Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Chapter. 33


__ADS_3

“Kamu serius ingin bekerja di sana?” tanya Lita.


Ia menatap Sesha dengan tatapan yang kaget setelah mendengar Sesha yang bercerita jika tadi ia melamar sebagai ibu susu seorang bayi yang ternyata ayahnya adalah Alfa, ayah dari bayinya juga.


“Bukannya aku tidak setuju kamu kerja di luar, aku tidak masalah dan akan senang-senang saja, tapi masalahnya ayah bayi itu si pria brengsek, Sha! Belum lagi barusan kamu bilang kalau kakak tiri kamu yang bikin kamu kehilangan anak kerja di sana juga, kan? Apa gak bahaya? Bagaimana kalau nanti dia nyelakain kamu lagi, Sha.”


“Aku kan pakai cadar, Ta. In Sya Allah aman, tidak akan ketahuan,” ucap Sesha yang kini sedang merapikan baju-bajunya di dalam lemari dan memasukkannya ke dalam koper, “Jujur saja, entah kenapa aku tuh kek sayang banget sama bayi itu. Apa karena dia satu darah dengan anakku yang sudah tiada? Ehh ... tapi gak nyambung ya? Aaahh ... entahlah! Pokoknya aku sayang banget sama dia, aku tuh merasa kalau aku tenang banget pas gendong dia. Apalagi kalau dia lagi nyusu, ada perasaan yang gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Entah karena itu naluri keibuan aku mulai keluar, atau mungkin karena aku menjadikan bayi itu sebagai obat karena baru saja kehilangan anak. Pokoknya aku merasa kalau aku ingin bersama dengan dia,” ucap Sesha lagi.


“Huuuhhh!” Lita membuang napas dengan sangat kasar, “Ya sudah, kalau kamu maunya begitu terserah kamu. Aku pasti akan selalu mendukung kamu,” ucap Lita, “Tapi ... bagaimana dengan aku?” tanya Lita.


Sesha sontak langsung menoleh menatap Lita yang sedang duduk bersila di atas ranjang. Ia lantas langsung mendekati Lita dan duduk di samping Lita. “Kan ada bisnis katering, kamu bisa meneruskan pekerjaan itu. Nama kita kan sudah mulai diketahui banyak orang. Gak perlu ke sana ke sini nyari konsumen, yang pesan selalu ada aja, kan? Kamu terusin aja, aku yakin kalau di seriusin pasti hasilnya makin lumayan kok. Asal, kamu okein kualitasnya, jangan bikin kecewa pelanggan. Biar nanti mereka cerita dari satu mulut ke mulut yang lain kalau rasa dari masakan kamu itu enak, jadi tanpa harus dicari pun nanti konsumen akan datang sendiri.”


Lita tersenyum dan memberikan anggukan kepala.


“Nanti, dua Minggu sekali aku datang ke rumah kontrakan baru yang kemarin kita cari bareng-bareng. Siapa tau aja nanti kamu kangen kan sama aku,” ucap Sesha seraya tersenyum.


“Bener, ya? Awas aja kalau enggak!”


Kali ini Sesha yang memberikan anggukan kepala pada Lita. “Iya, terus ini ... besok kamu jadi pindah juga kan?”


“Jadi, aku udah beres-beres kok, besok aku pindahan di bantuin Dinda,” ucap Lita.


“Ya udah, semangat!” ucap Sesha seraya mengarahkan kepalan tangan memberikan semangat pada Lita.


“Semangat!” jawab Lita.


Setelah berbincang dengan Lita dan sudah membereskan semua barang-barangnya, Sesha lantas langsung segera pergi ke kediaman rumah Alfa. Entah mengapa dia merasa sudah sangat tidak sabar untuk segera kembali ke rumah itu.


Bukan tidak sabar karena mempunyai pekerjaan baru atau tinggal di rumah yang mewah. Tetapi sudah tidak sabar ingin kembali menggendong baby Abi. Padahal baru hari ini ia mengenalnya tapi seperti sudah sangat lama.

__ADS_1


Dan baru beberapa jam juga ia tinggalkan bayi mungil itu, tapi rasanya seolah terlalu lama dan Sesha begitu sangat merindukannya.


Kurang dari 30 menit, mobil taksi online dimana Sesha berada itu terhenti, Sesha lantas langsung keluar dari mobil itu dan berjalan ke arah pintu pagar.


Sebelum ia menekan bel, pintu pagar itu sudah lebih dulu terbuka dan Rafa berdiri depannya.


“Kenapa lama sekali? Sejak tadi Tuan dan Nyonya besar bolak-balik menunggu kamu,” ucap Rafa.


“Hm?” Dahi Sesha mengernyit, “Kenapa?”


“Baby Abi sejak tadi menangis, ayo cepetan masuk.” Rafa mengambil alih koper yang sedang Sesha pegang. Kemudian setelah itu Sesha langsung masuk.


