Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Bab 18. Mengambil Hak


__ADS_3

“Siapa tau ini awal dari kebahagiaan kamu,” ucap Lita.


Sesha sontak langsung menatap Lita saat mendengar Lita berbicara. Ia lalu menggelengkan kepalanya cepat. “Enggak, aku tidak mau bertemu dengan dia lagi,” ucap Sesha.


“Kenapa?” tanya Lita.


“Kamu pikir dong, Lit. Dia bukan pria yang baik! Kamu pikir kalau aku menemui dia dan berkata yang sebenarnya kalau aku sedang hamil anak dia, terus dia mau tanggung jawab begitu? Itu sangat tidak mungkin! Dia orang ber-uang! Mana mau menikah dengan wanita seperti aku!”


“Kamu kan belum mengenal dia sepenuhnya, siapa tau dia orang baik, Sha,” jawab Lita.


“Orang baik mana yang mencari wanita malam untuk dia tiduri, hm? Orang baik mana yang jajan perempuan, Lita? Kamu bilang pria yang menghubungi Bang Marcel tujuannya pasti gak jauh dari s*elangkangan kan? Pria baik mana yang mencari s*elangkangan yang jelas haram, Lita. Dia bahkan menghubungi Bang Marcel lagi, bukan? Pria baik tidak akan seperti itu! Oke deh, kalau misalnya nanti dia mau bertanggung jawab, akan bagaimana jadinya hidup aku kalau bersuami dia yang suka jajan! Mungkin bisa saja setiap hari aku akan melihat dia bersama dengan wanita yang berbeda-beda setiap harinya dan dia membawa wanita itu ke dalam rumah. Dia membawa wanitanya ke dalam kamar! Bayangkan, aku harus tidur di ranjang bekas suamiku bercinta dengan perempuan lain!"


Lita diam saat Sesha berucap, karena menurutnya yang Sesha katakan memang ada benarnya juga.


“Lagi pula, aku rasa pria seperti dia juga tidak akan pernah mau menikah dengan wanita seperti aku karena dia pikir aku ini wanita malam. Tidak ada pria yang mau menikahi kupu-kupu malam! S*ebrengsek-br*engseknya laki-laki, dia pasti menginginkan wanita baik-baik untuk dijadikan istri. Dan dia sudah men-cap aku sebagai wanita malam! Saat aku mengatakan sedang hamil, aku yakin kalau dia pasti akan menuduhku yang tidak-tidak, aku yakin kalau dia tidak akan percaya kalau bayi yang sedang aku kandung adalah anak dia karena dia berpikir aku pasti sudah disentuh banyak pria.”


Lita masih bungkam dan mendengarkan banyak kata yang terucap dari bibir Sesha.


“Belum lagi keluarganya, kalau tahu anak mereka menikah dengan perempuan malam, apa yakin mereka mau menerima? Mereka pasti memandang aku sebelah mata, Lita! Bagaimana kalau mereka menyiksa aku sama seperti yang dilakukan oleh ibu tiri aku? Aku baru saja keluar dari kandang singa, masa aku harus masuk ke kandang buaya! Aku tuh capek, Lit. Capek!" ucap Sesha, dia mulai berucap dengan nada yang gemetar karena begitu sangat emosional. "Aku capek disakiti orang terus, sumpah! Demi apa pun aku capek! Kalau mental aku gak kuat, aku pasti sudah mati bunuh diri sekarang!” ucap Sesha.

__ADS_1


Dia menutup wajah dengan telapak tangannya dan mulai terisak meratapi nasib hidupnya yang begitu sangat mengenaskan dan terasa berat untuk di jalani.


Lita yang melihat Sesha terisak itu sontak langsung mendekati Sesha dan langsung melingkarkan tangannya memeluk Sesha. “Maafkan aku, Sha ... maaf karena membuat hidup kamu jadi sesusah ini.”


Sesha menghentikan isaknya, ia dan Lita kini saling beradu pandang dengan mata yang sama-sama basah.


“Aku kan sudah bilang kalau aku tidak menyalahkan kamu,” ucap Sesha membantu menyeka air mata di pipi Lita.


“Tetap saja aku merasa sangat bersalah,” jawab Lita.


“Sudahlah, jangan dibahas lagi. Semua sudah terjadi jadi mari kita jalani hidup kita di masa depan dengan cara yang jauh lebih baik.”


“Balas dendam itu tidak baik, dosa!” jawab Sesha.


“Ya ... kita balas dendam dengan cara yang tidak menimbulkan dosa dong,” ucap Lita.


Dahi Sesha mengernyit, kemudian tersenyum smirk. “Balas dendam apa yang tidak jadi dosa?” tanya Sesha.


“Ya kamu ambil dong hak kamu, rumah itu kan peninggalan ibu dan ayah kamu. Kita ambil rumah itu dan jual! Biar nanti mereka diusir sama pemilik baru rumah itu.”

__ADS_1


“Sudah aku bilang kalau untuk mengambil rumah itu membutuhkan tanda tangan ibu tiri aku dan aku belum berhasil mendapatkannya,” ucap Sesha.


“Kita atur rencana saja bagaimana?” tanya Lita seraya menaik-turunkan alisnya.


Sesha mengernyit dahi. “Atur rencana? Rencana apa?” tanya Sesha.


“Uang sisa bayar hutang masih ada, kan?” tanya Lita.


“Ada, belum aku pakai sama sekali. Masih ada sekitar 60 juta, kan 10 juta untuk Bang Marcel, 10 juta untuk kamu dan 20 juta aku bayarkan hutang. Aku gak pake sisanya karena menurutku itu uang haram.”


“Bagaimana kalau uang itu kita berikan saja pada ibu tiri kamu, biar saja dia yang menikmati uang itu.”


“Hah? Maksudnya?” tanya Sesha.


“Aku punya rencana yang bagus dan aku sangat yakin ini akan sangat berhasil,” ucap Lita. “Rumah itu pasti bisa jadi hak kamu lagi dan ibu tiri kamu bakalan keluar dari rumah itu.”


“Rencana apa?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2