
Alfa keluar dari dalam kamar mandi setelah selesai membersihkan tubuhnya. Ia mengernyitkan dahi saat melihat ranjang yang berantakan tak karuan dan tak terlihat Sesha di sana.
Matanya melihat ke segala arah, berpikir mungkin Sesha sedang berada di balkon kamar. Tetapi ternyata ia tak menemukan Sesha di sana, kamar hotel itu benar-benar kosong dan hanya menyisakan dirinya seorang dirinya.
Matanya lalu beralih melihat ke arah cermin meja rias, terlihat ada coretan dari lipstik di sana.
Terima kasih atas bantuanmu, Tuan. Uang yang kau berikan akan benar-benar akan sangat membantu hidupku. Semoga kita tak pernah bertemu lagi dan lupakan saja apa yang terjadi malam ini.
Sudut bibir kanan Alfa terangkat, ia tersenyum smirk saat membaca pesan yang Sesha tulis di cermin.
“Aku pun berharap begitu,” gumam Alfa, ia lalu memakai jas yang masih berada di atas lantai. “Huuuuhh! Padahal aku berniat ingin memberinya uang tips agar dia tak lagi menjual diri, tetapi dia malah pergi begitu saja. Ya sudah kalau begitu ....” Alfa membuang napas kemudian keluar dari kamar.
Saat sedang berjalan ke arah lift, ia merogoh saku celananya mengambil handphone untuk menghubungi Daffa, agar pria itu segera menjemputnya.
Kurang dari 20 menit, Daffa akhirnya datang untuk menjemput Alfa dan dimenit-menit selanjutnya, Alfa yang sejak tadi menunggu itu akhirnya masuk ke dalam mobil.
“Bagaimana? Enak, kan?” tanya Daffa dengan kedua alis yang naik turun.
Alfa memutar kedua bola matanya malas. “Aku sudah membuktikan kalau aku bukan pria payah seperti yang kamu katakan. Sekarang jalan! Antarkan aku pulang, aku ingin tidur dan beristirahat!” jawab Alfa.
__ADS_1
Daffa tak lagi menjawab ucapan Alfa, dia langsung menekan pedal gas dan melajukan mobil. Siap mengantarkan Alfa pulang ke rumahnya.
***
Pukul 10 malam.
Sesha berjalan masuk ke dalam rumahnya setelah diantarkan oleh Lita.
“DARI MANA SAJA KAMU!” teriak Ika saat melihat keberadaan Sesha yang baru saja sampai, “Kamu tau gak kalau Juragan Basri tadi ngamuk-ngamuk di sini!” pekik Ika lagi, “Kamu pasti belum dapat uangnya, kan? Ya sudah kalau begitu, besok pagi kamu gak usah kerja. Dandan secantik mungkin, pake make up punya Dewi, besok pagi Juragan Basri mau bawa kamu,” ucap Ika lagi.
Kedua tangan Ika terlipat di bawah dada, ia mengangkat dagu, berbicara begitu tegas dan juga angkuh pada Sesha.
“Tadi pagi Dewi sudah Mama minta pergi sementara waktu agar dia terbebas dari Juragan Basri. Juragan Basri juga ternyata setuju untuk menikahi kamu menggantikan posisi Dewi.”
“Mama sudah minta tambahan waktu tiga hari yang lalu, kalau sekarang minta lagi ya gak akan dikasih lah,” jawab Ika.
“Tidak usah meminta waktu,” ucap Sesha akhirnya.
Sudut bibir kanan Ika terangkat, ia menatap Sesha dengan senyum smirk-nya. “Woaaa ... sudah pasrah kamu, ya? Kamu semangat jadi istri Juragan Basri? Iyalah ... Juragan Basri kan banyak duitnya! Nanti jangan lupain Mama ya, kamu harus tetap kirim uang untuk Mama walau sudah menikah dengan dia. Bujuk suami tua bangkamu itu untuk kasih Mama uang.” Ika tertawa pelan setelah berucap.
__ADS_1
Sesha membuang napas saat sang ibu berbicara. “Tidak akan ada pernikahan dan aku juga tidak akan pernah menjadi istri Juragan Basri,” jawab Sesha.
“Maksudnya?” tanya Ika.
Rafa mendekati Sesha. “Kamu berhasil mendapatkan uangnya?” tanya Rafa.
Sesha memberikan anggukan kepala pelan, dia membuka tas yang tersampir di bahunya dan mengambil amplop berukuran medium berwarna putih di dalam tasnya itu. Kemudian memberikannya pada Ika.
“Ini uang 20 jutanya, besok Mama kasih ke Juragan Basri,” ucap Sesha.
Ika langsung mengambil amplop putih itu dan membuka amplop yang Sesha berikan. Matanya terbuka sempurna saat melihat puluhan lembar uang seratus ribuan berada di dalam amplop.
“Kamu dapat uangnya? Dapat darimana?” tanya Rafa.
“Hm? Mmmhh ... a–aku … aku kan tadi udah bilang sama Kakak kalau aku pergi ke rumah temen aku untuk pinjam uang,” ucap Sesha gelagapan. Namun, sebisa mungkin dia bersikap biasa-biasa saja agar Rafa tak mencurigainya.
“Temen kamu yang mana memangnya? Rumahnya di mana? Rumahnya jauh memang? Sampe jam segini kamu baru pulang, tadi kita telfon sekitar jam setengah empat sore kan? Ini sudah jam sepuluh. Memang rumah teman kamu dimana? Bukan teman pabrik, kan? Masa iya teman pabrik punya uang sebanyak itu,” ucap Rafa.
“Ha–hah?” Sesha semakin gelagapan saat Rafa bertanya.
__ADS_1
Ika juga menatap Sesha dengan sangat serius, ia begitu sangat penasaran. Dari mana Sesha bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dalam satu hari. Manusia baik mana yang mau meminjamkan uang 20 juta secara cuma-cuma.
Bersambung