
Setelah memikirkan ucapan Daffa, Alfa langsung segera pergi dari rumahnya untuk menemui Sesha. Entah apa yang akan ia katakan pada Sesha nanti saat bertemu, ia masih bingung.
Entah akan berkata jujur jika bayi mereka masih hidup dan kini berada di tangannya agar nanti Sesha mau menyusui bayinya. Atau mengatakan kebohongan lainnya dengan membujuk Sesha agar mau menolongnya.
.
.
Alfa yang kini berada di dalam mobil yang terparkir di tepi jalan yang tak jauh dari rumah kost Sesha itu mengusap wajah dengan sangat frustasi. Ia membuang napas dengan sangat kemudian menenggelamkan wajahnya di setir mobil.
“Aku harus bagaimana?” gumam Alfa, “Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya jika Abi adalah anak yang Sesha lahirkan? Tapi bagaimana kalau nanti Sesha membawanya pergi? Bagaimana kalau dia membawa Abi kabur? Secara hukum, hak asuh pasti akan jatuh ke tangan Sesha karena Abi masih bayi. Kalau Abi di bawa kabur, itu artinya aku tidak akan pernah bertemu dengan Abi lagi?” gumam Alfa lagi.
Ia menggelengkan kepalanya tak sanggup membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.
Walau Abian terlahir bukan atas dasar cinta ayah dan ibunya, tapi Alfa begitu sangat menyayangi Abian. Karena biar bagaimanapun Abian adalah darah dagingnya.
“Enggak, enggak ... aku tidak mau kehilangan Abian, aku tidak mau jauh dari Abian,” gumam Alfa, dia kembali menenggelamkan lagi wajahnya di setir mobil dan mulai berpikir harus bagaimana.
Setelah 10 menit berpikir, ia kembali terduduk tegak lagi. Melihat ke arah pintu gerbang rumah kost di mana Sesha tinggal, kemudian setelah itu ia keluar dari mobil.
Alfa berjalan ke arah pintu pagar itu dan dilihatnya seorang wanita baru saja keluar dari rumah itu seraya membawa kantong plastik berisi sampah.
“Permisi,” sapa Alfa.
Wanita itu mengerutkan alis. “Iya? Ada apa ya, Mas?”
“Saya mau ketemu Sesha, dia ada di dalam?” tanya Alfa.
“Sesha udah pergi, Mas. Kalau gak salah dia nganterin pesenan katering deh, terus pulangnya gak tau kapan. Yang saya denger sih dia kan mau pindah rumah karena bikin usaha katering, nah tadi pagi saya tanya katanya setelah anter katering ini dia mau ke rumah barunya, jadi gak tau pulangnya jam berapa. Rumah barunya di mana saya juga gak tau,” ucapnya pada Alfa.
Alfa diam sebentar saat wanita itu berucap. Ia jadi bingung harus bagaimana. "Kalau malam? Harusnya dia udah pulang, kan?"
__ADS_1
“Gak tau juga saya, Mas," ucapnya pada Alfa, "Hmmm … atau gini aja deh, Mas. Besok pagi atau besok sore deh Masnya ke sini lagi, besok kayaknya Sesha sama Lita gak akan kemana-mana, kan mau beberes barang.”
“Aaahh ...,” Alfa mengangguk, “Oke, kalau begitu besok pagi saya ke sini lagi. Makasih ya, Mbak.”
Wanita itu tersenyum ramah pada Alfa. Setelah berbincang dengan wanita itu, Alfa lantas langsung berjalan pergi dan kembali masuk ke mobilnya lagi.
“Besok pagi saja aku ke sini lagi,” gumam Alfa.
****
“Ini sisa pembayarannya ya, Mbak.” ucap Bu Dina seraya memberikan amplop berwarna putih pada Sesha, “Maaf banget harinya jadi maju dari yang seharusnya, habis saya juga di kabarinnya tiba-tiba sama ibu-ibu arisan.”
“Gak pa-pa, Bu. Lagian gak terlalu mendadak kok, Bu Dina ngabarinnya juga malem, jadi tadi shubuh bisa langsung belanja, jadi saya sama yang lain sama sekali gak kerepotan. Malah seneng, kan sisanya jadi dapet lebih cepet,” ucap Sesha bergurau.
