
Tok tok tok.
“Masuk.”
Sesha yang berdiri di depan pintu ruang kerja Alfa itu masuk setelah si empunya ruangan mengizinkannya masuk. “Tadi Tuan memanggil saya? Ada apa?” tanya Sesha.
“Duduk,” pinta Alfa.
Sesha mengikuti apa yang Alfa katakan, ia lantas langsung terduduk di kursi yang berhadapan dengan Alfa.
“Tadi kita belum sempat membicarakan masalah gaji, setelah saya tanya sana-sini perihal gaji baby sitter, saya—“
“Tuan atur saja baiknya bagaimana, dibayar berapa pun saya tidak masalah,” sela Sesha memotong, “Saya bisa mengurus baby Abi saja itu sudah jauh lebih cukup untuk saya. Saya seperti sedang mengurus anak saya sendiri. Dia juga lahir satu bulan yang lalu, sayang dia sudah pulang lebih dulu. Jadi baby Abi sudah bagai obat rindu saya pada anak saya.”
“Aaahh ... oke,” jawab Alfa mengangguk paham.
“Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, Tuan? Saya harus beres-beres kamar, sebelum baby Abi bangun lagi dari tidurnya.”
“Sudah, hanya itu saja yang ingin saya tanyakan,” ucap Alfa.
Sesha lantas langsung beranjak dari duduknya. “Baik kalau begitu saya permisi.” ucap Sesha. Setelah melihat Alfa yang memberikan anggukan kepala, Sesha lantas langsung keluar dari ruang kerja Alfa untuk membereskan beberapa pakaiannya di kamar baru yang akan dia tempati nanti.
.
.
.
Jarum jam di dinding ruangan berputar, langit yang tadi cerah kini sudah mulai terlihat gelap. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Sesha masih berada di kamar baby Abi yang ternyata kamar itu adalah kamar Alfa.
__ADS_1
Selama satu bulan ini baby Abi memang selalu tidur bersama dengan Alfa dan belum mempunyai kamar sendiri. Karena bayi sekecil itu tidak mungkin tidur sendiri, kan? Jadi baby Abi tidur bersama dengan ayahnya.
Namun, karena kini baby Abi akan lebih banyak bersama dengan Sesha, Alfa sepertinya akan membuat kamar baru khusus untuk baby Abi agar nanti Sesha lebih leluasa masuk kamar itu.
Mata Sesha melihat ke segala arah, sejak tadi ia terlalu sibuk mengurusi baby Abi dan belum lagi harus membereskan kamar yang akan tempati hingga tak menyadari apa saja yang berada di kamar itu.
Dengan tangan yang masih menimang-nimang baby Abi, Sesha berjalan ke arah lemari yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa di samping pintu. Ada beberapa bingkai foto yang berada di atas sana dan salah satunya ada foto seorang bayi.
Sesha lantas langsung mengambil foto itu dan melihatnya dengan seksama. “Ini Abi? Lucu sekali,” guman Sesha.
“Itu saya waktu masih seusia Abi, bukan Abian,” jawab Alfa berdiri diambang pintu.
Sesha sontak langsung menoleh melihat ke arah Alfa yang sedang melihat ke arahnya dengan lengan yang bersandar ke dinding pintu dan dengan kedua tangan yang terlipat di bawah dada.
“Memangnya kamu tidak lihat kalau itu fotonya foto jadul? Masa mengira kalau itu Abi.”
“Saya pikir ini model fotonya begini, Tuan. Kan biasanya ada pake filter-filter jaman dulu gitu, jadi saya pikir konsepnya begitu,” ucap Sesha, “Lagi pula foto Tuan dengan Baby Abi sangat mirip sekali dan nyaris sama sempurna, jadi saya pikir ini beneran baby Abi.”
“Orang juga banyak yang mengatakan seperti itu,” ucap Alfa. “Huuuhhh ... sudahlah,” Alfa membuang napas, “Dia sudah tidur? Kalau sudah tolong tidurkan dia di ranjang, saya sudah sangat mengantuk dan ingin sekali tidur. Kamu juga pasti lelah karena sejak tadi terus menjaga dia, kan? Jadi tidurkan dia dan beristirahat lah.”
Sesha lantas langsung melihat ke arah baby Abi yang sudah terpejam dalam gendongannya, kemudian menatap Alfa lagi. “Sudah, baby Abi sudah tidur,” ucap Sesha. Ia langsung membaringkan baby Abi di atas ranjang.
Namun, saat Sesha berjalan ke arah pintu hendak keluar, baby Abi malah kembali merengek lagi. Sesha lantas langsung berjalan ke arah ranjang lagi dan menepuk pelan paha baby Abi agar kembali tertidur lagi.
