
“Bagaimana?” tanya Lita menatap Sesha dengan senyuman setelah mengatakan rencananya.
Sesha balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Itu ide yang sangat bagus. Kapan kita mulai rencananya?” tanya Sesha.
“Lebih cepat lebih baik, bagaimana kalau besok saja? Besok kita izin tidak masuk kerja dan kita lakukan rencananya besok siang. Kata kamu saudara tiri kamu yang perempuan jarang ada di rumah, kan? Terus yang laki-laki kalau siang gak di rumah dan dia kerja, itu artinya hanya ada ibu tiri kamu sendiri yang ada di rumah. Itu lebih memudahkan kita untuk melakukan rencananya.”
“Oke, aku siap.” jawab Sesha. Mereka saling beradu pandang dan memberikan senyuman satu sama lain.
Hari mulai berlalu, langit yang tadi gelap kini sudah berubah terang. Sesha dan juga Lita segera melakukan rencana mereka, berniat untuk mengambil kembali hak rumah yang seharusnya menjadi milik Sesha karena rumah itu adalah satu-satunya peninggalan ayah dan juga ibunya Sesha.
Lita kini tengah berada di atas motornya, ia sedang menunggu Sesha yang tadi berpamitan sebentar setelah mereka bertemu dengan seseorang mengambil sesuatu. Lalu tak berselang lama kemudian, seseorang dengan pakaian yang begitu tertutup memakai gamis berwarna putih serta wajah yang tertutup cadar tiba-tiba saja terduduk di belakang Lita.
“Maaf, saya bukan tukang ojek, Mbak,” ucap Lita pada wanita yang tiba-tiba terduduk di belakangnya.
“Ini aku, Sesha.”
Lita sontak langsung menoleh dan menatap Sesha dengan dahi yang mengernyit. “Laahh ... ngapain di tutup kayak begitu?” tanya Lita.
“Ya nyamar dong, Lita. Rencana kita akan gagal total kalau aku datang tanpa penutup wajah,” jawab Sesha.
__ADS_1
“Gak harus setertutup itu juga kali, Sha. Kan bisa pakai masker, nanti kamu bisa beralasan kalau kamu sedang flu.”
“Itu alasan klasik, lagian begini lebih nyaman,” jawab Sesha, “Sejak dulu aku selalu terpesona melihat wanita memakai cadar. Terus karena rencana ini aku kepikiran pake kayak begini, ternyata nyaman juga,” ucap Sesha.
“Ya sudah terserah kamu, ini kita jalan sekarang? Sudah tidak ada lagi yang diperlukan, kan?”
“Udah, ayo ....”
“Uangnya sudah juga kan? Jangan sampe ketinggalan loh,” ucap Lita.
“Sudah, aman. Uangnya ada di dalam tas,” jawab Sesha.
Kurang dari 20 menit, motor yang dikendarai oleh Lita itu akhirnya terhenti di depan pintu pagar rumah Sesha. Mereka lantas langsung beranjak turun dari motor dan berdiri di depan pintu pagar.
“Permisi? Selamat siang ....” Lita berucap setengah berteriak hingga akhirnya si empunya rumah keluar dari pintu.
Sesha yang melihat Ika keluar dari rumah itu menelan salivanya. Jantungnya berdegup kencang menakuti rencananya dan Lita akan gagal dan malah diketahui.
“Ya? Ada apa, ya?” Ika nampak kaget saat melihat 2 orang yang tak dikenalinya berdiri di depan rumah. Apalagi seorang wanita wajahnya begitu tertutup dan tak terlihat sama sekali, hanya sorot matanya saja yang terlihat.
__ADS_1
“Kami dari Dompet Dana ingin menawarkan pinjaman dengan bunga yang minus dan bebas bayar kapan saja tanpa ada waktu masa tenggang, Bu,” ucap Lita memperkenalkan diri, “Jumlah uang yang kami tawarkan juga tidak main-main lho, Bu. Maksimal bisa sampai 20 juta. Kapan lagi kan pinjam uang 20 juta dengan bunga yang minus dan bebas pembayaran kapan saja. Pembayaran boleh dicicil sesuai dengan kesepakatan yang berlaku.”
Ika yang mendengar sejumlah uang yang nominalnya lumayan besar itu sontak matanya langsung berbinar terang. “20 juta dengan bunga yang kecil? Anda pasti asal bicara,” ucap Ika.
“Kami tidak bohong, Bu. Boleh kami masuk dan kita bicara di dalam?”
“Tentu saja, ayo Mbak.” Ika begitu bersemangat. Membuat Sesha dan juga Lita saling beradu pandang dan mengulurkan senyum karena mendapatkan respon yang begitu mulus tanpa harus mengeluarkan omong kosong yang tidak penting.
Hingga akhirnya kini mereka tengah terduduk di sofa ruang tamu. Lita dan Sesha terduduk di sofa panjang sedangkan Ika terduduk di sofa utama.
“Ini tidak mungkin kalian memberikan secara cuma-cuma kan? Pasti ada syarat yang berat nih. Pasti minta surat tanah ya? Atau surat rumah?” tanya Ika.
“Tidak, Bu. Syaratnya hanya perlu foto KTP dan juga nanti ibu harus menandatangani surat perjanjian dari kami. Kalau bersedia nanti suratnya boleh dibaca dulu kok,” ucap Lita, “Pinjaman dari kami bunganya tidak banyak, hanya 1% per 5 juta. Jadi misal kalau Ibu meminjam uang dari kami 20 juta banyaknya, kami hanya menerima untung 4 persen. Sekitar 800 ribu rupiah. Kecil bukan? Tidak sampai 1 juta loh untuk pinjaman 20 juta. Terus tidak ada tambahan bunga kalau telat bayar. Pinjaman lain telat sehari saja sudah kena denda sekian persen, di kita enggak sama sekali, Bu.”
Mata Ika begitu sangat berbinar saat mendengar wanita yang berada di depannya itu berbicara. Sedang Sesha dan Lita kembali saling beradu pandang karena rencana yang sudah setengah jalan itu sepertinya akan berhasil.
Dan Ika, ia malah teringat Sesha. Ia berpikir jika dirasa tidak ada salahnya meminjam uang dari mereka ini. Setelah ini ia akan menghubungi Sesha dan meminta Sesha untuk kembali, ia akan mengatakan menyesal sudah marah-marah dan mengusirnya. Saat nanti Sesha sudah kembali pulang, ia akan meminta Sesha untuk mencicil pembayaran hutang yang ia pinjam. Atau ... ia akan meminta Sesha untuk menjual diri kembali.
Sudut bibir Ika terangkat saat memikirkannya.
__ADS_1
Bersambung