
Setelah masuk ke kamar Sesha langsung menaruh tasnya di atas meja, kemudian ia terduduk di tepi ranjang seraya menatap layar ponselnya. Ia menyentuh layar mencari nomor Lita hendak menghubungi temannya itu untuk memberi kabar jika ternyata hasil tes yang ia lakukan beberapa menit yang lalu itu positif.
Sesha ingin meminta solusi dari Lita, karena ia bingung harus bagaimana setelah ini. Sayangnya, hanya terdengar nada dering tersambung yang tak dikunjung di angkat juga oleh Lita.
Sesha sudah berkali-kali menghubungi Lita, tetapi masih tetap sama, tak ada jawaban sama sekali.
“Aku tunggu sebentar lagi saja, mungkin dia sedang di luar dan sedang tidak lihat HP,” gumam Sesha.
5 menit selanjutnya, Sesha hendak kembali menghubungi Lita lagi, tapi belum sempat ia menekan gambar gagang telepon di aplikasi WhatsApp, suara teriakan Mama Ika sudah lebih dulu terdengar.
“SESHAAAAA ....” teriak Ika dari luar.
Sesha sontak langsung beranjak dari duduknya dan berdiri tegak.
“SESHAAAAA ....” teriak Ika.
Brak!
Sesha langsung melihat ke arah pintu saat pintu kamarnya di buka secara paksa. Dilihatnya sang ibu yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam, raut wajahnya terlihat sangat sinis. Api kemarahan terlihat sangat membara, membuat Sesha yang melihatnya semakin takut.
“Ke–kenapa, Mah?” tanya Sesha gelagapan begitu sangat gugup.
“Ini punya kamu, kan?” tanya Ika to the point seraya mengarahkan bungkusan yang ia temukan di tempat sampah kamar mandi.
__ADS_1
Mata Sesha sontak langsung terbelalak kaget saat melihat bungkus kemasan dari testpack yang ia beli tadi. Wajahnya terlihat pucat pasi saat sang ibu bertanya.
Rafa yang berdiri di belakang sang ibu itu langsung mengambil bungkusan kemasan di tangan sang ibu dan membaca tulisan yang berada di kemasan. “Ini ... bungkus bekas testpack?” tanya Rafa sedikit ragu. Ia menatap Sesha menunggu jawaban.
Sesha semakin gelagapan, jantungnya berdegup dengan sangat kencang, ia begitu sangat takut.
“Kenapa diam saja? Jawab!” pekik Ika lagi.
Sesha masih diam, dia bingung harus menjawab apa.
“Dimana kamu taruh hasilnya, huh? Mana? Mama mau lihat hasilnya!”
“Ti–tidak, Ma ... itu bukan punya Sesha,” jawab Sesha berbohong.
“Kalau bukan punya dia terus punya siapa, huh? Punya Mama? Cih! Mama ini sudah tua dan Mama tidak pernah berhubungan gelap dengan siapa pun! Kemungkinan pemilik barang ini kalau enggak Sesha ya Dewi! Tapi Dewi sedang tidak ada di rumah! Sudah seminggu ini dia liburan sama Sandi dan juga teman-temannya, jadi jelas bukan punya Dewi! Itu berarti barang ini punya Sesha!” ucap Ika lagi.
Sesha semakin menelan salivanya.
“Ya siapa tau itu beneran punya si Dewi, sebenernya dia udah pulang terus coba testpack itu. Terus dia pergi lagi,” ucap Rafa.
“Gak! Ini gak mungkin punya Dewi! Mama dari pagi di rumah dan Dewi emang belum pulang! Mama yakin ini punya Sesha, orang tadi yang terakhir di kamar mandi juga dia! Udah gitu dia lama lagi di dalam kamar mandinya, terus muka dia juga gugup!”
Rafa sontak langsung melihat ke arah Sesha, dilihatnya wajah Sesha yang memang terlihat gugup dan juga pucat, terlihat juga raut wajah yang panik.
__ADS_1
“Sha? Ini bukan punya kamu, kan?” tanya Rafa seraya mengarahkan bungkusan kemasan testpack di tangannya.
Sesha masih diam tak menjawab.
“Mana hasilnya? Mama mau liat!” pekik Ika.
Namun, sama sekali tak ada jawaban dari Sesha. Mama Ika lantas langsung berjalan ke arah nakas dan membuka laci nakas, hendak mencari hasil test pack yang ia yakini kalau itu milik Sesha.
Sesha semakin panik saat melihat Mama Ika yang mengobrak-abrik isi kamarnya.
“Gak ada, Mah. Itu bukan punya aku,” ucap Sesha berusaha menghentikan aksi sang ibu dengan mengekori langkah kaki sang ibu.
Sedangkan Rafa, dia juga mulai curiga jika bungkusan yang sedang ia pegang dengan sangat erat itu milik Sesha. Karena wajah Sesha terlihat sangat panik. Rafa mengepalkan tangannya begitu sangat kuat.
Mata Mama Ika lalu tertuju pada tas milik Sesha, hanya tas itu satu-satunya yang belum sempat ia periksa. Ia lantas langsung mengeluarkan seluruh isi tas itu dan matanya langsung terbuka sempurna saat melihat benda yang ia cari itu ternyata keluar dari tas Sesha.
Bukan hanya Mama Ika saja yang kaget, Rafa yang melihatnya juga sangat kaget. Ia begitu tak percaya jika barang itu ternyata benar-benar milik Sesha.
Sesha lantas langsung mengambil hasil test pack itu, tapi Mama Ika langsung merebut dengan paksa test pack itu di tangan Sesha. Dia yang sudah kaget karena mendapati testpack itu milik Sesha semakin kaget saat melihat hasil dari testpack itu.
Mama Ika menatap Sesha dengan tatapan tak percaya. “Kamu hamil?” tanya Ika.
“Apa?” Rafa ikut kaget saat ibunya berbicara. Dia mengambil testpack di tangan sang ibu dan ia langsung terbelalak kaget saat melihat hasilnya. Ia lalu menatap Sesha juga dengan tatapan kaget, “Kamu ... beneran ... hamil?” tanya Rafa ragu.
__ADS_1
Bersambung