“Mbak Sesha bisa aja,” jawab Bu Dina seraya tersenyum.
“Pokoknya jangan kapok-kapok ya, Bu. Kalau mau komplain atau ternyata rasanya kurang oke, boleh langsung bilang biar nanti saya dan temen-temen saya perbaiki kualitasnya,” ucap Sesha lagi.
“Alhamdulillah, terima kasih, Bu.”
Setelah berbincang dengan Bu Dina, Sesha dan Lita berjalan keluar dari rumah mewah itu, mereka berjalan sedikit menjauh dari rumah Bu Dina untuk menunggu taksi online yang sedang Lita pesan.
Saat Lita sedang sibuk dengan ponselnya, mata Sesha tertuju pada rumah yang berada di seberang jalan, yang jauhnya kira-kira sekitar 6-7 meter dari tempat Sesha berdiri.
Rumah super mewah bak rumah sultan itu menarik perhatiannya, lalu tak lama kemudian, terlihat seorang pria dengan seragam security membukakan pintu.
Mata Sesha terbelalak kaget saat melihat siapa yang ia lihat, tangannya seketika terkepal kuat saat melihat pria yang menjadi penyebab bayinya tiada itu berada di sana.
Terlihat juga beberapa wanita keluar dari sana dan salah satunya ialah seorang ibu yang keluar seraya menggendong bayinya, membuat perhatian Sesha jadi teralihkan dari security yang tak lain ialah kakaknya itu ke arah wanita yang sedang menggendong bayi.
“Ayo, kita tunggu di depan aja, di sini panas,” ucap Lita.
__ADS_1
Sesha mengangguk pelan dan melangkahkan kaki mengikuti langkah kaki Lita. Hingga akhirnya, Sesha dan wanita yang sedang menggendong bayi tadi berjalan berdekatan.
Sesha mendekati bayi itu. “Masya Allah, gemes banget, Bu, bayinya. Berapa bulan?” tanya Sesha seraya memegang lembut pipi bayi itu.
“Enam bulan, Mbak,” jawab wanita itu tersenyum ramah.
“Aaahhh,” Sesha mengangguk paham, “Terus ibunya kerja? Tadi saya liat ibu keluar dari rumah yang gede itu,” ucap Sesha seraya melihat ke arah rumah yang tadi menjadi pusat perhatiannya.
“Enggak, Mbak. Itu tadi saya coba ngelamar jadi Ibu susu untuk bayi yang punya rumah karena katanya ibunya udah gak ada. Tapi begitu saya susuin, bayinya gak mau dan malah nangis terus, saya jadi kasian lihatnya.”
Dahi Sesha mengernyit. “Dua perempuan yang tadi barengan sama Ibu, mereka juga sama?”
Wanita itu mengangguk. “Iya, mereka juga sama, tapi bayinya tetep gak mau juga sama yang tadi. Makanya barusan saya bilang jadi malah kasian karena bayinya nangis terus, mana masih kecil banget lagi. Temen saya bilang sih baru sebulan, kebetulan dia kerja di dalem kan jadi ART di sana.”
Sesha diam sebentar saat wanita itu berucap, matanya kembali melihat ke arah rumah itu yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya kini berdiri. Ia kemudian melihat ke arah wanita yang masih berada di dekatnya.
“Itu bisa untuk siapa saja, kan?”
“Iya, Mbak. Bebas kok, siapa aja,” jawab wanita itu lagi, “Hmmm ... saya duluan ya, Mbak. Kasian anak saya kepanasan.”
“Aaahh ... iya, hati-hati ya, Bu.”
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Sesha, ia kembali melihat ke arah rumah itu seraya berpikir.
“Ayo, Sha. Mobilnya udah deket, kita tunggu di situ.”
“Hmm ... kamu saja yang pulang, Ta. Aku ada urusan sebentar,” ucap Sesha.
“Urusan apa? Kamu jangan aneh-aneh deh, kamu belum pulih sepenuhnya, Sha.”
“Gak akan lama kok,” ucap Sesha. Ia menepuk pelan pundak Lita, lantas berjalan pergi untuk mencari tukang ojek.
__ADS_1
Bersambung