Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Chapter. 32


__ADS_3

“Dia siapa, Ma?”


Sesha yang terperanjat kaget saat melihat Alfa itu sontak langsung berbalik memutar tubuh memunggungi Alfa. Ia begitu sangat kaget melihat pria yang selama ini ia hindari kini berada tepat di depan matanya. ‘Kenapa dia ada di sini?’ batin Sesha berucap.


“Alfa? Liat, anakmu mau menyusu dan jauh lebih tenang.” Bukannya menjawab pertanyaan Alfa, Mama Mila malah berucap yang lain.


‘Anak? Bayi ini anak dia?’ batin Sesha berucap lagi, ‘Jadi dia mempunyai anak lain? Huh! Ternyata dia tak lebih dari seorang pria brengsek. Ternyata dia sudah mempunyai pasangan, tetapi malah mencari wanita malam. Apa jangan-jangan ibu bayi ini tiada karena stress memikirkan dia yang suka main perempuan? Ya ampun! Jahat sekali! Jika anakku hidup dan tumbuh besar, dia pasti akan sangat kesal dan kecewa karena mempunyai ayah seperti dia,' batin Sesha berucap lagi.


Jika Sesha sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Mata Alfa malah tertuju pada baby Abi yang tersembunyi di balik Khimar, tetapi kakinya terlihat sedikit. Ia cukup kaget saat melihat baby Abi yang jauh lebih tenang tak menangis.


“Dia sedang menyusu?” tanya Alfa.


“Iya,” jawab Mama Mila. “Akhirnya, dia mau menyusu juga dan tidak lagi rewel! Kita menemukan penyelamat!” ucap Mama Mila lagi begitu sangat senang.


Alfa melihat punggung wanita yang terduduk membelakanginya. “Jika dia sudah selesai memberikannya ASI, minta dia untuk temui aku di ruang kerja, Ma.” ucap Alfa. Sebelum mendengar jawaban ibunya, Alfa sudah lebih dulu berbalik dan pergi.


.


.


.


Beberapa saat kemudian, setelah baby Abi sudah tertidur pulas dengan perut yang kenyang, Sesha langsung diantarkan ke ruang kerja Alfa.


Tok tok tok.


“Masuk,” ucap Alfa yang berada di dalam ruangan.


Sesha lantas langsung masuk ke ruangan itu setelah mendapatkan izin dari si pemilik ruangan. Ia berjalan perlahan mendekati meja kerja Alfa.

__ADS_1


“CV kamu mana? Data diri atau tanda pengenal yang lain? Biar saya tau nama kamu itu siapa, tinggal di mana dan yang lainnya.”


Sesha sontak langsung menelan salivanya saat Alfa bertanya. “Sa—saya tidak punya tanda pengenal, Tuan. Semua data diri saya hilang di bawa arus saat rumah saya kebanjiran,” ucap Sesha beralasan.


Dahi Alfa mengernyit saat merasa tak asing dengan suara dari wanita yang berada di hadapannya itu. Namun, ia tak begitu memperdulikannya. “Lahhh ... jadi kamu ke sini tidak bawa apa-apa.”


“Sebenarnya tadi saya hanya sekedar lewat saja. Terus tidak sengaja melihat beberapa ibu-ibu yang keluar dari rumah ini. Setelah mendengar cerita dari mereka saya merasa iba pada baby Abi, jadi saya coba saja datang ke rumah ini. Karena tadi sempat mendengar tangisan bayi, tanpa izin saya langsung masuk. Saya tidak tega mendengar bayi menangis sekencang itu dan saya langsung menggendongnya,” ucap Sesha lagi beralasan.


“Ahhh, jadi kamu tau ada lowongan sebagai ibu susu di sini, dari orang yang sempat melamar jadi ibu susu juga? Bukan dari saudara, teman atau tetangga.”


Sesha mengangguk ragu.


“Suami kamu?”


Saliva Sesha terasa tertahan di tenggorokan, ia sudah banyak mengatakan kebohongan dan sekarang ia bingung harus mengatakan kebohongan apa lagi perihal suami.


“Suami kamu kemana?” tanya Alfa lagi, “Terus anak kamu?”


Alfa cukup miris saat mendengarnya, ia bingung harus menerima wanita di hadapannya ini atau tidak. Masalahnya wanita di hadapannya itu sama sekali tidak mempunyai identitas yang jelas.


“Kamu tidak punya identitas sama sekali, saya bingung harus menerima kamu atau—“


“Dia harus kamu terima!” ucap Mama Mila tiba-tiba. Hingga Alfa dan juga Sesha langsung menoleh melihat ke arah belakang. “Pokoknya dia harus tinggal di sini juga!”


