekarang tidak tahu bagaimana keadaannya. Bagaimana kalau dia tiada, huh? Aku tidak bisa sabar!”
Daffa tak lagi menjawab ucapan Alfa.
“Tapi, Tuan. Pria bermotor itu, saya yakin dia punya dendam pada nona Sesha. Karena dia sudah memperhatikan nona Sesha dari kejauhan dan sengaja ingin menabrak nona Sesha.”
“Cari tahu siapa dia! Akan kupatahkan lehernya dengan tanganku sendiri,” ucap Alfa begitu sangat murka.
__ADS_1
Daffa diam tak berucap, seumur hidup baru kali ini ia melihat Alfa yang semarah itu.
Bersambung