Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Chapter. 40


__ADS_3

5 Tahun kemudian.


“Abi tidak mau Ibu Sasa!” ucap bocah yang kini usianya menginjak 5 tahun. Bocah menggemaskan yang 5 tahun lalu selalu rewel jika tak berada di samping Sesha itu kini sudah tumbuh menjadi bocah yang sangat menggemas dan juga cerewet.


Dia juga doyan ngambek jika sedang sedang kesal persis seperti ayahnya.


Abi menutup mulut rapat-rapat dengan telapak tangannya saat sendok berisi nasi itu Sesha arahkan ke mulut Abian.


“Tapi Abi harus makan, Sayang. Terakhir makan tadi pagi loh, nanti sakit bagaimana?”


“Abi tidak mau makan sebelum Ibu Sasa dan Papa ajak Abi ke pasal malam. Sepelti Evan yang main belsama dengan mami dan papinya!” sahut Abian dengan nada suara yang menggemaskan karena bocah itu tidak bisa mengucap huruf R dan berbicara dengan suara yang cadel.


Abian yang sejak tadi terduduk di sofa sembari menonton TV itu langsung beranjak dari duduknya dan berlari ke arah kamarnya.


Sesha mendengus saat Abian berlari pergi, ia lantas langsung berlari pergi juga ke arah kamar untuk mengejar.


Namun, saat ia hendak masuk ke kamar itu, ternyata pintu itu sudah terkunci dari dalam.


“Abian? Buka pintunya, Nak.” ucap Sesha setengah berteriak namun sama sekali tak ada jawaban dari dalam. Sesha mengetuk pintu beberapa kali dan tetap saja tidak bisa.


“Kenapa? Ada apa?” tanya Alfa tiba-tiba yang baru saja pulang dari kantor.


Sesha sontak langsung menoleh dan menatap Alfa yang sedang berjalan ke arahnya


Dilihatnya oleh Alfa piring yang masih penuh dengan nasi dan juga lauknya di tangan Sesha. Alisnya bertaut kemudian bertanya, “Itu punya Abian? Dia sedang makan? Terus kenapa kamu di luar kamar? Abiannya kemana?”


“Dia marah dan mengunci pintu kamarnya, dia juga belum makan siang. Terakhir makan tadi pagi, itu pun hanya roti saja,” jawab Sesha.


“Dia ngambek sampe gak mau makan? Kenapa?” tanya Alfa.


“Tadi waktu di sekolah dan saat jam bermain, temennya cerita kalau kemarin malam dia pergi ke pasar malam sama orang tuanya. Abian juga pengen pergi ke sana, dia kan belum pernah main ke pasar malam, jadi yaa mungkin dia sedikit iri,” jawab Sesha.


“Memangnya ada pasar malam? Di mana?” tanya Alfa.


“Di lapangan bola yang samping jalan raya daerah jalan kenanga itu, baru sekitar semingguan ini ada. Kalau mau ke TK nya Abian kan lewat jalan itu,” jawab Sesha.


“Hmmm ...,” Alfa mengangguk pada Sesha, ia lalu mengetuk pintu kamar Abian dan berucap setengah berteriak, “Abi? Abi mau ke pasar malam, kan? Kalau begitu nanti malam ayo kita ke pasar malam, tapi Abi harus makan dulu.”


Setelah mendengar ucapan Sesha, Alfa berniat akan pergi dengan Sesha dan juga Abian ke pasar malam itu nanti malam mengikuti keinginan sang putra.


Abian dan Sesha juga pasti butuh hiburan karena hampir jarang sekali keluar rumah untuk berjalan-jalan. Mereka keluar hanya pada saat pergi ke sekolah atau sebulan sekali pergi ke supermarket untuk belanja bulanan dan itu pun jarang karena biasanya yang membeli kebutuhan rumah adalah ART yang bekerja di bagian dapur.


Sesha juga pasti bosan karena selama 5 tahun ini hanya sibuk mengurusi Abian dan hampir tidak pernah izin untuk pergi jalan-jalan.


“Benelan pelgi? Papa gak bohong, kan?” tanya Abian yang berada di dalam kamar.

__ADS_1


“Iya bener, nanti malam kita pergi bareng Ibu Sasa. Jadi sekarang buka pintunya dan biarkan Ibu Sasa masuk,” jawab Sesha.


Abian yang berada di balik kamar itu terlihat sangat antusias saat mendengar ucapan Alfa. Ia berusaha membuka pintu tetapi tidak bisa dan tidak tahu bagaimana cara membukanya. Ia hanya tau cara menguncinya dan tidak tahu bagaimana cara membuka kuncinya.


“Papa Abi tidak bisa buka pintunya ... ini bagaimana cala bukanya ....”


“Di puter ke arah yang berlawanan, Nak. Tadi Abi puter ke kiri kan? Sekarang puter ke kanan,” ucap Alfa.


Abian berusaha mengikuti apa kata sang ayah tetapi tak bisa karena terasa begitu keras dan ia tak bertenaga untuk membukanya. Ia yang panik itu malah menangis sekeras mungkin.


Sesha yang mendengar tangisan Abian di dalam kamar itu mulai ikut panik juga.


“Gak bisa, Papaa ... Ibu Sasaaaaa ... Abi mau kelual ... huwaaaa ....”


