Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Chapter. 45


__ADS_3

Alfa sedikit menundukkan kepalanya pada Abian yang terduduk di samping kanannya sedang menikmati sarapan paginya di meja makan. Hanya tinggal mereka berdua di sana karena yang lain sudah pergi untuk melakukan aktivitas masing-masing. Sedangkan Sesha tengah berada di dapur mencuci beberapa piring yang kotor sebelum akhirnya nanti mengantarkan Abian ke sekolahnya.


“Abi?” panggil Alfa dengan nada suara yang pelan berbisik. Matanya juga beberapa kali melihat punggung Sesha yang sedang sibuk.


“Iya?” jawab Abian ikut berbisik juga walau tak mengerti, “Kenapa Papa bisik-bisik?” tanya Abian.


“Papa mau tanya, semalam Ibu Sasa tidur dengan Abi, kan? Dia lepas kerudungnya enggak?” tanya Alfa. Semalam ia sengaja meminta Sesha untuk menemani Abian tidur, agar ia bisa tahu kecurigaannya itu benar atau tidak.


Abian yang mendapatkan pertanyaan dari sang ayah itu memberikan anggukan kepala hingga membuat Alfa yang melihatnya tersenyum bahagia. Itu artinya ia akan segera itu, wanita yang ia kenal sebagai Sasa yang menjadi Ibu asuh Abian itu betul Sesha seperti dugaannya atau bukan.


“Kenapa memangnya?” tanya Abian.


Seulas senyum terlihat di bibir Alfa, ia menggelengkan kepalanya seraya mengelus kepala Abian. “Enggak, bukan apa-apa,” jawab Alfa.


“Abi sudah selesai sarapannya?” tanya Sesha tiba-tiba, “Kita berangkat sekarang, Nak.”


“Sudah, Ibu Sasa. Ayo ...,” jawab Abian beranjak turun dari kursinya dan memakai tas sekolahnya, lalu menatap sang ayah. “Ayo, Paa ....”


“Abian di antar Mang Diman saja ya, Papa sedang tidak enak badan,” jawab Alfa.

__ADS_1


Sesha yang baru saja memasukkan lunch box milik Abian ke dalam tas khusus bekal itu pandangannya sontak langsung menatap Alfa. “Anda sedang sakit, Tuan? Kenapa? Demam? Pusing? Mual? Atau kenapa? Mau saya antar ke klinik atau rumah sakit untuk periksa?” tanya Sesha khawatir.


Dahi Alfa mengernyit saat Sesha terlihat mengkhawatirkannya.


“Nanti setelah antar Abian ke sekolahnya saya antar ke rumah sakit saja bagaimana?” tawar Sesha.


“Hah? Ti–tidak … tidak usah, ini hanya sedikit pusing. Aku akan beristirahat dengan tidur, nanti siang pasti sudah membaik.” ucap Alfa tersenyum canggung, ia hanya mengatakan omong kosong belaka jika sedang tidak enak badan karena ingin tetap berada di rumah agar bisa mengambil kamera yang ia taruh di kamar Abian dan ingin segera melihatnya.


Tetapi, saat melihat Ibu asuh Abian yang terlihat mencemaskannya itu, entah mengapa malah membuat hatinya senang.


“Yakin tidak apa-apa?” tanya Sesha.


Alfa tersenyum dan memberikan anggukan kepala. “Iya, hanya butuh istirahat sebentar dan nanti pasti akan segera membaik,” jawab Alfa.


Abian meraih telapak tangan Sesha setelah berpamitan pada sang ayah. Sedangkan Alfa, ia beranjak dari duduknya setelah Sesha dan Abian pergi.


Setelah memastikan mobil yang membawa Sesha dan Abian pergi, Alfa langsung berjalan cepat ke arah kamar Abian untuk segera mengambil kamera mini yang ia taruh secara tersembunyi kemarin.


Kamera mini itu kini sudah berada di tangannya, Alfa lalu berjalan ke arah ruang kerjanya dan menguncinya rapat, lantas siap untuk melihat rekaman videonya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Alfa sudah terduduk di kursi kerjanya dengan mata yang menatap lurus fokus pada layar monitor di depan matanya.


Alfa mempercepat durasi rekaman video itu sampai akhirnya, di menit-menit selanjutnya, terlihat Sesha yang masuk ke dalam kamar Abian. Mata Alfa menatap fokus layar kotak yang berada di atas meja kerjanya itu.


Hingga akhirnya, matanya terbuka sempurna dan terbelalak kaget saat wanita bercadar yang ia kenal dengan nama Sasa itu membuka cadar dan juga kerudung yang selama 5 tahun ini menutupi wajah dan juga kepalanya.


“Dia ... betulan Sesha?” gumam Alfa masih dengan wajah yang terlihat kaget, “Ternyata selama ini Sesha berada di rumah ini? Dia tinggal bersama denganku dan aku tidak menyadarinya?”


Alfa duduk bersandar pada kursi kerjanya dengan lemas, pandangannya masih melihat ke arah layar yang masih memperlihatkan video yang terputar. Kini terlihat Sesha yang sedang berbaring menyamping di atas ranjang seraya menepuk lengan Abian, kemudian mengecup kepala Abian sampai akhirnya tertidur.


“Pantas saja aku cari tidak pernah ketemu dan selalu nihil, ternyata dia berada di rumahku dan selalu berada di sampingku! Mau aku cari sampai ke ujung dunia pun ya pasti tidak akan pernah ketemu kalau orang yang aku cari ternyata ada di rumahku sendiri.”


Sudut bibir Alfa terangkat, ia tersenyum miring karena merasa dunia terlalu sempit untuknya dan juga Sesha. Alfa pikir kalau ia tak akan pernah bertemu lagi dengan Sesha karena selalu nihil saat mencari keberadaan Sesha.


Bahkan orang dengan keahlian pandai mencari orang pun gagal menemukan Sesha dan ternyata? Selama 5 tahun ini ternyata Sesha berada di dekatnya?


“Dulu aku mati-matian mencari Sesha untuk Abian dan ternyata? Dia datang sendiri ke rumah ini untuk Abian? Jadi selama ini anakku diasuh dan dibesarkan oleh ibunya sendiri? Huuuhhh ... Abian pasti akan sangat senang jika tahu kalau wanita yang selama ini mengasuhnya adalah Mamanya,” gumam Alfa.


Menit selanjutnya, Alfa menatap lurus mulai berpikir tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

__ADS_1


Terima kasih sudah baca sampe bab ini guysss, jangan lupa like dan komen biar aku semangat nulisnya yaaaa, heheeee


Bersambung


__ADS_2