Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Bab 15. Pergi Dari Rumah


__ADS_3

“Jadi kamu beneran hamil, huh? Dasar anak kurang ajar!” Ika menarik rambut Sesha dengan sangat kasar.


“Auuwwhh ... sakit, Mah.” Sesha memegangi kepalanya.


Rafa yang biasanya membantu dengan menghentikan aksi jahat sang ibu itu kini sama sekali tak menolong Sesha. Ia bersandar pada dinding kamar Sesha masih sangat tidak percaya jika adik yang selama ini ia cintai secara diam-diam itu ternyata kini sedang mengandung.


“Aku pikir kamu begitu sangat polos karena tidak pernah berhubungan dengan seorang pria, tapi ternyata ini apa, huh? Bisa-bisanya kamu hamil padahal belum bersuami! Dasar murahan! Anak sialan!” umpat Ika, “Membuatku malu saja!” ucapnya lagi begitu sangat emosi.


“Cukup!” Sesha mendorong Mama Ika dengan sangat kasar hingga wanita yang usianya hampir setengah abad itu terjatuh dan tergeletak di atas lantai. Ia sudah tidak tahan lagi karena terus dihina dan disakiti oleh ibu tirinya itu. Padahal ia sudah banyak berkorban, ia hamil pun salah satunya karena ibu tirinya.


Jika saja Mama Ika tidak menyuruhnya mencari uang dalam waktu sekian jam, ia tak mungkin harus menjual diri.


“Berani melawan kamu sekarang, huh?” Ika beranjak dari posisinya dan langsung mengangkat tangannya hendak menampar Sesha.


Namun, dengan sigap Sesha langsung memegang pergelangan tangan Mama Ika, kemudian menghempaskannya dengan sangat kasar.


“Ini semua juga karena Mama! Kalau bukan karena Mama, aku tidak mungkin mencari jalan pintas sampai hamil seperti ini!” pekik Sesha menyalahkan Mama Ika, ia berucap dengan nada suara yang tinggi dan juga bergetar.


“Beraninya kamu menyalahkanku!” ucap Ika tak terima.


“Memang faktanya karena Mama! Sebulan yang lalu Mama menyuruhku mencari uang 20 juta hanya dalam sekian jam. Memangnya orang bodoh mana yang mau meminjamkan uang sebanyak itu secara cuma–cuma? Gak ada, Mah! Daripada harus menjadi istri juragan Basri dan melayani dia seumur hidup, akhirnya aku memilih jalan pintas dengan menjual diri dan menemani seorang pria selama sekian jam! Aku terpaksa melakukan itu karena Mama!” teriak Sesha, air mata sudah menetes membasahi pipi.

__ADS_1


“Apa? Jadi uang yang kamu dapatkan waktu itu ... dari hasil jual diri?” tanya Rafa tidak percaya.


“Menurut Kakak dari mana? Tidak ada yang mau meminjamkan uang sebanyak itu begitu saja pada karyawan pabrik seperti aku! Hiks ... hiks ....” ucap Sesha seraya terisak.


“Oh ... jadi kamu dapetin uang itu dari hasil jual diri? Lumayan laku juga ya kamu,” ucap Ika dengan kedua tangan yang merapat di bawah dada.


Walau sudah melihat Sesha menangis dan kini berani melawannya, juga mengatakan yang sebenarnya jika uang yang dipakai untuk membayar hutang adalah dari hasil jual diri, Ika sama sekali tak menampakkan wajah bersalahnya.


“Jadi kamu di bayar 20 juta hanya untuk sekali pakai? Waaahh ... hasilnya lumayan juga, ternyata masih ada yang mau sama kamu walau kamu tak secantik Dewi. Ck! Aku sebenarnya tidak masalah kalau kamu jual diri, itu bagus karena bisa menghasilkan uang yang banyak, tapi kenapa tidak jaga-jaga? Harusnya kamu jaga-jaga dong biar gak sampe kebobolan kayak begini! Coba kalau tidak kebobolan, aku pasti akan merestuimu untuk terus jual diri. Kan hasilnya lumayan! Kalau sudah seperti ini bagaimana huh? Tidak akan ada laki-laki yang mau membeli tubuh seorang wanita yang sedang hamil!”


