Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Chapter. 36


__ADS_3

Mata Sesha terbelalak kaget saat melihat Alfa yang berada di kamarnya. Bukan takut karena pria itu masuk ke kamarnya dan menakuti mencari informasi tentang dirinya.


Tetapi karena melihat penampilan Alfa yang benar-benar di luar dugaan. Pria itu sedang berdiri mengenakan gamis berwarna putih serta memakai kain Khimar juga cadar persis seperti penampilan Sesha. Juga seraya menggendong baby Abi yang sedang asik menghisap ASI di dalam botol.


Memang baju-baju Sesha kini hampir semua gamis panjang yang ukurannya lumayan lebar. Ia sudah tak lagi memakai baju yang pendek-pendek.


“Pffttt ....” Sesha tertawa pelan saat melihat penampilan Alfa yang terlihat anggun. “Anda sedang ada masalah? Kenapa berpenampilan seperti itu?” tanya Sesha masih terkekeh tak tahan melihat lucunya tingkah Alfa. "Kalau ada masalah, anda bisa cerita sama saya, Tuan."


Jika Sesha terlihat tertawa puas, berbeda dengan Alfa. Pria itu malah memicingkan mata dan mendelik sinis menatap Sesha dengan tatapan yang tajam. “Kamu dari mana saja, huh? Kenapa lama sekali!” ucap Alfa dengan gigi yang sedikit menggertak di balik cadar yang ia kenakan.


Tadi ia sudah memakai parfum milik Sesha, tetapi baby Abi masih juga menangis. Hingga akhirnya sebuah ide tiba-tiba saja terlintas di otaknya, ia memakai baju milik Sesha dan berpenampilan seperti Sesha, kemudian menyemprotkan parfum juga di bajunya.


Dan ternyata ... diluar dugaan Alfa, tangis baby Abi ternyata mereda dan bahkan mau meminum ASI di botol setelah ia berpakaian seperti Sesha.


“Kan Tuan tadi tahu sendiri kalau saya ikut Nyonya ke arisan ibu-ibu komplek. Saya bantu-bantu di sana,” jelas Sesha menahan tawa.


“Apa tidak bisa cepat?” tanya Alfa dengan nada suara yang kesal. Ia berjalan menghampiri Sesha dan langsung memberikan baby Abi pada Sesha.


Namun, Sesha menolak. “Saya belum mandi, takutnya baju yang saya pakai kotor nanti malah ke hirup sama baby Abi.”


“Ya ampun … masa saya harus pake kek beginian sambil nunggu kamu mandi,” ucap Alfa.

__ADS_1


Sesha tertawa pelan. “Mandi saya gak lama kok, bertahan sebentar ya, Tuan.”


Alfa memicingkan mata kembali, bukan karena Sesha memintanya bertahan untuk berpenampilan seperti itu. Tapi karena melihat Sesha yang terus menertawakannya.


“Saya bos kamu lho, Sasa. Kok kamu berani ngetawain saya,” ucap Alfa.


“Habisnya Tuan lucu, kenapa harus pake baju saya segala?”


“Ya karena Abian gak mau minum ASI-nya dan dia rewel. Dia baru mau minum kalau saya kek begini! Udah ... kamu jangan banyak ngomong, sekarang cepetan mandi! Terus urus Abian.”


“Iya, sebentar ya, Tuan.” Sesha mengambil baju di lemarinya terlebih dahulu, kemudian keluar dari kamar untuk pergi ke kamar mandi. Ia akan memakai bajunya di kamar mandi karena Alfa berada di kamarnya.


Sesha yang berjalan ke arah kamar mandi itu terkekeh pelan melihat tingkah laku Alfa.


Lepas dari ibu tiri yang menyebalkan tidak serta-merta membuat hidupnya bahagia, ia yang hamil tanpa suami harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Lalu ia sempat bersemangat karena akan menyambut kehadiran bayinya, tapi tiba-tiba harus menelan pil pahit karena bayinya tiada.


Sesha sama sekali tak pernah tertawa lepas setelah ayahnya berpulang. Ia bahkan lupa kapan terakhir ia bisa tertawa lepas.


Tapi Alfa, si pria menyebalkan itu berhasil membuat perutnya hampir terasa keram karena tertawa, luka caesar di perutnya sampai terasa ngilu karena terus tertawa.


Saat Sesha ke kamar mandi, Alfa terduduk di tepi ranjang seraya menggendong baby Abi. Bayi mungil itu menghisap susu di dalam botol dengan mata melihat ke arah mata Alfa.

__ADS_1


Seulas senyum tiba-tiba saja terlihat di bibir mungil baby Abi.


“Kenapa tersenyum, huh? Kamu senang bisa mengerjai Papa seperti ini?” tanya Alfa menatap baby Abi dengan mata yang menyipit.


Bukannya takut atau menangis, baby Abi malah kembali tersenyum lagi.


“Senyum lagi,” ucap Alfa, “Cuma kamu tau yang berani bikin Papa mau berbuat kayak begini!”


.


.


“Sudah?” tanya Alfa saat Sesha masuk ke dalam kamar.


Sesha memberikan anggukan kepala. “Sudah, sini ... baby Abi biar saya yang gendong.” Sesha mengambil alih baby Abi dari tangan Alfa, “Hmmm ... terima kasih ya, Tuan.”


Alis Alfa bertaut, “Terima kasih? Untuk?” tanya Alfa.


“Untuk tingkah konyolnya, karena penampilan Tuan tadi udah berhasil bikin saya ketawa,” jawab Sesha dengan seulas senyum di balik cadarnya, “Saya udah lama banget gak ketawa kaya tadi. Bahkan lupa kapan terakhir ketawa puas begitu.”


“Hm? Kenapa?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2