
Alfa mengalihkan pandangannya dari Sesha ke Abian karena wanita itu malah diam tak berucap, matanya hanya memperlihatkan sorot mata yang terlihat kaget.
"Abi ingin punya Mama, kan? Kalau Ibu Sasa jadi Mama Abi, Abi mau tidak?" tanya Alfa.
"Mau, Paaa ... Abi mauuuu ...." jawab Abian sangat antusias menjawab ucapan sang ayah.
Alfa balas tersenyum dan mengelus lembut pipi anaknya, ia lalu kembali menatap Sesha lagi. "Saya ... ahhh ralat, aku maksudnya," ucap Alfa pada Sesha, "Aku anggap diammu itu sebagai jawaban iya dan bersedia, Minggu depan kita menikah."
"Hah?" Sesha semakin terlihat kaget.
"Apa-apaan kamu ini Alfanza! Tidak! Mama tidak setuju!" sahut Mama Mila bersuara kembali karena tidak terima mendengar Alfa mengatakan ingin menikahi Sesha yang bekerja di rumahnya selama 5 tahun ini. "Masa iya kamu menikah dengan seorang wanita yang cuma pengasuh! Enggak ya! Mama tidak merestui hubungan kalian."
"Setuju atau tidaknya Mama, merestui atau pun tidak, aku akan tetap menikahi Sasa, demi Abian." ucap Alfa beralasan.
Padahal faktanya alasan demi Abian itu hanyalah sebuah alasan saja karena ia sudah mempunyai rencana. Ia berniat akan menikahi Sesha terlebih dahulu agar wanita itu terikat dengannya, lalu nanti jika ia dan Sesha sudah sah sebagai suami dan istri, baru ia akan mengatakan dengan Jujur pada Sesha jika Abian adalah anak kandung mereka berdua. Mengatakan jika Abian adalah bayi yang Sesha lahirkan 5 tahun yang lalu namun ia menciptakan kebohongan pada Sesha.
Sengaja ia mengikat Sesha dengan pernikahan terlebih dahulu agar nanti Sesha tak bisa kabur darinya dengan membawa Abian. Jika sudah terikat dengan pernikahan, Sesha pasti akan tetap bersama dengannya karena statusnya sudah sebagai istri.
"Ada apa denganmu, huh? Kenapa tiba-tiba ingin menikahi dia?" tanya Mama Mila pada Alfa kemudian mengarahkan jari telunjuknya pada Sesha, "Apa sebenarnya dia diam-diam menggodamu? Atau ... jangan-jangan ... dia pelet kamu?" tuduh Mama Mila.
"Astaghfirullahaladzim, tidak Nyonya. Saya tidak sehina itu sampai menggoda Tuan Alfa apalagi sampai melakukan pelet seperti yang Nyonya katakan. Saya tidak pernah main-main dengan yang namanya sihir atau dukun, itu kan haram, tidak boleh."
"Alaah! Tidak usah menyangkal kamu! Kamu pasti main dukun, kan? Gak mungkin Alfa tiba-tiba mau menikahi kamu kayak begini," sahut Mama Mila.
__ADS_1
Alfa memejamkan mata, kemudian menatap sang ibu lagi. "Kita hidup sudah di jaman yang modern! Jangan mempercayai hal seperti itu! Lagi pula Sesha tidak mungkin melakukan hal gila seperti itu," Alfa membela Sesha, "Mau kapan juga dia pergi ke dukunnya, huh? Begitu bangun pagi dia langsung pergi ke dapur untuk membantu Bibi masak di dapur, terus setelah itu bangunin Abian untuk mandi dan siap-siap ke sekolah. Dia jaga Abian di sekolah terus kalau udah waktunya pulang dia langsung pulang ke rumah dan gak pernah kemana-mana lagi, dia hampir 24 jam bersama dengan Abian, jadi mau kapan ke dukunnya?"
"Ya ... siapa tau dia menyuruh orang, kan?" jawab Mama Mila dengan dagu yang terangkat.