“Akhirnya kamu datang juga!” sahut Mama Mila, “Cepetan masuk, anak har– maksudnya bayi itu menangis lagi!” ucap Mama Mila.


Sesha lantas langsung berjalan ke arah kamar baby Abi dan terdengar suara nyaring dari dalam sana. Dilihatnya Alfa yang tengah menggendong baby Abi seraya menepuk pelan punggungnya berusaha menenangkan.


“Dari mana saja kamu, huh? Kenapa lama sekali?” tanya Alfa saat melihat Sesha yang baru saja datang.


“Sudah! Tidak perlu memarahi dia! Berikan bayinya pada Sasa, biar dia yang memenangkan!” sahut Mama Mila.


“Biar saya gendong, Tuan.” Ucap Sesha. Ia lantas langsung mengambil alih Baby Abi dari gendongan Alfa.


Dan dalam sekejap, perlahan tangisan Baby Abi memelan dan mulai tenang saat Sesha menimang bayi itu.


“Kaaaan ... apa Mama bilang, anak ini cocok dengan Sasa! Mempekerjakan Sasa di rumah ini adalah keputusan yang tepat!” ucap Mama Mila.


Alfa dibuat takjub dan terkesan dengan apa yang dilakukan Sesha. Padahal sejak tadi ia pun melakukan cara yang sama seperti yang Sesha lakukan dengan menimang-nimang baby Abi, tapi tetap saja menangis. Tapi kenapa saat berada di dalam gendongan wanita yang Alfa tak tahu itu siapa malah langsung jauh lebih tenang?


‘Kok bisa, ya?’ batin Alfa berucap.

__ADS_1


Sesha menatap Alfa. “Hmmm ... Tuan bisa keluar sebentar? Saya akan coba menyusuinya lagi, sepertinya baby Abi lapar.” Ucap Sesha pada Alfa, kemudian melihat ke arah baby Abi yang terlihat sedang mencari sumber kehidupannya di dada Sesha.


Tanpa menjawab ucapan Sesha, Alfa langsung keluar dari kamar. Sedangkan Sesha, ia terduduk di sofa dekat balkon dan kembali menyusui baby Abi lagi.


Sesha tersenyum saat bayi mungil itu menghisap ASI-nya cukup kuat. Ada sedikit rasa kasihan saat Sesha menatap baby Abi. Bayi sekecil itu sudah kehilangan ibunya, kemudian juga sering di katai oleh neneknya dengan kata anak haram.


‘Padahal kan tidak ada anak yang terlahir haram, semua bayi itu bersih dan suci! Kenapa malah dikatai anak haram?’ Saat mengingat Mama Mila mengatakan Baby Abi sebagai anak haram, entah mengapa Sesha merasa tidak terima dan selalu ingin marah, tetapi dia tidak berani untuk marah.


Sesha menatap Baby Abi yang tengah menatapnya. “Kenapa melihatku seperti itu? Kamu penasaran dengan wajah ibu susumu ini?” tanya Sesha dengan nada suara yang pelan. “Oke, aku perlihatkan ... tapi hanya sebentar saja, oke?”


Sesha melihat ke sekitar, pintu kamar sudah tertutup dengan rapat. Ia lantas membuka cadarnya, kemudian menatap lagi baby Abi.


“Bagaimana? Aku cantik, kan?” tanya Sesha dengan senyuman.


Seolah mengerti, baby Abi malah tersenyum saat Sesha berucap. “Pfftttt … kamu senyum,” gumam Sesha, ia mengecup pipi Baby Abi, kemudian menaruh baby Abi di atas ranjang, lalu setelah itu Sesha kembali memakai cadarnya lagi agar tak ada yang melihat wajahnya.


Baby Abi yang berada di atas ranjang itu kembali merengek. Sesha lantas kembali menggendongnya lagi, ia terduduk di sofa dan menaruh baby Abi di dadanya, lalu menepuk pelan punggung baby Abi. Perlahan mata bayi mungil itu terpejam karena sangat nyaman.


Ceklek.


“Bagaimana? Dia sudah—“


“Sssstttt ....” Sesha meminta Alfa yang baru saja di membuka pintu untuk memelankan suaranya.


“Dia tidur?” tanya Alfa dengan nada suara yang pelan.


Sesha memberikan anggukan kepala.


“Oke, bagus.” Ucap Alfa, “setelah dia tidur, kamu ke ruangan saya.”

__ADS_1


Sesha kembali memberikan anggukan kepala lagi. Sedangkan Alfa, ia yang masih berada di ambang pintu dan melihat Sesha yang telaten mengurusi baby Abi itu terkagum-kagum. Baru kali ini ia terpesona pada seorang wanita padahal baru hitungan jam ia kenal.


Bersambung


__ADS_2