
“Cari tau dia tinggal dimana dan bagaimana kehidupannya sekarang. Sudah menikah atau belum, aku ingin tahu bayi yang sedang dia kandung itu anakku atau bukan,” ucap Alfa yang kini sedang berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Melihat gedung-gedung bangunan kota Jakarta.
Daffa yang tengah bersandar pada meja kerja Alfa dengan kedua tangan yang terlipat itu berucap, “Aku sih yakin kalau itu adalah anak kamu, Al. Marcel mengatakan kalau dia tidak menjadikan jual diri itu sebagai pekerjaan tetap. Hanya sekali seumur hidup dan yang sekali itu dia lakukan bersama kamu, jadi fiks sih ... itu pasti anak kamu!” ucap Daffa.
Alfa masih menatap lurus. “Aku pun merasa begitu,” ucap Alfa.
“Aku jadi teringat kejadian 5 bulan yang lalu, waktu itu kamu tiba-tiba menginginkan durian. Padahal kamu kan tidak pernah menyukai durian, jangankan memakannya, mencium baunya saja kamu selalu mengeluh pusing dan bilang bikin mabuk, kan? Tapi waktu itu tiba-tiba saja ingin durian,” jelas Daffa.
Mendengar Daffa berucap, Alfa langsung teringat akan kejadian 5 bulan yang lalu saat tiba-tiba saja dia begitu sangat mengidam-idamkan memakan buah durian. Padahal seumur hidup ia tak pernah suka dengan yang namanya durian. Bahkan mencium baunya dari radius 10 meter saja ia sudah enggan mencium aromanya. Sedangkan beberapa bulan yang lalu, ia malah menikmati buahnya.
“Fiks sih, waktu itu kamu lagi ngidam pasti, itu terjadi karena ikatan batin antara kamu dengan bayi yang ada di dalam kandungan wanita itu,” ucap Daffa lagi memperjelas.
Alfa menoleh menatap Daffa. “Kalau begitu, cepat cari tahu sekarang!”
“Nanti malam saja lah, aku akan coba menggali informasi dari si Marcel,” ucap Daffa seraya menaik-turunkan alisnya.
“Kalau bisa sekarang kenapa harus nanti malam?”
“Nanti malam sekalian ketemu sama dia, aku akan malam mingguan dengan seorang wanita.”
__ADS_1
Alfa mendengus kesal. “Kamu kapan berhentinya sih, Daf! Tidak bisakah berhenti bermain dengan banyak wanita?”
“Tentu saja bisa, tapi nanti setelah aku bertemu dengan seorang wanita yang cocok dengan hatiku,” jawab Daffa, “Sejauh ini aku masih belum menemukan wanita baik-baik yang cocok dengan hatiku, perempuan yang dekat denganku kebanyakan minus semua!”
“Kamu tidak tahu kalau jodoh itu cerminan diri, huh? Mana ada perempuan baik-baik yang mau punya suami tukang jajan kayak kamu. Kalau kamu gak ada niatan memperbaiki diri, gimana bisa punya istri yang baik.”
Daffa mendengus. "Huh! Aku bosan sekali mendengar kata itu setiap berdebat denganmu. Udah ah, aku pergi dulu.” Daffa langsung berdiri tegak dan langsung segera pergi dari ruangan Alfa.
Alfa menggelengkan kepalanya saat Daffa keluar dari ruangannya.
***
Lita sudah berkali-kali menolak, tetapi ternyata Marcel sudah menerima uangnya dan bahkan bagian pria itu sudah dipergunakan. Pria bertubuh besar itu memaksanya dan mengancamnya habis-habisan. Mau tidak mau akhirnya Lita pasrah dan tetap pergi.
“Maafkan aku, Sha. Aku janji, ini kali terakhir aku kayak begini,” gumam Lita. Ia yang kini sudah berada di dalam taksi online itu duduk bersandar dan memejamkan mata.
Kurang dari 20 menit, Lita akhirnya sampai di lobi hotel dan langsung menemui pria yang sudah menunggunya. Tak biasanya Bang Marcel datang ke hotel, biasanya pria itu langsung memintanya datang ke kamar yang sudah ditentukan. Bukan bertemu di lobi hotel.
“Kamu yakin ini yang terakhir? Tidak mau lagi mendapatkan uang yang banyak dengan cara yang singkat seperti ini?” tanya Marcel setelah Lita mengatakan niatnya untuk berhenti.
__ADS_1
Lita memberikan anggukan kepala. “Iya, Bang. Ini terakhir, aku kasihan sama Ibu dan Bapak di kampung, lagian Bang Marcel kan bilang kalau yang kerja di Bang Marcel tidak terikat seperti di si Mami-mami. Kita bisa bebas berhenti kapan saja. Jadi aku mau berhenti.”
Pria itu memberikan anggukan pelan. “Oke, tidak masalah. Abang masih punya stok yang lain ini, kehilangan kamu sama sekali tidak rugi. Lagian sekarang udah jarang banget yang hubungi Abang untuk main sama kamu. Ini saja terpaksa Abang sebut namamu karena dia menginginkan perempuan yang belum pernah main sama dia. Dan satu-satunya perempuan yang belum main sama dia ya cuma kamu.”
Belum sempat Lita menjawab, seorang pria sudah lebih dulu datang dan menghampiri Marcel.
“Tuan Daffa, apa kabar?” sapa Marcel berbasa-basi.
Lita sontak langsung melihat ke arah pria yang baru saja datang itu.
“Ck! Harus berapa kali aku katakan, jangan panggil aku Tuan.”
“Oke, oke ... sorry. Langsung saja, perkenalkan ... ini Lita, yang akan menemanimu malam ini,” ucap Bang Marcel memperkenalkan Lita.
Lita tersenyum paksa pada Daffa. Sedangkan Daffa, ia melihat Lita dari ujung kaki hingga kepala yang terlihat sangat menggoda.
“Ah iya, katamu kamu ingin bicara dan menanyakan sesuatu? Bertanya apa?” tanya Marcel.
Bersambung
__ADS_1