Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Bab 29. Kebohongan


__ADS_3

Lita menepuk pelan punggung Sesha yang sedang terisak di samping makam kecil yang diyakini jika itu adalah makam bayinya. Setelah 1 bulan kemudian, ia baru memberanikan diri datang ke makam itu untuk melihat makam bayinya.


1 bulan yang lalu, setelah ia sadar pasca operasinya, dokter mengatakan jika bayinya tidak bisa di selamatkan dan meninggal.


Walau bayi itu ada bukan atas dasar cinta, tetapi Sesha begitu sangat terpukul. Ia sudah banyak bermimpi menjadi seorang ibu, ia sudah banyak membeli baju-baju bayi untuk bayinya. Sesha sudah sangat tak sabar menyambut bayinya, tapi ternyata bayi itu dinyatakan tiada.


Amarah Sesha memuncak, ia menaruh api kebencian pada Rafa. Pria yang ia yakini telah berusaha menabraknya hingga akhirnya ia merasakan rasa sakit di perutnya dan berpikir jika itulah yang menjadi penyebab bayinya tiada.


Selama 1 bulan ini Sesha hanya mengurung diri di rumah kost-nya dan terus menangis.


“Sabar, dia tabungan kamu, Sha.” ucap Lita masih seraya mengelus punggung Sesha berusaha menenangkan.


Sesha menghentikan isaknya, ia beranjak dari posisinya dan berdiri tegak. “Ayo, kita pulang.”


Lita merangkul pundak Sesha dan mengangguk, kemudian berjalan perlahan pulang ke rumah kost-nya.


Sesampainya di rumah kost, ternyata seorang wanita paruh baya tengah terduduk di teras rumah kost. Dia beranjak dari duduknya saat melihat Sesha dan Lita berjalan masuk.


“Mbak Sesha? Mbak Lita?”


Dahi Sesha dan juga Lita mengerut, lantas langsung mengangguk pelan mengiyakan.


“Iya, dengan siapa?” tanya Lita.


“Saya Dina,” ucapnya seraya mengarahkan telapak tangannya pada Sesha dan juga Lita memperkenalkan diri.


“Ada apa ya, Bu?” tanya Sesha.


“Jadi bulan lalu saya ke rumahnya Bu Kia untuk arisan, nah saya makan makanan yang ada disana dan ternyata enak, kata Bu Kia dia pake catering dari Mbak Sesha sama Mbak Lita. Nah kebetulan bulan ini arisannya ada di rumah saya, kemarin saya minta nomor Mbak Sesha dari Bu Kia, tapi nomornya gak aktif. Jadi saya minta alamatnya saja pada Bu Kia, makanya saya ke sini, saya mau pesan catering makanan untuk hari Minggu ini. Bisa?” tanya Wanita bernama Bu Dina yang usianya sekitar 40 tahunan.


Sesha dan Lita sontak langsung beradu pandang, Lita kemudian menatap Bu Dina. “Untuk sementara waktu kayaknya kita gak bisa deh, temen saya masih berduka karena anaknya baru berpulang. Jadi—”


“Untuk hari minggu kan, Bu? Mau berapa porsi? Makanan apa saya yang mau dihidangkan?” sela Sesha memotong ucapan Lita dan bertanya pada Bu Dina.


“Sha?”


Sesha menatap Lita. “Gak pa-pa, aku sudah lebih baik kok. Lagian mau sampe kapan aku nangis terus? Tidak melakukan apa pun malah bikin aku terus keinget sama anak aku. Jadi mending melakukan sesuatu biar aku bisa lupa dan gak nangis terus,” jawab Sesha.


“Ya tapi kan kamu belum pulih sepenuhnya,” ucap Sesha.


“Kan ada kamu, ada Bu Marni sama Dinda yang bantuin masak,” ucap Sesha.

__ADS_1


“Ya sudah kalau gitu, terserah kamu aja,” ucap Lita.


Sesha kembali menatap Bu Kia lagi dan tersenyum. “Kita bicara di dalam, Bu.”


“Iya, Mbak.”


****


Alfa yang sedang stress dan kebingungan itu melihat ke arah pintu, seorang wanita keluar dari sana, tersenyum canggung pada Alfa, kemudian melangkahkan kaki pergi.


