
“Ibu tiri kamu tuh bener-bener ya! Otaknya beneran udah gak ketolong! Udah di tolongin sampe bela-belain ngelakuin segala cara biar utangnya dibayar, eh dia malah ngusir kamu. Dan tadi apa kata kamu? Dia minta kamu gugurin kandungan dan minta kamu jual diri lagi? Beneran kurang ajar! Hatinya terbuat dari apa sih? Kok ada orang kayak begitu,” gerutu Lita setelah mendengar cerita Sesha.
Ia begitu sangat kesal dan juga geram mendengar cerita Sesha tentang ibu tirinya. Jika ibu tiri Sesha itu ada di hadapannya, mungkin ia sudah menghajarnya habis-habisan karena begitu sangat geram.
“Iya makanya aku milih kabur, daripada disuruh gugurin terus setelah itu beneran jual diri dan kerjaan itu jadi sumber penghasilan utama, ya mending kabur,” jawab Sesha.
“Terus rumah kamu gimana?” tanya Lita.
“Gak tau, nanti aja aku pikirin. Sekarang yang jadi beban pikiran aku adalah janin yang sedang aku kandung. Aku harus gimana, Lit? Aku gak tau harus gimana, aku bingung,” ucap Sesha.
Lita berpikir sebentar, dia juga bingung harus mencari solusi apa untuk masalah yang sedang Sesha hadapi. “Hmm ... apa ... tidak sebaiknya bayi itu digugurkan saja, Sha? Toh janinnya masih kecil, kan? Aku rasa akan lebih mudah gugur.”
“Aku sudah berbuat dosa dengan berzina, Lita! Terus sekarang harus menggugurkan kandungan? Itu sama saja dengan aku membunuh bayi yang sama sekali tidak berdosa. Aku sudah mendapatkan dosa dari berzina, masa sekarang harus mendapatkan dosa lagi dari membunuh bayi. Akan sebesar apa dosa aku nanti, Lita?”
“Iya juga sih,” jawab Lita, “Terus setelah ini rencana kamu apa?” tanya Lita.
“Yang jelas aku tidak akan menggugurkan bayi ini,” jawab Sesha, “Besok bantu aku cari kost-kostan aja dulu deh ya? Setidaknya aku punya tempat tinggal dulu,” ucap Sesha.
__ADS_1
“Gak usah diambil pusing kalau itu, kamar sebelah kosong. Kalau kamu mau, besok aku telfon ibu kost.”
“Ya udah deh boleh, gak pa-pa. Biar aku deket juga sama kamu dan gak susah-susah nyari kamu,” jawab Sesha.
Lita tersenyum dan memberikan anggukan kepala pada Sesha. “Malam ini kamu tidur di sini aja dulu,” ucap Lita.
Sesha tersenyum tipis dan mengangguk. Ia merasa tidak enak hati pada Lita, ia dan Lita belum lama dekat, tapi ia sudah banyak menyusahkan Lita. “Thank you, Lit. Kalau gak ada kamu, aku gak tau harus kemana lagi, aku sama sekali tidak punya tempat tujuan.”
Lita meraih telapak tangan Sesha dan menggenggamnya. “Santai aja, yang terjadi sama kamu juga karena aku. Kalau waktu itu aku gak kasih solusi yang aneh-aneh, kamu gak mungkin bisa kayak sekarang.”
“Aku gak nyalahin kamu kok, kalau gak begini … aku juga malah makin tersiksa.
Lita tersenyum tipis. “Terus kerjaan kamu gimana? Kamu gak mungkin kerja terus di pabrik kan? Perut kamu makin lama pasti bakalan makin besar, Sha. Yang ada nanti kamu malah jadi bahan nyinyiran orang,” ucap Lita.
“Kayaknya aku bakalan tetep kerja dua atau tiga bulan ke depan deh. Selama perut aku masih belum keliatan, aku bakalan terus kerja. Kamu tolong jaga rahasia ini, ya?”
Lita memberikan anggukan kepala. “BTW, aku mau ngomong sama kamu. Tadi, aku ketemuan sama Bang Marcel,” ucap Lita.
__ADS_1
Dahi Sesha mengernyit. “Bang Marcel? Dia bukannya ....”
Lita langsung mengangguk, walau Sesha belum mengatakan sepenuhnya yang akan ditanyakan, tapi ia sudah tau akan isi kepala Sesha.
“Kenapa?” tanya Sesha.
“Ayah dari bayi yang sedang kamu kandung itu, dia ingin bermalam dengan kamu lagi,” ucap Lita.
“Apa? Ma–maksudnya? Dia ... mau tubuh aku lagi gitu?” tanya Sesha menatap Sesha dengan tatapan kaget.
“Ya kalau bukan itu terus apa lagi? Laki-laki yang menemui atau menghubungi Bang Marcel, sudah jelas pasti yang dia mau gak jauh dari s*elangkangan!” jawab Lita.
Sesha langsung menggelengkan kepalanya menolak. “Enggak, aku gak mau! Kamu tahu sendiri kalau waktu itu saja aku terpaksa Lita! Aku gak mau nemenin dia diranjang lagi,” ucap Sesha.
“Tapi, Sha ... kenapa gak kamu iyakan saja? Bukan untuk melayani pria itu, tapi untuk berkata jujur kalau kamu sekarang sedang hamil anak dia,” ucap Lita, “Siapa tahu dia mau bertanggung jawab, kan? Siapa tau kamu bisa lepas dari penderitaan yang selama ini kamu rasain. Siapa tau ini awal dari kebahagiaan kamu,” ucap Lita.
Sesha sontak langsung menatap Lita saat mendengar Lita berbicara.
__ADS_1
Bersambung