Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Bab 23. Berhentilah


__ADS_3

“Serius dia ada di sini?” tanya Lita pada Sesha yang kini sedang terengah-engah karena baru saja melarikan diri.


Setelah melihat keberadaan Alfa tadi, Sesha segera pergi. Sialnya ternyata ia melihat dengan jelas jika Alfa mengikuti dan mencarinya. Akhirnya Sesha bersembunyi terlebih dahulu untuk menghindari pria itu. Saat dirasa aman dan sudah tak lagi melihat keberadaan pria itu, baru ia kabur dan menemui Lita lagi.


Sesha yang mendapatkan pertanyaan dari Lita itu langsung mengangguk. “Iya, dia ada di sini,” jawab Sesha.


“Kamu salah liat kali, itu bukan dia,” jawab Lita.


“Jelas-jelas itu dia, Lita! Jarak mata aku dengan dia saat dia gak sengaja senggol aku dan akhirnya dia nolongin aku biar gak jatuh itu gak lebih dari 10 Senti! Dengan jelas aku liat kalau itu beneran dia! Kalau bukan dia, terus ngapain juga dia ngejar aku, huh? Gak ada kerjaan banget, jadi 100% aku yakin kalau itu memang dia! Dia juga pasti inget sama aku makanya langsung ngejar,” jawab Sesha.


“Terus kenapa kamu harus kabur? Harusnya tadi kamu ngobrol dong sama dia, sekalian bilang kalau perut kamu sekarang buncit itu karena dia! Biar dia tanggung jawab,” sahut Lita.


Sesha memicing tajam. “Aku sangat yakin kalau dia tidak akan pernah mau bertanggung jawab! Aku ini dianggap wanita malam, aku yakin dia juga gak akan percaya kalau ini anaknya dia,” ucap Sesha.


“Huuhhh! Belum apa-apa udah suudzon sama orang,” sahut Lita membuang napas dengan sangat kasar, “Udah ah, aku lanjut dulu. Kamu duduk di sini aja sampe acara beres,” ucap Lita.


Sesha memberikan anggukan kepala, ia rasa tempatnya berada juga memang tempat yang paling aman.


***


“Alhamdulillah, makasih ya Neng Sesha. Kalau nanti ada kerjaan lagi, kasih tau aja. Saya, Dinda sama yang lainnya siap bantuin lagi,” ucap seorang wanita yang usianya sekitar 40 tahunan. Dia begitu sangat antusias saat setelah menerima amplop dari Sesha.


“Iya, nanti kalau ada lagi pasti saya kasih tau,” jawab Sesha.


“Oke kalau gitu, Neng. Kita pergi dulu, assalamualaikum ....”

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Sesha dan juga Lita bersamaan.


Setelah orang yang membantu Sesha di acara semalam itu pergi, Sesha memberikan bayaran untuk Lita. “Nih, buat kamu aku lebihin dari yang lain. Biar kamu gak cari pembeli yang mau jajan di kamu!” ucap Sesha.


Lita mengambil amplop di tangan Sesha dengan bibir yang mengerucut. “Sayangnya malam ini aku udah terima orang yang mau jajan,” jawab Lita.


Sesha menggelengkan kepalanya. “Mau sampai kapan kayak begitu terus?” tanya Sesha.


Lita menaikkan kedua bahunya tak tahu. “Biaya hidup semakin hari semakin besar, Sha. Aku butuh uang banyak untuk memenuhi itu semua. Cuma pekerjaan itu yang hasilnya lumayan banget, hanya sekian jam beres. Kadang malah cuma 10 menit doang juga beres,” jawab Lita seraya tersenyum.


“Biaya hidup, atau gaya hidup?” tanya Sesha.


Senyum Lita dengan seketika memudar saat Sesha berucap. Memang benar, biaya hidupnya sebenarnya tidak terlalu besar. Gaya hidupnya lah yang terlalu mewah sampai uang yang dihasilkannya tidak pernah mencukupi.


Lita diam tak menjawab.


“Ini kali terakhir aku akan bicara serius dengan kamu seperti ini. Setelah ini terserah akan bagaimana kamu menyikapinya,” ucap Sesha, “Dengarkan aku, Lit. Mau gaji kamu 100 juta perbulan pun kalau kamu gak bersyukur, uang itu tidak akan pernah cukup untuk kamu dan kamu pasti bakal ngerasa kurang. Bukan biaya hidup yang kamu keluhkan, tapi gaya hidup.”


Lita kini menatap Sesha dengan sangat serius.


