
Entah kenapa sejak tadi perasaan Sesha sama sekali tidak tenang, ia terus memikirkan Alfa yang mengatakan sedang sakit. Setelah jam sekolah Abian selesai, ia dan Abian langsung kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, dilihatnya Alfa yang kini sedang terduduk di sofa ruang keluarga dengan mata yang menatap lurus ke arah layar laptop di pangkuannya.
"Bukannya anda sedang sakit, Tuan? Kenapa tidak beristirahat?" tanya Sesha pada Alfa.
Pandangan Alfa beralih dari layar laptop yang sejak tadi berada di atas pangkuannya karena mengerjakan beberapa kerjaan itu kini menatap Sesha yang baru saja datang. "Hm? Saya udah istirahat," jawab Alfa, "Cuma kayaknya saya gak terlalu biasa santai-santai cuma tiduran, jadi saya kerjain kerjaan yang bisa saya kerjain."
"Kalau sedang sakit harusnya fokus ke kondisi kesehatan saja, kenapa harus bekerja segala?" tanya Sesha, "Sudah, taruh pekerjaannya dan istirahat di kamar. Tuan sudah makan dan minum obat? Tadi pagi hanya makan roti saja, kan? Sudah makan yang lain?" tanya Sesha lagi.
Alfa menggelengkan kepalanya. "Saya biasanya makan lagi ya nanti siang pas jam istirahat."
"Sarapan pagi hanya roti satu helai dan makan lagi nanti siang begitu? Ya jelas bagaimana tidak sakit," ucap Sesha, "Ya sudah kalau begitu, biar saya siapkan makan dulu. Atau Tuan ingin bubur? Biar saya buatkan sekarang," ucap Sesha lagi karena begitu sangat khawatir.
Sedang Alfa, dahinya mengernyit bingung melihat Sesha yang terlihat tak biasanya dan jauh lebih perhatian padanya. 'Apa dia begini karena sudah tau akan perasaanku? Kemarin malam kan saat pulang dari pasar malam dan aku tidak tahu kalau Sasa itu ternyata Sesha, aku mengatakan kalau aku mencintai orang yang di foto yang ternyata dia sendiri orangnya. Secara tidak langsung aku sedang menyatakan cinta pada dia. Terus kenapa sekarang dia jadi begini? Apa jangan-jangan ... dia mempunyai perasaan yang sama juga?' batin Alfa berucap.
Sesha yang melihat Alfa nampak melamun itu mengerutkan alis. "Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Sesha.
"Hm?" Lamunan Alfa buyar seketika, "Saya baik-baik saja, kamu tidak usah membuatkan saya apa-apa, saya gak lagi ke pengen apa-apa kok," jawab Alfa.
"Ya tapi—"
"Kenapa Ibu Sasa tellihat aneh?" Abian yang sejak tadi memperhatikan ayah dan juga ibu susunya mengobrol itu terlihat bingung karena sikap Sesha yang tak seperti biasanya dan jauh lebih perhatian pada sang ayah tak seperti hari-hari biasanya.
__ADS_1
Sesha sontak langsung menatap bocah yang tingginya sudah sepinggulnya. "Aneh? Aneh bagaimana maksudnya?" tanya Sesha.
"Ya Ibu Sasa tellihat khawatil pada Papa," jawab Abian, "Ibu Sasa suluh Papa makan, telus minum obatnya juga, telus tanya mau makan sama apa. Ibu Sasa sayang ya sama, Papa?" tanya Abian.
"Hah?" Sesha menatap Abian dengan tatapan kaget, kemudian menatap Alfa yang terlihat kaget juga.
Memang entah mengapa setelah mengetahui Alfa mengatakan jika dia mencintainya, Sesha memang merasakan hal yang aneh dan tak biasa. Ia malah jadi ingin selalu melihat wajah pria itu lebih lama dan terkadang diam-diam selalu mencuri pandang. Anehnya jika Alfa balas menatapnya, ia refleks mengalihkan pandangannya ke arah lain dan malu sendiri. Ia juga jadi lebih sering memperhatikan Alfa.
