Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Chapter. 55


__ADS_3

"Itu artinya dia itu calon Nyonya Alfanza?" tanya Mama Ika menatap Rafa dengan mata yang berbinar.


"Iya, hari di mana aku di pecat oleh Tuan Alfa, mereka sudah fitting baju pengantin," jawab Rafa dengan nada yang kesal. Jujur saja sampai detik ini ia masih mencintai adik tirinya itu.


Tapi, sudah tak ada sedikitpun jalan agar wanita itu bisa menjadi miliknya. Dulu mungkin bisa, tapi sekarang? Saingannya adalah Alfanza Ardhani. Jelas sampai kapan pun ia tak akan pernah mungkin bisa mendapatkannya.


"Bagus kalau begitu," ucap Mama Ika seraya tersenyum, ia lalu beranjak dari duduknya dan berdiri, lalu berjalan ke arah kamarnya.


Tak berselang lama kemudian, ia keluar dari kamarnya sudah dengan pakaian yang rapi. Rafa yang melihatnya mengerutkan alis.


"Mama mau kemana?" tanya Rafa saat melihat sang ibu yang bersiap terlihat hendak pergi.

__ADS_1


"Ke rumah Tuan Alfanza, Mama ingin menemui si Sesha itu. Mama capek hidup susah di sini denganmu, jadi Mama akan menemui dia dan menjual kemiskinan kita pada dia agar hidup kita bisa enak seperti dulu. Siapa tau kan nanti kita bisa tinggal di rumah Tuan Alfa dan menikmati fasilitas dari dia. Sesha pasti tidak tega jika melihat kita hidup susah seperti sekarang," ucap Mama Ika dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Ia menatap langit-langit rumah kontrakannya, membayangkan bagaimana nanti jika ia menjadi Nyonya besar di rumah Alfa. Ia bisa memerintah siapa pun dan menikmati hidupnya.


"Jangan membayangkan sesuatu yang tidak akan pernah mungkin terjadi!" sahut Rafa hingga lamunan Mama Ika buyar seketika.


Mama Ika kembali menatap Rafa lagi dan bertanya, "Kenapa?"


"Sesha tidak akan mungkin mau menerima Mama! Aku yang dulu dekat dengan dia dan selalu membela dia saat Mama siksa saja tidak di anggap! Ya apalagi, Mama. Tadi, sebelum pulang aku menemui dia di sekolahan calon anak tirinya. Aku memohon meminta pekerjaan pada dia, tapi apa yang aku dapatkan? Hanya malu! Dan sekarang Mama berkhayal ingin tinggal di rumah mewah itu? Pffftt ...," Rafa tertawa pelan, "Jangan bermimpi terlalu tinggi, Mah. Kalau aku saja yang dulu dekat dengan dia, dia masa bodo, tidak mau membantu ya apalagi Mama! Ingat, Mama dulu menyiksa dia habis-habisan. Mama mengambil uang hasil kerjanya dan bahkan mengambil rumah milik orang tuanya, terus Mama juga usir dia dari rumah itu. Jadi udah deh, Mah, daripada nanti Mama malu, mending diam di rumah karena Sesha yang sekarang sudah bukan Sesha yang dulu."


"Sesha yang sekarang itu ratu tega! Dia tidak akan mau peduli dengan kemiskinan kita," ucap Rafa lagi.

__ADS_1


"Cih! Dasar anak tidak tahu diuntung! Harusnya dia merasa hutang budi dong sama Mama! Memang dia besar begitu saja? Mentang-mentang sudah kaya, dia tidak mau menganggap kita!"


Rafa memutar kedua bola matanya malas saat sang ibu berucap. "Faktanya dia besar sendiri sih, Mama kan hanya mengurusi Dewi saja, tidak pernah sekali pun peduli pada Sesha."


"Ya ... tapi kan ...."


Rafa yang enggan mendengar sang ibu berucap itu beranjak dari duduknya dan langsung berjalan ke arah kamar.


"Ck! Dasar!" gerutu Mama Ika.


"Mamaaaa ...." pekik Dewi tiba-tiba.

__ADS_1


Mama Ika sontak langsung melihat ke arah pintu, ia begitu terkesiap saat melihat sang putri yang datang ke rumahnya dengan wajah yang terlihat mengkhawatirkan.


Bersambung


__ADS_2