
Ceklek.
Alfa dan Daffa berjalan masuk ke ruang kerja Alfa setelah selesai meeting. Mereka langsung berjalan ke arah meja kerja.
“Aku perhatikan sudah beberapa hari ini kamu selalu tidak fokus, tadi saat meeting juga gitu. Kamu gak bisa konsen sama apa yang lagi kita bicarain. Kenapa? Ada apa?” tanya Daffa saat sudah terduduk di kursi yang berhadapan dengan Alfa.
Alfa yang baru saja terduduk di kursinya itu langsung duduk bersandar dan memegang kepalanya.
“Ada masalah?” tanya Daffa lagi.
Alfa langsung terduduk tegak dan menatap Daffa dengan tatapan serius. “Aku ingin bertemu dengan wanita yang waktu itu tidur denganku,” ucap Alfa pada Daffa.
Setelah melakukan one night stand dengan Sesha, entah mengapa bayangan wajah Sesha selalu terlintas di pikirannya. Alfa sudah berusaha untuk melupakannya, tetapi semakin ia berusaha melupakan, ia malah semakin memikirkan Sesha. Hasrat ingin bertemunya memuncak satu Minggu terakhir ini.
Kedua sudut bibir Daffa terangkat saat Alfa berucap. “Kenapa kamu ingin bertemu dengan dia? Ketagihan? Rasanya enak? Malam itu dia berhasil memuaskanmu dan sekarang kamu menginginkannya lagi?” tanya Daffa.
Mata Alfa seketika memicing, menatap Daffa dengan tatapan tajam. “Tidak bisakah kamu urus saja waktu agar aku bisa bertemu dengan dia kembali?” pinta Alfa.
Daffa memberikan anggukan kepala. “Oke ... akan aku usahakan,” ucap Daffa seraya tersenyum penuh arti.
Setelah mendengar jawaban Daffa, Alfa kembali duduk bersandar lagi. Dia memejamkan mata dan kembali memikirkan Sesha, bayangan wajah Sesha kembali terlintas lagi di pikirannya. Ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba saja memikirkan Sesha dan ingin bertemu. Entah seperti yang Daffa katakan jika ia ketagihan, atau memang hanya sekadar ingin melihat wajahnya secara langsung saja.
__ADS_1
Daffa akhirnya beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Alfa, ia lantas langsung menghubungi teman yang kemarin menghantarkan Alfa bertemu dan bermalam dengan Sesha.
***
Lita yang baru saja pulang dari kerjanya itu langsung pergi lagi untuk menemui seseorang saat setelah menerima telfon. Ia kini tengah berada di kafe yang tak jauh dari kost-kostannya untuk menunggu seseorang.
Ia lalu mengarahkan telapak tangannya ke atas saat seorang pria yang tubuhnya lumayan berisi berdiri di ambang pintu.
“Kenapa Bang Marcel tiba-tiba menghubungi aku? Ada kerjaan, bang? Tapi tumben banget ngajak ketemu, biasa juga lewat telefon terus langsung ketemuan di lokasi,” ucap Lita.
“Memang ada kerjaan, tapi bukan buat kamu,” jawab pria bernama Marcel. Pria yang kemarin menghantarkan Sesha akhirnya bertemu dengan Alfa.
“Teman kamu yang kemarin,” jawab Marcel.
"Hm? Sesha maksudnya?” tanya Lita.
“Iya, dia,” jawab Marcel memberikan anggukan, “Temanku tadi menelfon, dia bilang kalau temannya yang kemarin tidur dengan temanmu itu, dia ingin kembali bertemu.”
“Aku minta maaf, Bang. Aku tidak bisa dan aku rasa Sesha juga tidak akan mau. Waktu itu dia mau menemani pria itu karena sedang membutuhkan uang. Lagipula dia gadis yang polos, sudah dipastikan tidak akan mau lagi melakukannya. Dan jujur saja, sebenarnya aku juga menyesal karena sudah membuat dia menjadi wanita malam seperti aku.”
“Coba saja kamu tanya dulu, mau atau tidak. Siapa tau dia berubah pikiran, kan? Siapa tau dia menikmati hasilnya dan menginginkannya lagi. Uangnya sangat lumayan, Lit. Lima kali lipat dari biasa kamu melayani seorang pria. Kalau teman kamu itu mau, kamu juga pasti kecipratan duitnya.”
__ADS_1
“Aku tetap tidak mau Sesha terjebak seperti aku, Bang. Kalau saja aku tidak kepepet, aku juga tidak mau seperti ini,” ucap Lita.
“Sudahlah, pokoknya tanyakan saja dulu pada temanmu itu. Aku tunggu kabar baik darimu. Oke?”
Mulut Lita terbuka, siap menjawab ucapan Marcel untuk menolak dengan tegas. Namun, pria itu sudah lebih dulu beranjak dari duduknya dan berpamitan pergi.
“Ck!” Lita berdecak kesal, ia membuang napas dengan sangat kasar.
Lita segera pergi dari kafe itu. Saat sedang berjalan hendak pulang, ia menatap layar handphonenya. Dahinya mengernyit saat melihat ada banyak panggilan masuk dari Sesha.
Sejak tadi ponselnya ia silent hingga tak terdengar ada telepon masuk dari siapa pun. Lita lantas langsung balik menghubungi Sesha lagi, tapi sama sekali tidak bisa tersambung dan hanya terdengar suara operator yang mengatakan jika nomor yang ia tuju sedang tidak aktif.
“Kenapa, ya?” gumam Lita, “Aku pulang saja dulu, akan ku telfon lagi setelah sampai di kost-an nanti."
Tak berselang lama kemudian, Lita sudah sampai di depan pintu pagar rumah kostnya. Ia berjalan masuk dan segera berjalan ke arah pintu kamarnya.
Namun, langkahnya tiba-tiba saja melambat saat dilihatnya Sesha yang tengah terduduk dengan kepala bersandar pada tembok di samping pintu kamar kost-nya.
“Sesha?”
Bersambung
__ADS_1