
“Bagaimana?” tanya Alfa saat Daffa baru saja masuk ke ruang kerjanya.
Daffa yang sudah terduduk di kursi yang berhadapan dengan Alfa itu menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?” tanya Alfa.
“Kemarin aku sudah menghubungi Marcel dan mengatakan tujuanku pada dia. Awalnya dia bilang kalau sepertinya itu tidak mungkin karena ternyata menjadi wanita malam bukan pekerjaan dia.”
“Bukan pekerjaan? Maksudnya bagaimana? Bukankah menjadi kupu-kupu malam adalah pekerjaan dia?” tanya Alfa. "Malam itu, hari pertama dia bekerja bukan?"
“Sayangnya ternyata tidak,” jawab Daffa, “Pada saat itu, wanita yang tidur denganmu itu ternyata sedang dalam masalah besar dan membutuhkan uang yang banyak. Ibu tirinya meminta uang untuk membayar hutang dan uangnya butuh malam itu juga. Kalau tidak ibu tirinya akan menikahkan dia dengan pria tua yang sudah meminjamkan uang.”
Alfa menatap Daffa begitu sangat serius saat sahabatnya itu bercerita.
“Dia tidak mau menikah dengan pria itu. Karena tidak ada cara lain akhirnya mau tidak mau dia menerima tawaran tidur denganmu untuk membayar hutang. Katanya dia lebih memilih memuaskan seorang pria di atas ranjang hanya sekian jam, daripada harus memuaskan pria tua dalam jangka yang panjang,” jelas Daffa.
__ADS_1
“Jadi ... waktu itu aku pria pertama dan terakhir yang membeli tubuhnya?” tanya Alfa setelah mendengar penjelasan dari Daffa.
Daffa memberi anggukan kepala pada Alfa mengiyakan ucapan pria itu. “Iya, kemarin Marcel sudah berusaha menawarkan lagi, tapi ternyata wanita itu menolak. Dia tidak mau lagi melakukannya, cukup sekali menjual diri seumur hidup katanya,” jawab Daffa.
Alfa duduk bersandar pada kursinya nampak sangat kecewa mendengar ucapan Daffa. Padahal ia ingin sekali bertemu kembali dengan wanita yang sudah tidur dengannya.
“Kalau dia tidak mau ya sudah, Al. Kan masih banyak wanita lain yang aku yakin permainannya tak kalah hebat dari dia,” ucap Daffa seraya menaik-turunkan alisnya pada Alfa. “Atau kamu mau yang masih gadis lagi? Akan aku cari sampai dapat, bahkan dengan harga yang lebih murah dari kemarin pun aku yakin banyak! Bagaimana? Kamu mau?”
Alfa langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak menginginkan yang lainnya. Aku tidak terlalu suka celap celup sana sini dengan asal wanita. Memangnya kamu!” jawab Alfa dengan mata yang mendelik sinis
“Sssstt ... diam dan jangan banyak bicara! Karena dia tidak mau ya sudah, aku tidak akan meniduri wanita lain lagi. Aku tidak mau nantinya terkena penyakit! Apa kamu juga tidak takut, huh?”
“Yaa ... agak takut sih.”
“Kalau begitu hentikan! Selain dosa kamu juga bisa terkena penyakit! Bagaimana kalau itu menular padaku, huh? Sebaiknya kamu cari perempuan baik-baik kemudian nikahi dia! Jangan terlalu sering jajan!”
__ADS_1
Daffa membuang napas dengan sangat kasar.
“Setan di tubuhmu sepertinya begitu sangat banyak! Aku hanya mengatakan sebuah kata saja kamu sudah kepanasan. Bagaimana kalau aku mengucapkan ayat-ayat suci? Kamu pasti akan semakin kepanasan!”
“Ck!” Daffa berdecak saat mendengar kata-kata yang terucap dari mulut Alfa.
“Jujur saja, setelah mendengar penjelasan darimu tentang wanita itu. Aku jadi sangat menyesal! Kalau tahu dia terpaksa melakukannya hanya demi mendapatkan uang untuk membayar hutang ibunya. Pasti tidak akan aku lakukan! Aku tidak akan menyentuhnya dan lebih baik memberikan uang itu begitu saja pada dia agar dia tak harus sampai menjual diri."
“Ya sudah lah, Al. Kenapa diambil pusing? Toh kamu juga menikmatinya, kan? Jadi ya sudah.”
Alfa memicingkan mata dan mendelik dengan sangat sinis. Sedangkan Daffa, ia beranjak dari duduknya setelah mendengar ucapan Alfa yang terasa panas di kupingnya.
“Mau kemana kamu?” tanya Alfa.
“Ya kerja lah,” jawab Daffa, ia lantas langsung keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Bersambung ….