Lalu kembali terdengar lagi suara isakan tangis bayi berumur satu bulan di dalam kamar. Ia lantas langsung masuk ke kamar itu dan melihat sang ibu yang tengah menggendong bayi berumur satu bulan itu.


“Tidak mau juga, Ma?” tanya Alfa pada sang ibu.


Wanita paruh baya itu memberikan bayi dalam gendongannya yang sedang menangis itu ke tangan Alfa.


“Nih! Kamu ayahnya, kan? Jadi kamu yang urus! Mama capek ngadepin dia yang nangis terus! Ini gak mau itu gak mau. Bikin pusing!” ucap Mila. Ibu dari Alfa, dia lalu keluar dari kamar itu dengan raut wajah yang penuh kekesalan.


Sedangkan Alfa, dia berusaha menenangkan bayi itu dengan menggendongnya, menaruh di dada kemudian menepuk pelan punggung si bayi. “Udah dong, Nak. Jangan nangis terus, Papa bingung harus bagaimana,” ucap Alfa berusaha menenangkan.


Selama satu bulan ini, ia begitu sangat stres karena bayi yang dia namai Abian Ghaffi Ardhani atau ia panggil baby Abi itu selalu saja rewel dan tidak pernah mau meminum susu yang ia beli dari toserba.


Diam-diam Alfa meminta Daffa untuk meminta ASI dari tempat itu. Tetapi sayangnya tidak setiap hari Sesha mengirimkannya.


Dan hal itulah yang membuat Alfa kelimpungan bingung harus bagaimana. Ia pikir Baby Abi hanya membutuhkan ASI, tidak peduli sumbernya dari mana yang penting ASI. Tetapi ternyata Baby Abi hanya mau ASI milik Sesha dan tidak mau yang lain.


“Kamu memang ayah yang jahat!” ucap Daffa tiba-tiba berjalan masuk, dia memberikan botol susu pada Alfa.


Alfa lantas langsung memberikan botol susu itu pada Baby Abi dan ternyata, tangis Baby Abi langsung reda dan bayi itu menghisap ASI di dalam botol itu dengan sangat kuat.


“Apa kamu tidak menyadari kalau anakmu itu hanya butuh ibunya, huh? Mau sampai kapan menyiksanya seperti itu?” tanya Daffa.


“Ck!” Alfa berdecak, “Kamu bilang hari ini Sesha tidak kirim ASI-nya karena sibuk, lalu ini? Anakku mau meminumnya. Apa ini dari ibu lain?” Bukannya menjawab ucapan Daffa, Alfa malah bertanya ke hal yang lain.


“Itu punya Sesha!” sahut Daffa dengan mata yang memicing, “Tadi aku terpaksa minta tolong sama Bu Rima untuk menghubungi Sesha dan meminta ASI-nya. Beruntung Sesha akhirnya mau padahal dia sudah mulai menyibukkan diri dengan pesanan kateringnya. Tapi mau sampai kapan kayak begini, huh? Aku malu terus meminta tolong pada Bu Rima dan Bu Rima juga lama-lama pasti segan pada Sesha.”


“Ada uang! Kenapa diambil pusing, huh? Kita beri saja uang yang banyak pada mereka!” sahut Alfa.


“Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan uang Alfa!” pekik Daffa mulai tersulut emosi begitu sangat kesal.


Satu bulan ini Alfa benar-benar menguji kesabarannya.

__ADS_1


Saat setelah keadaan Baby Abi membaik dan sudah diperbolehkan untuk pulang, Alfa langsung membawa Baby Abi pulang ke rumahnya. Lalu setelah itu Daffa mengikuti perintah Alfa dengan meminta dokter mengatakan jika bayi yang dilahirkan oleh Sesha itu meninggal saat dilahirkan.


Daffa begitu sangat tidak tega saat melihat Sesha yang menangis histeris di kamar rawat inapnya.


Sesha tentu bertanya dimana bayinya dan saat itu, Daffa meminta dokter untuk mengatakan jika bayi itu sudah dimakamkan oleh orang yang membawa Sesha ke rumah sakit. Orang yang tak lain ialah orang suruhannya yang selama ini mengawasi Sesha.