Kedua tangan Sesha terkepal dengan sangat kuat saat Ika berbicara. Ia pikir setelah ia berkata jujur ibu tirinya itu akan iba dan merasa bersalah. Tapi faktanya tidak sama sekali dan malah seolah memintanya untuk benar-benar menjadi wanita malam.


“Sudah, CUKUP!” teriak Rafa, dia lalu menatap Sesha dengan wajah yang terlihat frustasi, “Aku benar-benar sangat kecewa padamu.”


Rafa tak menanggapi panggilan Sesha, ia langsung keluar dari kamar Sesha dengan wajah kecewanya.


“Aku tidak mau menanggung malu, pergi kamu dari sini!” pekik Ika.


“Apa?” Sesha menatap Mama Ika dengan tatapan tak percaya. Dia diusir dari rumahnya? Padahal dia mengorbankan dirinya dengan tidur bersama seorang pria hanya untuk membayar hutang sang ibu. Tetapi sekarang ia malah diusir?


“Pergi kamu dari rumah ini! Ayahnya pasti tidak akan pernah mau bertanggung jawab karena sudah membayar mahal. Itu artinya kamu akan hamil tanpa seorang suami. Cih! Aku tidak mau menjadi bahan nyinyiran tetangga karena punya anak hamil diluar nikah, jadi sekarang beresi semua barang-barang kamu dan pergi dari rumah ini!” usir Ika.

__ADS_1


“Kenapa Mama jahat sekali? Padahal aku sudah banyak berkorban untuk Mama. Aku berbaik hati memberikan uang gajiku pada Mama, aku juga tidak menuntut Mama karena mengambil alih rumah ini, aku bahkan rela menjual diri demi membayar hutang Mama yang uangnya pun sama sekali tidak aku nikmati. Terus kenapa Mama memperlakukan aku seperti ini?” tanya Sesha seraya terus terisak.


Dengan kedua tangan yang terlipat di bawah dada, Ika mengalihkan pandangannya ke arah lain membuang muka. Dia berpikir sebentar memikirkan sesuatu, kemudian menoleh menatap Sesha lagi dan berucap, “Oke ... kalau kamu masih mau tinggal di sini akan Mama izinkan, asal ... gugurkan kandunganmu itu dan cari lagi pria kaya yang mau membeli tubuhmu. Kan lumayan duitnya,” ucap Ika.


Kedua tangan Sesha mengepal kuat, lebih baik ia pergi dari rumah dari pada harus benar-benar menjadi kupu-kupu malam.


“Aku tidak sudi menjadi budak dari wanita sialan sepertimu! Dasar nenek lampir! Kau sangat menjijikkan, kau bahkan lebih hina dariku!” teriak Sesha mulai murka. Sekian tahun tetap diam dan menerima jika disakiti, Sesha akhirnya dengan berani melawan.


“A–apa kamu bilang? Kamu mengataiku apa? Wanita ... sialan? Cih! Kamu yang sialan dan kamu yang menjijikan!” ucap Ika tak terima. Dia menghampiri Sesha siap menyiksa gadis itu.


Namun, kali ini Sesha menguatkan diri untuk melawan. Ia lebih dulu mendorong tubuh Ika dengan sangat keras dan juga kasar hingga ibu tirinya itu terjatuh dan tergeletak lagi di atas lantai.


Sesha kemudian membuka lemari dan membereskan semua baju-bajunya. “Lebih baik aku pergi dari rumah ini daripada harus tinggal dengan wanita jahat sepertimu!”


Ika ingin melawan, tapi ia susah berdiri. Sesha mendorongnya cukup kuat.


Setelah berhasil memasukkan baju-bajunya ke dalam tas yang lumayan besar, Sesha berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, ia melihat ke arah Ika yang sudah berhasil berdiri seraya memegang pinggangnya. “Aku berdoa semoga kamu menerima karma atas semua perbuatan yang sudah kamu lakukan padaku!” ucap Sesha, ia lantas langsung melangkahkan kaki pergi.


Saat hendak berjalan ke arah pintu, mata Sesha tertuju pada Rafa yang kini berdiri di ambang pintu kamarnya. Mereka saling beradu pandang sebentar, kemudian akhirnya Rafa lebih memilih berbalik dan masuk ke kamarnya.


Dengan berderai air mata, Sesha kembali melangkahkan kaki lagi segera pergi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2