Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Bab 8. 100 Juta Harga Dirimu?


__ADS_3

“Padahal kau bisa mencari uang dengan cara yang halal, kenapa harus memasukkan diri ke dalam lubang hitam menjadi kupu-kupu malam?” tanya Alfa. Dia kini sedang terduduk di samping Sesha yang masih terbaring dengan kedua tangan yang memegang erat selimut di dadanya. Sedang Alfa, selimutnya hanya menutupi tubuhnya sampai ke pinggang saja dan ia duduk bersandar dengan punggung bersandar pada headboard kasur.


“A–anu ... itu, Tuan ... sebenarnya saya tidak–“


“Tidak apa? Tidak ada cara lain?” sela Alfa memotong. Dia mulai menyalakan korek api bensin untuk menghisap rokok yang sudah berada di bibirnya, “Sebenarnya ada banyak cara, kau saja yang tidak mau mencari. Hanya untuk uang seratus juta lagi, hanya sebesar itu kah harga dirimu?” Alfa menghisap rokok kemudian menghembuskan napas hingga kepulan asap putih kembali terlihat lagi.


Sesha menelan salivanya, dadanya begitu terasa sesak saat Alfa mengatakan jumlah harga dirinya.


Ingin rasanya Sesha membalas ucapan Alfa jika ia sudah lebih dulu berusaha mencari uang itu, tetapi sama sekali tidak membuahkan hasil. Kakaknya juga sudah mencari tapi kurangnya masih banyak. Bagi pria itu mungkin uang 100 juta tidak ada apa-apanya dan dengan mudah bisa di dapatkan, tapi baginya yang hanya kaum bawah, uang sebesar itu begitu sangat berharga dan tidak sedikit. Juga sangat susah mencarinya. Dengan pekerjaannya yang hanya karyawan pabrik, ia harus bekerja sekian tahun untuk mendapatkan uang sebanyak itu.


Sesha juga sebenarnya ingin sekali mengatakan jika Alfa adalah pria pertama dan terakhir yang bisa menyentuhnya tanpa ikatan seperti ini karena setelah ini ia tak akan pernah lagi masuk ke dunia kupu-kupu malam. Tetapi entah mengapa mulutnya seolah terkunci rapat, ia terlalu takut menghadapi Alfa.


“Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa karena aku begitu sangat terpuaskan. Bagus juga karena ternyata perempuannya adalah kamu. Setidaknya aku akan bebas dari berbagai macam penyakit nanti. Kau ternyata memang masih perawan,” ucap Alfa lagi, ia kembali menghisap dan menghembuskan asap rokok lagi. Kemudian langsung mematikannya.

__ADS_1


Tak berselang lama kemudian, Sesha mengambil baju miliknya yang berserakan diatas lantai setelah Alfa masuk ke kamar mandi, dia langsung memakainya cepat siap untuk melarikan diri.


Sebelum akhirnya dia kabur dari kamar hotel, dia mengambil lipstik berwarna peach dan menulis beberapa kata di cermin. Matanya beberapa kali melihat ke arah kamar mandi yang terdengar suara gemericik air orang yang sedang mandi.


Dengan sangat tergesa-gesa, setelah menulis di cermin, Sesha langsung pergi begitu saja dari kamar meninggalkan Alfa sendirian.


Sesha berlari secepat mungkin ke arah lift, walau dengan merasakan rasa perih yang terasa di daerah kewanitaannya. Ingin rasanya berjalan perlahan karena tak tahan dengan rasa sakitnya, tetapi keadaan memaksanya untuk segera pergi. Saat sudah berada di dalam lift, ia menekan angka menuju lantai dasar.


Ting


Lita yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya juga sontak langsung beranjak dari duduknya saat melihat keberadaan Sesha.


“Bagaimana? Sudah?” tanya Lita saat Sesha sudah berdiri satu langkah di depannya. Matanya langsung tertuju pada bibir Sesha yang kini sudah tak terlihat lagi gincu disana.

__ADS_1


Padahal sebelumnya ia memakaikan lipstik berwarna merah terang di bibir Sesha. Bisa ia pastikan jika Sesha memang pasti sudah memuaskan pria di dalam kamar tadi. Terlihat juga dari cara jalan Sesha yang terlihat menahan sakit di daerah kewanitaannya. Jadi bisa dipastikan jelas, jika Sesha sudah berhasil memberikan kehormatannya sebagai seorang wanita pada pria itu.


Sesha yang mendapatkan pertanyaan dari Lita sontak langsung memberikan anggukan kepala pelan. “Sudah, ayo ... antarkan aku pulang,” ucap Sesha.


Lita memberikan seulas senyum pada Sesha, ia menggenggam tangan Sesha memberikan kekuatan. “Semuanya sudah selesai, lupakan yang terjadi tadi dan mulai kehidupan barumu,” ucap Lita, "Kamu perempuan yang hebat karena sudah bertahan sampai sejauh ini."


Kali ini Sesha yang memberikan seulas senyuman tipis. Matanya berkaca-kaca dan ia mengangguk pelan saat mendengar ucapan Lita. Sama sekali tak pernah ia bayangkan jika jalan pintas seperti ini akan ia lakukan hanya untuk membayar hutang uang yang dipinjam oleh sang ibu tiri.


Lita yang melihat mata Sesha berkaca-kaca itu melingkarkan tangan memeluk, kembali berusaha menguatkan hati temannya itu, lalu tak lama melepaskannya lagi.


“Ayo, aku antar kamu pulang,” ucap Lita.


Sesha mengangguk, mereka lantas langsung berjalan keluar dari lobi hotel.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2