Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Bab 11. Rencana Dengan Persiapan Yang Matang


__ADS_3

“Ibu tiri kamu bilang begitu? Nyuruh kamu deketin aku biar kecipratan duitnya dan bahkan minta kamu untuk rebut pacar aku?” tanya Lita begitu sangat kaget saat mendengar Sesha bercerita. Ia dan Sesha kini sedang berada di kantin pabrik tengah menikmati makan siang bersama.


Sesha yang mendengar jawaban Lita setelah ia menceritakan kejadian semalam langsung memberikan anggukan kepala.


“Ya ampun, aku beneran gak habis pikir sama pikiran ibu tiri kamu. Aku beneran mikir jahatnya ibu tiri tuh ya cuma di sinetron doang loh,” ucap Lita.


“Fakta kejamnya ibu tiri ada di dunia nyata!” jawab Sesha, "Yang lebih jahat dari ibu tiriku keknya ada juga deh."


“Cepetan urus deh tuh rumah, Sha! Biar kamu yang menguasai rumah mendiang orang tua kamu itu dan usir si nenek sihir itu!” ucap Sesha.


“Entahlah, Lit. Sekarang aku malah ragu untuk mempertahankan rumah itu, karena aku rasa walau rumah itu sudah berpindah nama jadi nama aku. Pasti akan datang masalah baru yang memungkinkan aku tidak mungkin mengusir ibu tiri aku.”


“Kenapa?” tanya Lita.

__ADS_1


“Ibu tiri aku ini kan pandai membuat drama. Setelah aku pikir-pikir … kalau misal nih nanti aku usir dia, bagaimana kalau nantinya dia malah membuat drama mengatakan pada semua tetangga kalau aku ini anak durhaka karena mengusir dia padahal dia ini sudah mengurus aku. Kamu paham dong nanti pikiran para tetangga itu apa? Belum lagi Kak Rafa, sejahat-jahatnya seorang ibu, kalau si anak liat ibunya diusir ya pasti akan berada di pihak ibunya.”


“Iya juga sih, bener apa kata kamu, salah-salah malah kamu yang jadi bahan bully-an para tetangga,” ucap Lita, “Hmm ... ya udah, biarin aja dia tinggal di rumah itu dan jadikan saja ibu tiri kamu itu babu.”


“Percuma! Itu juga tidak akan mungkin! Ibu tiri aku pasti akan buat drama lagi dan jelas yang akan di salahkan itu aku, Lita! Hidup selama 10 tahun dengan dia buat aku paham bagaimana sifatnya,” jawab Sesha.


“Ya udah sih, Sha. Kamu kabur aja dan tinggalin mereka.”


“Ngomong mah gampang, Lit! Kebutuhan rumah itu pake uang dari hasil gaji aku kerja di sini. Kalau aku kabur gitu aja, jelas ibu tiri aku bakalan cari aku sampe ketemu. Dia kan tau aku kerja di sini, ya pasti langsung ketemu lah.”


“Bikin usaha dengan uang haram? Enggak deh, Lit. Makasih! Aku gak mau buka usaha dengan uang haram itu, aku bahkan sekarang bingung itu uang mau aku pake apa.”


“Terus kamu mau bertahan di rumah itu? Astaghfirullah, Sesha! Atau gini aja deh ...,” Lita mendekati Sesha dan berbisik, “kamu jujur aja sama ibu tiri kamu kalau semalam kamu sampe jual diri untuk dapetin uang itu. Siapa tau itu nenek sihir jadi iba dan kasihan sama kamu.”

__ADS_1


Sudut bibir kanan Sesha terangkat saat mendengar bisikan Lita, dia kemudian balas berbisik, “Sebelum kamu ajak aku jual diri, ibu tiri aku sudah lebih dulu meminta aku menjual diri. Dia juga menyuruh aku menjadi simpanan om-om. Kalau dia tahu aku beneran jual diri dan ternyata hasil yang di dapat itu lebih dari lumayan, aku rasa dia akan meminta aku untuk keluar dari sini dan malah meminta aku untuk jual diri.”


“Ya ampun! Lama-lama malah aku yang gila, Sha!” jawab Lita setelah mendengar Sesha berucap. “Terus setelah ini rencana kamu apa?” tanya Lita.


“Hmmm ... besok aku akan cari pengacara dan notaris untuk urus pemindahan nama rumah. Cuma kan susahnya saat nanti minta tanda tangannya itu lho, ya kali ibu tiri aku mau tanda tangan gitu aja … kan gak mungkin. Aku harus cari cara gimana caranya nanti minta tanda tangan dia. Terus setelah berhasil, aku mau jual rumahnya dan pergi sejauh mungkin. Seperti yang kamu bilang, karena kayaknya memang tidak ada pilihan lain lagi selain kabur. Jadi ya sudah, aku akan merelakan semua kenangan yang terjadi di rumah itu. Kayaknya orang tua aku juga di atas sana lebih rela seperti itu dari pada melihat aku tinggal bersama Mama Ika."


Lita mendengarkan ucapan Sesha dengan sangat serius.


"Tadi aku bilang tidak mungkin pergi begitu saja, itu karena aku ingin pergi tanpa jejak agar ibu tiri aku nanti tidak bisa menemui aku dan aku pegang uang yang halal dari penjualan rumah! Yang halal ya, bukan pegang uang haram," ucap Sesha dengan bibir yang mengerucut, "Dan semua rencana itu butuh persiapan yang matang, sebelum pergi aku harus menyelesaikan yang ada di sini dulu. Fokus aku sekarang adalah mengambil rumah itu, terus diam-diam menjualnya. Nanti setelah pegang uangnya, baru deh kabur."


“Naaahh gitu dong, tekanan darah aku yang udah naik sekarang stabil lagi,” ucap Lita setelah mendengar rencana Sesha. Dia tersenyum puas.


“Kamu gak mau ikut sama aku? Kita bikin usaha bareng, pake uang yang halal. Kita bikin usaha dari hasil dari jual rumah nanti, lagian mau sampe kapan kamu jalanin kerja kayak begitu, Lit?”

__ADS_1


“Hm? Mmmhh ... nanti deh aku pikir-pikir lagi,” jawab Lita tersenyum tipis.


Bersambung


__ADS_2