
Sejak tadi Sesha sama sekali tidak fokus saat bermain berbagai macam wahana bersama dengan Abian. Berkali-kali matanya fokus memastikan saat Alfa membuka dompet untuk membayar.
Ia begitu sangat yakin jika foto yang berada di dalam dompet sang majikan adalah fotonya dulu sebelum memakai penutup kepala dan juga cadar.
“Kenapa?” tanya Alfa, ia yang sejak tadi fokus pada jalanan karena sedang menyetir itu menoleh melihat ke arah Sesha yang terduduk di sampingnya seraya memangku Abian yang tertidur karena lelah bermain.
Alfa bertanya karena sejak tadi, sejak saat berada di pasar malam, ia memperhatikan Sesha yang terlihat banyak diam tak seperti biasanya.
Sesha yang mendengar Alfa bertanya itu sontak langsung menoleh dan menatap Alfa yang kini kembali melihat lurus pada jalanan lagi. “Hm? Enggak, gak pa-pa,” jawab Sesha.
“Beneran gak pa-pa?” tanya Alfa.
Sesha memberikan anggukan kepala. Ia sebenarnya ingin bertanya, tetapi bingung bagaimana cara bertanya-nya.
Bertanya secara langsung tentang foto itu begitu? Ia tidak seberani itu, Sesha tak berani bertanya akan masalah pribadi sang majikan.
5 tahun yang lalu ia sempat bertanya akan di mana keberadaan ibu kandung Abian dan juga mengatakan sesuatu yang mungkin menyinggung pria itu. Dan yang ia dapatkan adalah ucapan dengan nada yang sedikit ketus. Sejak saat itu Sesha tak berani bertanya lagi akan masalah pribadi sang majikan atau apa pun yang berbau privacy.
Tapi jujur saja, Sesha benar-benar sangat penasaran. Kenapa fotonya bisa terselip di dompet sang majikan? Mungkinkah pria itu menaruh hati padanya.
“Tidak mungkin,” gumam Sesha saat berpikir jika Alfa menaruh hati padanya.
“Apa yang tidak mungkin?” tanya Alfa saat dengan tidak sengaja mendengar Sesha yang bergumam. Ia yang sejak tadi fokus pada jalanan itu menoleh sebentar pada Sesha, kemudian kembali melihat lurus lagi.
“Hah? Eng–enggak ... gak pa-pa,” jawab Sesha gelagapan.
“Kamu kenapa sih? Saya perhatikan sejak tadi kamu aneh loh, lebih banyak diem. Tadi waktu Abian ajak main juga kamu biasa aja, gak seantusias biasanya kalau Abian ajak main. Kamu sedang ada masalah?” tanya Alfa.
Sesha langsung menggelengkan kepalanya cepat.
“Terus kenapa?” tanya Alfa lagi.
__ADS_1
“Hmmm ....” Sesha mulai bingung dan dilema.
Harus langsung bertanya akan rasa penasarannya atau tetap diam saja? Jika ia bertanya, lalu Alfa marah bagaimana? Sesha tak berani menghadapi kemarahan sang majikan.
Tapi jika tetap diam pun rasa penasarannya malah semakin menggebu. Sesha memejamkan mata sebentar untuk mengumpulkan keberanian. Lalu akhirnya memberanikan diri bertanya, “Saya mau tanya boleh?”
“Boleh, tanyakan saja,” jawab Alfa dengan pandangan melihat ke arah depan.
“Maaf kalau pertanyaan ini sedikit agak lancang. Mau di jawab boleh, tidak juga tidak apa-apa,” ucap Sesha, “Tadi … saat Tuan Alfa membayar sesuatu dan mengambil dompet, saya lihat—” Ucapan Sesha terhenti saat tiba-tiba mobil yang dikemudikan oleh Alfa itu berjalan tak stabil. “Ke–kenapa?” tanya Sesha memegang tubuh Abian dengar erat.
“Gak tau.” jawab Alfa, ia yang merasakan ada yang aneh dengan mobilnya itu lantas langsung menepikan laju mobilnya di jalur kiri. Kemudian setelah itu langsung keluar dari mobil untuk mengecek mobilnya.
Sesha pun begitu, sembari menggendong Abian yang tertidur, ia juga keluar dari mobil.
“Kenapa mobilnya?” tanya Sesha.
“Bannya kempes ternyata, mungkin tadi injek paku di jalan,” ucap Alfa dengan mata melihat ke arah ban mobil bagian depannya yang terlihat kempes.
“Yakin mau jalan kaki?” tanya Alfa.
Sesha memberikan anggukan kepala. “Orang jalanan komplek udah di depan, kan? Tuh!” ucap Sesha mengarahkan dagunya ke jalanan yang mengarah masuk ke komplek perumahan yang jaraknya sekitar 20 meter dari tempatnya berdiri, “Jalan kaki ke dalem juga gak akan lama, udah deket ini. Jadi saya jalan kaki aja,” ucap Sesha lagi.
“Ya sudah kalau gitu ayo, kita jalan kaki saja,” ucap Alfa.
“Tuan juga? Terus mobilnya bagaimana?” tanya Sesha.
“Gak usah dipikirin, nanti bisa telfon bengkel,” ucap Alfa, “Sini ... Abian biar saya yang gendong, kalau kamu yang gendong nanti kamu capek.”
“Gak pa-pa, saya udah biasa kok,” jawab Sesha.
“Udah, biar saya aja.” ucap Alfa langsung mengambil alih Abian dari gendongan Sesha.
__ADS_1
Mereka lantas langsung berjalan bersamaan dengan Abian yang kini sudah di gendongan ayahnya.
Tap.
Tap.
Tap.
Saat sudah masuk ke komplek perumahan, Sesha kembali teringat sesuatu yang tadi ingin dia tanyakan pada Alfa.
Sesha menoleh melihat ke arah pria yang tengah berjalan di sampingnya. “Tuan?” panggil Sesha.
“Iya?” sahut Alfa.
“Boleh saya tanya lagi?” tanya Sesha.
“Aaahh ... tadi kamu mau tanya ya? Boleh, mau tanya apa?” tanya Alfa.
“Tadi saat Tuan buka dompet untuk bayar sesuatu. Dengan tidak sengaja saya lihat ada foto perempuan di dompet Tuan Alfa. Perempuan itu ... siapa?” tanya Sesha berpura-pura tak tahu siapa wanita itu padahal perempuan itu adalah dirinya sendiri, “Kenapa menaruh fotonya di sana?” tanya Sesha lagi.
Dahi Alfa mengernyit. “Foto perempuan di dompet?” Alfa menggendong tubuh Abian dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya merogoh saku celana bagian belakang untuk mengambil dompet. Kemudian membuka dompet itu hingga sebuah foto yang terselip di sana kembali terlihat lagi oleh Sesha.
Kini terlihat jelas oleh Sesha wajah wanita itu. Dengan jelas ia lihat jika foto wanita itu adalah dirinya sendiri.
“Maksudnya foto perempuan ini?” tanya Alfa.
Sesha memberikan anggukan kepala.
“Dia ....”
Bersambung
__ADS_1