Dan entah kenapa juga rasa khawatir tiba-tiba bersarang di dadanya saat tadi pagi pria itu mengatakan sedang tidak enak badan.
"Sayang?" tanya Sesha menatap Abian.
"Iya, kalau Abi sakit, Ibu Sasa juga sepelti itu pada Abi. Kalau Abi tidak mau makan dan tidak mau minum obat, Ibu Sasa selalu malah dan tanya Abi mau makan dengan apa dan mau dibuatkan apa, sama sepelti yang tadi Ibu Sasa tanyakan pada Papa. Telus kalau Abi ngambek kalena Ibu Sasa malah, Ibu Sasa bilang kalau Ibu Sasa malah kalena Sayang. Ibu Sasa bilang kalau malah itu tandanya Sayang."
"Hah?" Sasa dibuat bungkam oleh bocah berumur 5 tahun itu. Selama ini ia memang selalu mengatakan pada Abian jika ia marah, itu artinya ia menyayangi Abian.
"Si–siapa yang bilang? Eng–enggak!" elak Sesha gugup.
"Ibu Sasa bohong! Ngomongnya gugup. Pffffttt ...." Abian menutup mulut dengan tangan mungilnya saat tertawa pelan.
Begitu pun dengan Alfa, seulas senyum terlihat di bibirnya saat berhasil menggoda Sesha. Sedang Sesha, ia kembali merasakan hal yang aneh kembali saat melihat Alfa tersenyum.
Abian menatap sang ayah dan bertanya, "Papa sayang juga tidak dengan Ibu Sasa?"
__ADS_1
"Sayang lah," jawab Alfa cepat, "Sayang banget malah," lanjutnya lagi.
"Laisa bilang, Mami sama Papinya menikah kalena saling sayang dan mencintai. Olang dewasa boleh menikah kalau saling sayang, kalau begitu Ibu Sasa dan Papa bisa menikah juga, kan? Kan Ibu Sasa sama Papa saling sayang. Jadi kenapa tidak menikah saja? Bial Ibu Sasa bisa jadi Mama benelannya Abi."
"Enak saja!" sahut Mama Mila tiba-tiba.
Alfa, Sesha dan juga Abian sontak langsung melihat ke arah Mama Mila yang berjalan dari arah ruang tamu.
"Gak ada ya cerita pembantu nikah sama majikan!" ucap Mama Mila lagi, dia merapatkan kedua tangannya di bawah dada terlipat dan menatap Abian, "Kalau kamu mau Mama, itu gampang! Nanti Oma yang carikan Mama untuk kamu dan istri untuk Papamu, yang jelas bukan pembantu seperti pengasuhmu itu! Masa iya aku punya menantu seorang pengasuh anak. Ya gak mungkin lah! Gak level!" ucapnya lagi dengan mata yang mendelik. "Menantuku nanti harus sederajat! Kaya, cantik, modis dan berkelas. Bukan pembantu!"
Sesha yang mendengar Mama Mila berucap itu menelan salivanya. Entah mengapa hatinya terasa nyeri saat mendengar Mama Mila berucap, seolah ada pisau tajam yang menusuk dadanya, kemudian menyiramnya dengan air garam.
Perih tak terkira.
"Kenapa tidak mungkin?" sahut Alfa beranjak dari duduknya, "Semua mungkin-mungkin saja! Aku bisa menikahi Sasa," ucap Alfa lagi.
Sesha sontak langsung menatap Alfa begitu pun sebaliknya, mereka saling beradu pandang.
Tap tap tap.
Alfa mendekati Sesha hingga akhirnya berdiri satu langkah di depan wanita itu. Ia rasa ini waktu yang tepat untuk melakukan rencana yang sudah matang ia pikirkan saat di ruang kerjanya tadi.
"Sasa? Kamu mau menikah dengan saya?" tanya Alfa.
__ADS_1
"Hah?" Mata Sesha sontak terbuka sempurna kaget.
Bersambung