"Huuuhh ...," Alfa membuang napas dengan sangat kasar, "Sudahlah, Maa ... Alfa sedang malas berdebat, pokoknya Alfa akan tetap menikahi Sasa," ucap Alfa lagi.
"Ya tapi—"
"Kalau Mama tidak menyetujui pernikahan ini ya sudah tidak apa-apa, Alfa juga tidak peduli kok," jawab Alfa, "Alfa akan tetap menikahi Sasa, kalau Mama mau mengancam Alfa tidak akan mendapatkan warisan dan Alfa harus meninggalkan perusahaan, itu juga tidak apa-apa. Alfa akan pergi tanpa membawa harta sepeserpun dari rumah ini. Paling-paling perusahaan nantinya akan bangkrut karena tidak ada pemimpin, endingnya keluarga ini miskin juga."
"Alfa—"
"Abian, Sasa ... ayo, kita ke kamar," ucap Alfa menyela ucapan sang Ibu.
Berbeda saat berada di tangan sang suami, setelah menemukan hobi barunya, sang suami jadi jarang pergi ke kantor dan bahkan jarang juga berada di rumah. Dulu perusahaan sempat beberapa kali goyah juga karena pemimpin perusahaan tidak fokus mengurus perusahaan.
"Ck!" Mama Mila berdecak kesal.
Sedangkan Alfa, Sasa dan juga Abian, kini sudah berada di dalam kamar Abian.
Sesha meminta Abian untuk berganti pakaian di ruang ganti baju yang berada di kamar itu. Kemudian ia menatap Alfa siap berbicara.
"Kenapa anda mengatakan omong kosong seperti itu, Tuan?" tanya Sesha.
__ADS_1
"Siapa yang mengatakan omong kosong? Aku tidak mengatakan omong kosong, aku serius dengan ucapanku untuk menikahi kamu. Keputusanku sudah sangat bulat, Minggu depan kita menikah," ucap Alfa.
"Menikah Minggu depan? Enggak!" jawab Sesha cepat, "Saya tidak mau menikah dengan, Tuan." jawab Sesha menolak. Karena jika ia menikah dengan pria di hadapannya itu, penyamarannya pasti akan terbongkar.
Walau sebenarnya Alfa juga sudah tahu siapa Sasa selama ini yang ternyata adalah Sesha.
Tetapi Sesha yang belum mengetahui jika Alfa sudah mengetahuinya siapa dirinya itu jadi was-was dan tak tenang hati, jantungnya bahkan mulai berdegup kencang. Ia belum siap penyamarannya diketahui karena bingung harus bagaimana mengatakannya nanti.
Pria di hadapannya itu pasti akan sangat kaget dan lagi, ia masih belum siap menatap Rafa si kakak tirinya yang masih bekerja sebagai satpam di rumah Alfa. Ia masih belum siap berhadapan dengan Rafa sebagai Sesha karena bingung juga cara menghadapi pria itu setelah sang kakak yang berusaha mencelakainya 5 tahun yang lalu.
"Kenapa tidak mau?" tanya Alfa.
"Hah? Hmmm … Tu–Tuan kan belum pernah melihat wajah saya, jadi bagaimana bisa Tuan menikahi wanita yang wajahnya belum Tuan lihat sama sekali. Dan bukankah Tuan mencintai wanita yang ada di foto? Kenapa malah tiba-tiba ingin menikahi saya? Apa cinta Tuan pada dia sudah pudar? Sudah tidak lagi mencintai dia sampai mau menikah dengan saya? Atau ... Tuan mau menjadikan saya pelampiasan?"
Seluas senyum terlihat di bibir Alfa, tangannya terlipat di bawah dada. "Mau sampai kapan kamu bohongi saya kayak begini, huh?" tanya Alfa. "Mau sampai kapan kamu pura-pura?"
Sesha menelan salivanya. "Bo–bohong apa?" tanya Sesha.
"Saya sudah tahu kamu siapa," jawab Alfa.
"Hah? A–apa?"
Bersambung ....
__ADS_1