“Coba pelan-pelan bukanya, jangan nangis. Kamu laki-laki, harus kuat! Jangan cengeng!”


“Tuan ini bagaimana sih? Dia cuma anak kecil, tenaganya gak sekuat orang dewasa!”


“Dia bisa ngunci, ya masa gak bisa bukanya.”


“Tuan—”


“Ibuuuu ... Ibu Sasaaaa ....” tangis Abian semakin kencang. Membuat Sesha semakin panik.


“Sebentar, Sayang ... Ibu cari kunci lain dulu, Abi jangan nangis. Tetap diam di situ dan jangan kemana-mana ya.” ucap Sesha setengah berteriak. Ia berjalan ke arah lemari di samping pintu yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa.


‘Padahal Abian kan bukan anaknya, kenapa dia harus sepanik itu sih? Lagian cuma ke kunci di kamar? Kenapa perempuan selebay itu? Ya ampun!’ batin Alfa.


“Ibuuu Sasaaaaaa ... huwaaaa ....”


Sesha masih berusaha mencari kunci, hingga akhirnya ia berhasil mendapatkannya. Ia lalu mengarahkan kunci itu ke handle pintu namun karena panik, kunci itu malah terjatuh.


“Ya ampun Sesha, anaknya cuma ke kunci di kamar, dia gak kenapa-kenapa. Kenapa kamu sepanik ini sih?”


“Tuan ini ayahnya atau bukan sih? Masa anaknya ke kunci bisa setenang ini? Bagaimana kalau di dalam Abian panik terus dia keluar lewat balkon? Bagaimana kalau dia nekat—”


“Ssssttt ... diam dan jangan menakut-nakuti,” sela Alfa memotong. Ia lantas langsung mengambil kunci yang terjatuh di lantai, kemudian memasukkan kunci itu ke handle pintu hingga akhirnya pintu itu berhasil terbuka.


Ceklek.


“Ibu Sasa ....” Abian langsung memeluk Sesha dengan sangat erat.


"Gak pa-pa, makanya besok-besok jangan nakal ya," ucap Sesha berusaha menenangkan.


Alfa yang melihatnya mendengus. Padahal ia adalah ayah kandungnya, kenapa yang di cari dan di peluk saat sedang ketakutan malah Sesha dan bukan dirinya?

__ADS_1


“Dasar anaknya Ibu Sasa! Laki-laki itu harus kuat, gak boleh cengeng kayak begitu,” sahut Alfa.


“Abi kan takut,” ucap Abian pada sang ayah.


Alfa tak menanggapi, ia langsung berjalan pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


***


Pukul 19.30


“Yeeee ....” Abian berlari ke pintu masuk pasar malam seraya menarik tangan Sesha.


Alfa menepati janjinya dengan mengajak Abian ke pasar malam seperti keinginan Abian. Ia pergi bertiga bersama dengan Sesha.


“Ayo, Paaaa ... cepetan!” teriak Abian pada sang ayah yang berjalan santai.


Saat Alfa sudah mendekati Abian, bocah kecil itu langsung menggenggam tangan Alfa dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya menggenggam tangan Sesha.


“Abi sepelti sedang jalan-jalan dengan Mama dan Papa. Kenapa Ibu Sasa tidak menikah saja dengan Papa? Bial Abi punya Mama sepelti Echa, Evan, Fani, Alsya juga. Di sekolah hanya Abi saja yang tidak punya Mama,” ucap Abian dengan bibir yang mengerucut.


Alfa dan Sesha sontak saling beradu pandang. Keduanya sama-sama menelan saliva saat Abian mengatakan kenapa mereka tidak menikah saja.


“Hmmm ... bagaimana kalau kita naik biang lala, Abi mau?” tanya Sesha mengalihkan pembicaraan ke arah lain.


“Boleh ...,” jawab Abian dengan senyuman yang begitu lebar, “Ayo ....” ucapnya lagi seraya menarik tangan Sesha dan juga Alfa ke arah permainan biang lala.


Tap tap tap.


“Abi naiknya dengan Ibu Sasa saja, Papa tunggu di sini, Papa beli tiketnya dulu ya,” ucap Alfa.


“Enggak, Papa juga harus naik!” sahut Abi.


“Kenapa? Anda takut, Tuan?” tanya Sesha dengan mata menatap lurus ke sorot mata Alfa.


Alfa yang melihat mata Sesha seolah meledeknya itu tidak terima. “E–enak saja takut! Mana ada saya takut,” ucap Alfa.


“Kalau begitu ayo kita naik bersama,” ucap Sesha.


“O–oke,” jawab Alfa. Dia berbalik hendak membeli tiket, Alfa menghembuskan napasnya dengan sangat kasar karena jujur saja sejak dulu ia memang takut dengan ketinggian


Sesha dan Abian mengikuti langkah kaki Alfa yang berjalan hendak membeli tiket. Dilihatnya oleh Sesha pria itu yang sedang membuka dompet untuk mengambil uang.


Mata Sesha dengan seketika terbelalak kaget saat melihat foto yang terpasang di dompet pria itu.


Foto yang terpasang di dompet itu adalah foto dirinya yang tak mengenakan hijab.

__ADS_1


“Itu ... fotoku? Ke–kenapa dia menyimpan fotoku di dompetnya?” batin Sesha.


Bersambung


__ADS_2