Saat rengekannya mereda, Sesha lantas langsung kembali beranjak lagi hendak keluar. Namun, lagi-lagi baby Abi kembali merengek lagi, hal itu terus berulang sampai 3 kali. Hingga Alfa yang melihatnya mendengus kesal.
“Sudah, kamu tidur saja di situ dengan Abi. Biar saya tidur di kamar tamu saja,” ucap Alfa.
“Tapi, Tuan—”
__ADS_1
“Sudah, tidak apa-apa,” sela Alfa memotong, “Daripada dia menangis, itu akan membuat Mama dan yang lainnya terganggu. Mama selalu mengatai Abian dengan kata-kata yang membuatku kesal kalau Abi rewel. Jadi kamu di sini saja agar dia tidak menangis, biar malam ini dia juga bisa tidur nyenyak karena selama ini, kalau dia tidak mendapatkan ASI dari ibunya, dia selalu menangis.”
Sesha akhirnya mengangguk pelan mengiyakan. Sedangkan Alfa, ia langsung berbalik dan keluar dari kamar.
Saat Alfa keluar dari kamarnya, dahi Sesha mengernyit. “Kalau tidak mendapatkan ASI dari ibunya baby Abi menangis? Itu artinya ibunya masih ada dan belum meninggal? Tapi ibu-ibu yang tadi siang bilang ibunya Abian sudah ... hmmm ... sepertinya dia kurang mendapatkan informasi,” gumam Sesha, “Tapi ... ibu mana yang tega meninggalkan bayi sekecil ini? Apa hidupnya bisa tenang meninggalkan bayi sekecil ini? Dia tidak tahu apa rasanya kehilangan anak itu bagaimana?”
Sesha mendengus kesal, ia lantas langsung berbaring di samping baby Abi dan mulai memejamkan mata.
Sedangkan Alfa, dia berjalan menuruni anak tangga hendak ke kamar tamu untuk tidur di sana. Tetapi, saat membuka pintu kamar itu, ia langsung menutup hidup saat mencium aroma bau apek dari dalam kamar itu.
“Astagfirullah, bau banget!” ucap Alfa. Ia melihat ke segala arah kamar itu yang terlihat benar-benar tertutup dan tak ada ventilasi udara karena tak ada jendela sama sekali. Kamar itu berada di bawah tangga dan memang tak ada jendela untuk mendapatkan sinar matahari. Belum lagi kamar itu selalu tertutup dan jarang dipakai. “Enggak, enggak! Aku gak bisa tidur di tempat yang bau kayak begini,” gumam Alfa lagi.
Alfa berbalik dan akhirnya berjalan menaiki anak tangga lagi, ia akan tidur di sofa ruang menonton TV dekat kamarnya saja. Agar ia pun nanti bisa melihat Abian yang tidur di sana.
.
.
Pukul 2 dini hari.
Alfa yang sedang tertidur itu terbangun dari tidurnya saat mendengar rengekan dari dalam kamarnya. Ia lantas langsung berjalan ke arah pintu kamarnya dan melihat Sesha yang sedang terduduk dan siap memberikan ASI-nya. Alfa lantas langsung berbalik tak berani melihat dan kembali ke arah sofa lagi.
Selang 30 menit kemudian, Alfa yang baru saja kembali terpejam itu kembali mendengar rengekan lagi di kamarnya. Ia kembali mengintip lagi, kini dilihatnya Sesha yang bersandar pada headboard kasur dengan mata yang terpejam, kemudian akhirnya mulai berbaring di samping Abian dan menepuk pelan paha Abian dengan mata yang masih terpejam.
Alfa yang melihatnya merasa sangat kasihan dan tidak tega. Ia lantas langsung masuk ke kamarnya, Alfa duduk di atas lantai samping ranjang berseberangan dengan Sesha, ia menggantikan Sesha menepuk pelan paha Abian.
“Bobo ya, Nak. Kasian Ibu Sasanya pasti capek,” ucap Alfa berbisik pelan seraya mengelus lembut kepala Abian.
Beberapa saat kemudian, mata Alfa semakin berat hingga akhirnya ia pun tertidur juga.
__ADS_1
Tangan mungil baby Abi bahkan kini mulai menggenggam keduanya. Tangan kiri menggenggam jari telunjuk Sesha yang terpejam dan berbaring di sampingnya dan tangan kanannya pun menggenggam jari telunjuk Alfa yang terpejam juga dengan kepala yang bersandar di atas kasur. Pria itu tertidur dengan posisi terduduk karena tak tahan menahan rasa kantuknya.
Bersambung