Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Bab 6. Alfanza Ardhani


__ADS_3

Sesha tetap diam saat Lita banyak mengatakan kata, karena ia begitu sangat takut menghadapi pria yang berada di dalam kamar hotel. Lita bilang jika ingin cepat ia harus bersikap gatal dan memuaskannya secepat kilat. Masalahnya ia sama sekali tidak paham dan tidak mengerti bagaimana cara memuaskan seorang pria.


Selama ini ia tak pernah berhubungan lebih jauh dengan seorang pria, Sesha pernah berpacaran, tapi tak pernah melakukan yang aneh-aneh.


“Udah, masuk. Aku tunggu kamu di resto hotel, oke?”


Tiba-tiba saja Lita langsung membuka pintu kamar hotel dan mendorongnya untuk segera masuk padahal ia sama sekali belum siap untuk bertemu dengan pria itu.


“Lit? Litaaaa ....” panggil Sesha namun tak ada jawaban sama sekali dari teman satu kerjanya itu. Mungkin karena Lita juga tak mendengar suaranya lagi setelah pintu tertutup rapat karena kamar itu merupakan kamar kedap suara.


Sesha berdiri di depan pintu, punggungnya menempel dengan pintu dan matanya melihat lurus ke arah seorang pria yang sedang terduduk di sofa dengan kaki kanan yang bertumpu di atas kaki kiri.


Sesha pikir CEO yang Lita maksud sudah tua, berumur dan berbadan besar. Bayangannya terbayang Juragan Basri yang sudah tua dan gendut. Tapi ternyata pria yang berada di hadapannya itu masih muda. Usianya sekitar 28 tahun, tubuhnya gagah dan enak dipandang. Parasnya juga tampan dan berkulit putih, bahkan lebih putih dari kulit Sesha.


Dari segi tampang seharusnya pria itu tak akan susah untuk mencari seorang wanita. Mencari wanita yang masih gadis dan melakukannya tanpa harus di bayar pun dirasa mereka akan mau. Lantas kenapa pria itu malah mencari wanita malam?


Pria itu membuang nafas hingga kepulan asap rokok yang dia hisap keluar dari mulutnya. Dia juga lantas langsung mematikan rokok itu dan mengarahkan telapak tangannya meminta Sesha untuk menghampirinya.

__ADS_1


“Kemari,” ucapnya pada Sesha.


Sesha tidak berani mendekati pria itu, jantungnya berdegup dengan sangat kencang lebih dari biasanya. Karena melihat Sesha yang masih berada di tempat, pria itu akhirnya beranjak dari duduknya dan menghampiri Sesha.


“Aku bilang kemari,” ucap pria itu lagi.


Dengan sangat ragu, Sesha akhirnya memberanikan diri mendekati pria itu hingga akhirnya berdiri satu langkah di depan si pria.


***


Pukul 4 sore.


“Jadi selama ini kamu belum pernah berhubungan dengan seorang wanita? Ah ralat bukan itu maksudku. Maksudnya, bukan hanya sekedar hubungan biasa tapi ... menyentuhnya lebih jauh,” ucap Daffa pada atasan sekaligus teman dan sahabatnya sejak saat mereka berkuliah. “Kamu ... masih perjaka?”


Pria bernama Alfanza Ardhani yang duduk di hadapan Daffa itu merapatkan kedua tangannya di bawah dada. “Memang penting melakukannya? Aku rasa tidak.”


“Kamu belum pernah merasakannya jadi mengatakan tidak penting, coba kalau sudah. Kamu pasti menginginkannya lagi, lagi dan lagi,” ucap Daffa dengan sudut bibir kanan yang terangkat.

__ADS_1


“Sudahlah, jangan mengatakan hal omong kosong! Bagiku itu tidak penting jadi tidak usah membahasnya. Kalau kamu ingin pergi dan bermain dengan para wanitamu ya sudah, pergi saja dan jangan mengajakku! Kamu tahu sendiri sejak dulu aku tidak pernah tertarik untuk masuk ke dalam club malam. Jadi pergi saja sendiri dan jangan pernah mengajakku. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau.”


“Ya! Sejak dulu kamu memang sangat payah!” sahut Daffa dengan mata yang memicing dan mendelik sinis juga merapatkan kedua tangannya di bawah dada.


“A–apa kamu bilang? Pa–payah?” tanya Alfa tidak terima.


“Iya, payah! Sejak kita di Paris sampai kembali lagi kemari, kamu tidak pernah mau aku ajak ke club malam! Apa namanya kalau bukan payah, huh? Dan ternyata kamu juga masih perjaka. Pffft ... benar-benar sangat payah!”


Brak!


Alfa yang tidak terima dikatai payah oleh Daffa itu menggebrak meja kerjanya dan berdiri tegak. “Enak saja mengataiku payah, kalau begitu carikan aku seorang gadis!”


Dahi Daffa mengernyit. “Yakin?”


“Ya, aku sangat yakin! Tapi aku ingin dia masih gadis, aku tidak mau mencicipi bekas orang. Aku juga tidak mau ya tertular penyakit dari wanita rendahan seperti mereka! Jadi carikan aku wanita yang masih fresh dan belum pernah tersentuh pria mana pun!”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2