Daffa juga meminta orang suruhannya itu untuk mengatakan pada Sesha kalau dia sudah membantu pemakaman bayi yang Sesha lahirkan. Terpaksa tidak meminta persetujuan Sesha lebih dulu karena bayi itu harus segera dimakamkan sedang kondisi Sesha masih belum stabil sepenuhnya.


Dan dengan lugunya, Sesha percaya begitu saja dengan ucapan orang suruhan itu.


Daffa juga meminta orangnya untuk membuat makam palsu yang isinya kosong. Hanya agar Sesha tahu kalau bayinya memang sudah tiada.


Padahal, bayi itu masih hidup dan berada di tangan ayahnya.


Ya! Ayahnya, hasil tes DNA yang Alfa lakukan hasilnya 99% cocok jika mereka memang ayah dan anak.


“Aku yakin Sesha juga bukan wanita gampangan yang mau menerima uang begitu saja. Lagi pula, bagaimana kalau ternyata Sesha jarang mengirimkan ASI-nya karena dia sedang berusaha memberhentikan ASI-nya? Bisa saja kan karena tidak mau terus teringat anaknya, dia berusaha memberhentikan ASI-nya. Karena informasi yang aku dapat, selama satu bulan ini dia terus menangis karena teringat bayinya. Dia bahkan baru berani datang ke makam palsu sialan itu beberapa hari yang lalu! Itu artinya dia sangat terpukul!”


Daffa begitu sangat kesal, ia berucap dengan nada yang sarkas dan cukup tinggi.


“Pelankan bicaramu! Bagaimana kalau ibuku sampai mendengarnya, huh? Dia taunya ibu dari anakku ini sudah tiada!” ucap Alfa dengan gigi yang menggertak.


“Aaahh! Masa bodo! Aku tidak peduli!”


“Setidaknya pikirkan Abi! Dia bisa menangis lagi jika mendengarmu yang berteriak seperti itu!” ucap Alfa.


“Cih!” Daffa mendecih sinis, “Setelah ini urus urusanmu sendiri! Urusanku sekarang hanya pekerjaan kantor! Aku hanya mengurus perusahaan dan bukan masalah pribadimu! Aku malu terus meminta tolong pada Bu Rima. Jika kamu punya muka yang tebal, datang saja sendiri pada Bu Rima!”


Kedua tangan Daffa terlipat di bawah dada.


“Tapi saranku lebih baik temui Sesha secara langsung. Brengsek-brengsek begini aku kasihan pada anakmu, aku juga tidak tega melihat dia selalu menangis saat kelaparan. Terserah harus mengatakan dengan jujur pada Sesha kalau bayinya masih hidup, atau menciptakan kebohongan baru. Tapi dari otakmu yang sekeras batu itu, aku yakin kamu pasti akan menciptakan kebohongan baru. Tapi setidaknya yang penting anakmu tidak harus menangis histeris saat sedang kelaparan.”


Mata Daffa memicing sinis begitu sangat tajam menatap Alfa. Ia begitu sangat kesal pada temannya itu. Sedangkan Alfa, dia diam dan berpikir memikirkan ucapan yang terucap dari bibir Daffa.


“Harusnya kamu sadar, anakmu terus menangis dan hanya ingin ASI milik Sesha itu pasti ngasih kode. Kalau yang dia butuhkan itu adalah ibunya! Dia ingin bersama dengan ibunya! Miris, dia malah di bawa kabur oleh ayah yang tidak bertanggung jawab sepertimu!”


Alfa masih diam, tapi ia sedikit kesal saat dikatai ayah yang tidak bertanggung jawab. Padahal ia sudah berusaha menjadi ayah siaga dan terus menemani bayinya. Ia bahkan meninggalkan pekerjaan hanya untuk mengurus bayinya.


“Huuhhh!” Daffa menghembuskan napasnya dengan sangat kasar. “Aku kembali ke perusahaan, sisa ASI yang tadi aku minta sudah aku taruh di kulkas.” Daffa lantas langsung berbalik dan keluar dari kamar itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2