
Setelah memilah-milah baju di dalam toko, Sesha keluar dari toko baju muslimah, jika tadi ia memakai baju dress pendek selutut. Kini ia sudah jauh lebih tertutup dengan pakaian muslimah, gamis panjang berwarna putih hingga menutupi mata kaki, kemudian memakai Khimar yang menutup bagian kepala, dada dan menjulur sampe ke bagian perut. Ia juga memakai cadar sebagai penutup wajahnya. Kini tubuhnya sudah begitu sangat tertutup.
Sesha sengaja berpakaian seperti itu karena ia berniat akan melakukan sesuatu. Entah kenapa perkataan ibu tadi membuat hatinya terenyuh, ia ingin sekali pergi ke rumah yang menjadi pusat perhatiannya tadi dan ia merasa tidak tega saat ibu tadi mengatakan kalau bayi yang berada di rumah itu selalu menangis karena tak cocok dengan air susu yang diminumnya.
Kata hati dan batinnya seolah meminta untuk masuk ke rumah itu dan menemui bayi itu. Tetapi, karena di sana ada Rafa, kakak tiri yang mencelakainya sampai ia kehilangan bayinya, Sesha jadi menutup wajahnya dengan cadar agar Rafa tak mengenalinya.
Beberapa saat kemudian.
Sesha yang kini sudah berdiri di depan pintu pagar rumah super mewah bak sultan itu langsung menekan bel yang berada di samping pagar.
Ting tong.
“Iya? Dengan siapa?” tanya seorang pria dibalik pintu pagar.
Sesha menelan salivanya saat menatap mata pria yang berada di balik pintu pagar. Ingin sekali ia marah pada pria itu karena sudah membuatnya kehilangan bayi yang hampir 9 bulan ini ia kandung.
“Mbak? Dengan siapa? Mau bertemu dengan siapa?” tanya satpam yang tak lain ialah Rafa.
“Nama saya ... nama saya ...,” Sesha bingung harus menyebut namanya dengan nama apa, karena jika berkata jujur. Ia yakin Rafa pasti akan curiga padanya, “Nama saya Sasa, Mas.” ucap Sesha memperkenalkan diri. Ia menyebut namanya Sasa karena tiba-tiba teringat almarhum ibunya yang sejak kecil selalu memanggilnya dengan panggilan Sasa.
Rafa menelan salivanya saat mendengar suara yang sangat tak asing ia dengar. “Sasa?”
“Iya, nama saya Sasa, Mas. Saya mau melamar kerja jadi ibu susu dari bayi yang ada di dalam. Boleh saya mencobanya?” tanya Sesha. Ia bersikap sedatar mungkin menahan segala kesal dan juga amarah yang ia tahan pada kakak tirinya itu.
__ADS_1
Rafa membuka pintu pagar rumah itu. “Ada KTP-nya, Mbak?”
Sesha menelan saliva saat Rafa bertanya KTP-nya. Jika Rafa melihat tanda pengenalnya, jelas identitasnya akan langsung diketahui.
Namun, tiba-tiba saja suara isakan bayi yang sangat kencang terdengar dari dalam. Membuat pandangan Sesha dan juga Rafa beralih ke arah pintu.
Batin Sesha terasa perih saat mendengar suara tangis yang begitu sangat kencang dari dalam sana. Kata hati menuntunnya untuk segera masuk, tanpa persetujuan dari Rafa, Sesha lantas langsung berlari ke arah pintu dan langsung masuk.
“Mbak? Mbaaaakk?” teriak Rafa mengejar Sesha.
Namun, Sesha sudah lebih dulu masuk dan mencari ke arah asal suara. Matanya langsung tertuju ke arah pintu kamar yang terbuka sempurna dan suaranya terdengar nyaring dari dalam sana.
Sesha lantas langsung berlari ke pintu itu dan berdiri di ambang pintu.
“Siapa kamu?” tanya Mila pada Sesha.
Mila membuang napas. “Huuhh! Walau aku tidak yakin bayi ini mau, tapi coba saja! Cepat kemari dan susui dia, aku sudah sangat pusing karena dia hobi sekali menangis!” sahut Mila dengan nada yang sangat kesal.
“Tapi Nyonya, dia—“
“Sssttt! Sudah, diam kamu! Tak ada salahnya jika dia mau mencoba,” sela Mila memotong ucapan Rafa yang kini berdiri di ambang pintu.
Sesha lantas langsung masuk, ia mengambil alih baby Abi yang sedang dalam pangkuan Mama Mila. Tangis baby Abi dengan seketika mulai mereda perlahan saat berada dalam gendongan Sesha. Sesha berjalan ke tepi ranjang dan terduduk dengan memunggungi Mila dan juga pintu kamar, ia langsung menyusui baby Abi.
__ADS_1
Tangis yang tadi begitu sangat nyaring itu kini hening seketika dan malah terdengar suara khas bayi yang sedang menyusu.
Bulir bening kristal tiba-tiba saja menetes membasahi pipi Sesha saat menatap bayi yang sedang dalam pangkuannya. Entah mengapa rasa hampa yang ia rasakan setelah bayinya tiada kini mulai terobati. Air mata di matanya juga keluar begitu saja.
Mama Mila cukup terkesiap saat bayi yang selama satu bulan ini membuatnya pusing itu kini terlihat tenang dalam pangkuan Sesha. “Eeehh ... dia diam? Dia mau menyusu?” Mama Mila kaget bukan main. Karena selama ini, sudah banyak seorang wanita yang datang untuk menjadi ibu susu baby Abi, tapi Abi tidak mau menghisap ASI mereka.
Sesha mengelus lembut pipi baby Abi. “Pelan-pelan, Sayang.” Gumam Sesha, ia tersenyum saat melihat baby Abi yang cukup kuat menghisap ASI-nya. Ia kembali meneteskan lagi air matanya, ini kali pertama ia memberikan ASI secara langsung pada seorang bayi.
Selama satu bulan ini, ia begitu tersiksa karena dadanya terasa ngilu. Ia selalu menggunakan alat pompa ASI untuk mengeluarkan ASI-nya. Jika sempat, ia akan mengantarkan ASI-nya pada seseorang yang membutuhkannya. Tapi kalau tidak, ia akan membuang ASI-nya itu begitu saja.
“Jadi begini rasanya menyusui seorang bayi?” gumam Sesha. Walau baru pertama kali bertemu dengan baby Abi, Sesha begitu sangat menyayangi bayi itu. Ia seolah mempunyai ikatan batin dengan baby Abi.
Jelas ia mempunyai ikatan batin dengan baby Abi, karena pada faktanya baby Abi ialah bayi yang satu bulan lalu Sesha lahirkan. Takdir membawanya bertemu kembali dengan putranya. Dengan bayi yang hampir 9 bulan berada di perutnya.
“Akhirnya ... kita menemukan penyelamat!” seru Mama Mila.
Sesha menoleh melihat ke arah Mama Mila yang terlihat sangat senang, kemudian ia kembali menatap bayi yang sedang dalam pangkuannya. Ditatapnya wajah bayi itu dengan seksama, Sesha malah terasa tak begitu asing melihat wajah baby Abi.
“Ada apa ini? Kenapa Mama terlihat senang?” tanya Alfa tiba-tiba.
Sesha menutup bagian dadanya dengan Khimar karena bayi itu masih menyusu. Ia lantas langsung menoleh melihat ke arah asal suara.
Matanya terbelalak kaget saat melihat siapa pria yang datang dan kini tengah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Dahi Alfa mengernyit saat menatap Sesha. “Dia siapa, Ma?”
Bersambung