“Ya gak bisa begitu dong, Ma. Masa kita main terima gitu aja, mana dia tidak punya identitas sama sekali. Masa kita menerima orang gak jelas masuk ke rumah kita,” ucap Alfa.


Mama Mila yang berada diambang pintu itu masuk dan menghampiri Alfa. “Apa arti sebuah identitas, Al? Udahlah, masalah itu tidak perlu diambil pusing! Yang penting anak kamu bisa diem di gendongan dia dan ternyata mau menyusu juga dengan dia! Kamu tahu sendiri, sudah banyak ibu-ibu yang mempunyai batita datang ke rumah ini untuk menyusui anak kamu itu tapi gak ada satu pun dari mereka yang bisa naklukin tuh bayi! Cuma perempuan ini satu-satunya yang bisa nenangin!”


“Ya tapi, Ma—”

__ADS_1


“Kalau kamu tidak cocok dengan dia karena tidak punya identitas, bawa saja anak harammu itu pergi dari rumah ini! Mama tidak mau mengurus anak harammu itu! Berisik!”


Brak!


Alfa menggebrak meja dengan sangat kasar hingga Sesha memejamkan mata karena kaget. “Ma!” pekik Alfa tidak terima saat baby Abi disebut anak haram.


Sesha yang mendengar Mama Mila mengatai baby Abi dengan sebutan anak haram juga cukup terkesiap kaget.


“Yang haram itu perbuatan aku dengan ibunya! Jadi jangan sekali-kali Mama mengatai Abian seperti itu! Aku tidak suka! Aku tidak mau mendengar kata seperti itu lagi, kalau masih mendengarnya ... aku akan pergi dari rumah ini dan meninggalkan perusahaan! Biarkan saja perusahaan itu bangkrut, aku tidak peduli!”


Kedua tangan Mama Mila terkepal kuat. “Ya kalau begitu urus anakmu itu! Jangan buat Mama pusing dan jangan buat rumah ini berisik! Kalau tidak becus jadi ayah ya jangan membuat anak! Pokoknya Mama tidak mau tau, wanita ini harus kerja di rumah ini sebagai pengasuh Abian. Mama tidak mau pusing lagi mengurusi anak kamu itu!” teriak Mama Mila, kemudian dia langsung berbalik dan keluar dari ruangan itu.


Alfa membuang napas kesal, ia mengusap wajahnya begitu sangat frustasi. Sejak kedatangan Abian ke rumah, ibunya itu memang terlihat tak menyukai keberadaan Abi. Apa lagi saat Alfa mengatakan jika baby Abi adalah putranya, Mama Mila begitu sangat marah. Mama Mila begitu sangat kecewa dan tidak terima juga saat membaca hasil tes DNA yang menyatakan kalau baby Abi memang 99% darah daging Alfa dan keturunan keluarga Ardhani.


Tetapi akhirnya ia menerima keberadaan baby Abi karena Alfa mengancam akan kabur, akhirnya mau tidak mau ia menerima keberadaan Abian.


“Ck!” Alfa berdecak, tapi sejenak ia berpikir. Tak ada salahnya juga menerima wanita yang berdiri di hadapannya itu sebagai pengasuh Abian.


Karena itu artinya, ia tak harus menemui Sesha dan tak harus meminta Sesha untuk datang ke rumahnya. Ia tak harus berkata jujur jika Abian, anak yang Sesha lahirkan itu masih hidup dan juga tak harus mengatakan kebohongan pada Sesha.


Ia bisa melupakan keberadaan Sesha selamanya, karena Abian sudah menemukan pengasuh yang cocok.


Alfa lalu menatap Sesha yang kini sedang menunduk. “Mulai hari ini kamu sudah bisa kerja mengurus Abian,” ucap Alfa.


Sesha sontak langsung menatap Alfa. “Tuan serius?” tanya Sesha.


“Ya! Saya serius!” ucap Alfa, “Kamu boleh pulang sebentar untuk ambil baju-baju kamu, terus langsung datang ke rumah ini lagi!”


“Ba–baik, Tuan. Saya akan pulang sebentar dan sore nanti sebelum gelap saya pasti sudah kembali ke rumah ini lagi.”

__ADS_1


Di balik cadarnya, Sesha tersenyum begitu sangat bahagia. Entah mengapa ia merasakan kebahagiaan yang luar bisa senang saat diterima kerja dan bisa mengurus bayi yang baru ia temui. Ia belum pernah merasakan kebahagiaan sebesar yang kini sedang ia rasakan.


Bersambung


__ADS_2