“Uang 100 ribu bisa cukup untuk satu minggu kalau kita bersyukur. Saat mendapatkan uang itu, kita pasti udah mikir nih, bagaimana caranya biar uang 100 ribu ini bisa cukup untuk hidup satu Minggu. Si pemilik uang pasti akan berpikir keras, harus ia belikan apa uang itu agar ia bisa bertahan hidup selama seminggu. Aku sudah pernah ada di posisi itu, Lit. Sulit memang, tapi cukup tidak cukup, uang itu akhirnya cukup juga selama seminggu. Ya walau tetap aja aku juga ngeluh dengan uang segitu, tapi yang penting kan bisa makan. Mending makan cuma sama garem doang yang penting halal, daripada makan enak tapi dari hasil yang haram. Begitu pun dengan uang 100 juta, tergantung sikap si pemilik. Kalau dia bersyukur, uang itu pasti dipakai untuk kebaikan dan beli yang menurut dia perlu. Kalau enggak? Sehari juga habis itu uang.”


Sesha yang melihat Lita masih terdiam itu kini mulai meraih telapak tangan Lita menggenggam. Hingga Lita yang digenggam itu hatinya mulai luluh. Selama ia hidup merantau, ia tak pernah sedekat itu dengan seseorang baik laki-laki atau perempuan. Hanya sekedar berteman, kemudian entah bagaimana kabarnya lagi. Hanya Sesha yang bertahan lama menjadi temannya, Sesha juga satu-satunya orang yang berani menasehatinya.


“Pikirkan juga orang tua kamu, Lit. Kalau mereka tahu ternyata kamu di sini hidup dengan uang yang haram, sedang yang halal diberikan pada mereka. Hati mereka pasti akan sangat hancur. Mereka pasti lebih memilih untuk tidak menerima uang yang kamu kirimkan agar uang yang halal itu bisa kamu pakai,” ucap Sesha, "Jadi saran aku udahan, Lit. Inget sama dosa. Kamu mau punya dosa yang banyak hanya untuk gaya hidup yang gak jelas kayak begitu? Gak ada faedahnya juga untuk kamu, kan? Inget ayah sama ibu kamu, Lit. Akan sehancur apa nantinya hati mereka kalau tau kerjaan kamu di sini itu apa. Aku yakin sih kamu gak akan dianggap anak kalau mereka tau. Perlu kamu tahu, namanya bangkai mau dikubur sedalam apa pun, lama-lama pasti ketahuan juga."

__ADS_1


Setetes air mata tiba-tiba saja menetes membasahi pipi Lita. Ia langsung menggelengkan kepalanya.


“Makanya, berhenti. Ayo kita sama-sama perbaiki diri, menjadi manusia yang lebih baik. Kamu beruntung karena ayah dan ibu kamu masih ada. Lah aku? Aku udah gak ada, Lit,” ucap Sesha lagi, “Aku pengen persahabatan kita tidak hanya di dunia saja, tapi kelak nanti saat di alam yang kekal, kita akan bersahabat juga sampai ke syurga. Aku juga sama kok seorang pendosa, tapi mari kita gugurkan dosa itu dengan kebaikan dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.”


Lita yang mendengar Sesha berucap itu begitu sangat terharu. Baru kali ini dia mendengarkan Sesha berucap langsung masuk ke hatinya. Biasanya jika Sesha memintanya untuk berhenti, ia akan menjawab sebentar kemudian langsung pergi dan seolah tak peduli.


Tapi kali ini hatinya benar-benar luluh dan merenungi semua yang Sesha katakan.


Lita lalu langsung memeluk Sesha.


“Ayo kita perbaiki diri sama-sama, Lit.”


Lita yang masih memeluk itu mengangguk. “Ayo, aku akan berusaha,” jawab Lita dengan nada suara yang gemetar ingin menangis, “Terima kasih karena sudah mau menjadi teman dan sahabat aku.”


Sesha menepuk pelan punggung Lita. “Aku juga mau berterima kasih sama kamu karena sudah mau menjadi teman aku.”


Lita melepaskan pelukannya dan berdecak.


“Jadi? Yang besar itu biaya hidup atau gaya hidup?” tanya Sesha seraya tersenyum.


“Gaya hidup,” jawab Lita seraya tersenyum, “Aku akan berhenti dari gaya hidup aku yang mewah dan hidup sederhana kayak kamu,” jawab Lita.


Sesha yang mendengarnya tersenyum, akhirnya setelah sekian lama berusaha menasehati. Sahabatnya itu mau meninggalkan pekerjaan yang jelas haram itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2