
“Apa aku harus pindah?” tanya Sesha setelah mematikan sambungan telepon orang yang dia hubungi. Ia begitu sangat was-was saat Lita bercerita tentang seorang pria yang dirasa sedang mencari keberadaannya.
“Tidak usah! Dia juga tidak akan berhasil menemukan kita. Memang dia mau mencari kemana lagi? Kan barusan kamu sudah telfon orang yang pakai jasa catering di acara pertunangan kemarin malam kalau ada yang bertanya tentang kamu, katakan saja tidak tahu dan jangan berikan informasi apa pun karena itu privasi. Orang itu juga gak akan bisa cari kamu ke pabrik karena kamu kan udah gak kerja di sana. Semisal dia dapat data dan alamat kamu pun kan data yang ada di pabrik itu data lama. Rumah kamu udah di jual dan ibu tiri kamu udah gak di sana, jadi udah sih ... aman!”
Sesha membuang napas cukup lega saat mendengar ucapan Lita. “Iya, kamu bener juga,” jawab Sesha.
Dan, di tempat yang lain, Alfa dan juga Daffa sedang membicarakan masalah yang sama.
“Aku sudah ke pabrik yang temannya maksud dan memang benar, dulu dia bekerja di sana, tapi sekitar 3 atau 4 bulan yang lalu dia keluar dengan alasan mempunyai usaha sendiri. Setelah itu aku langsung teringat akan malam di mana kita bertemu dengan dia. Waktu itu aku melihat dia yang memakai pakaian seperti pelayan. Jadi aku langsung bertanya pada Pak David, tapi dia tidak mau memberikan informasi apa pun karena katanya itu privasi. Aku sudah memaksanya untuk menjawab pertanyaanku, tetapi tidak berhasil. Terus aku datangi juga alamat rumah di data yang aku dapatkan, tapi rumah itu ternyata sudah lain pemilik,” jelas Daffa.
Alfa menghembuskan napasnya dengan sangat kasar, ia juga mengusap wajahnya begitu sangat frustasi setelah mendengar penjelasan dari Daffa.
__ADS_1
“Jadi ini benar-benar sudah buntu? Kita tidak bisa mendapatkan informasi apa pun tentang dia?” tanya Alfa.
“Harusnya sih bisa kita dapatkan dari Pak David, sayang dia lebih memilih menutup mulut,” ucap Daffa.
“Kamu sama sekali tidak punya cara untuk membuat dia bicara? Tidak bisakah melakukan sesuatu agar dia mau membuka mulut?" tanya Alfa.
Daffa diam sebentar dengan mata melihat ke arah langit-langit berpikir, kemudian melihat ke arah Alfa lagi. “Harusnya sih bisa,” ucap Daffa.
“Oke ... setelah jam istirahat nanti aku akan ke Lospans Company,” jawab Daffa, “Hmmm ... aku ada satu informasi lagi, entah ini penting atau tidak untukmu, tapi aku ingin mengatakannya,” ucap Daffa.
“Apa?” tanya Alfa.
__ADS_1
“Saat aku datang ke rumah lamanya si Sesha, aku bertanya pada tetangga, apakah mereka tahu dimana pemilik rumah lama itu tinggal. Mereka menjawab tidak tahu, tapi saat tahu tujuanku ingin bertemu dengan Sesha, mereka sedikit bercerita."
Alfa semakin penasaran. "Apa?"
“Si Sesha ini ternyata dulunya sering sekali dimarahi oleh ibu tirinya dan hidupnya cukup miris! Bahkan dia di usir dari rumahnya sendiri padahal rumah itu adalah rumah peninggalan orang tuanya dan sudah ditinggali sejak dia kecil. Dari gosip yang beredar di sana, katanya dia di usir setelah ketahuan hamil tanpa suami. Salah satu tetangga mendengar teriakan ibu tirinya saat mereka sedang bertengkar. Terus tetangganya itu juga melihat Sesha yang pergi dari rumah malam-malam. Kamu bayangkan saja, Al. Malam-malam diusir dari rumah sendiri, apa itu tidak gila? Dari kabar yang beredar, ibunya itu menerima karma setelah ditipu oleh tempat meminjam uang abal-abal, rumahnya dengan seketika saja menjadi milik orang lain.”
Alfa yang mendengar Daffa bercerita itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Entah mengapa ia begitu sangat kesal saat mendengar Sesha yang menerima perlakuan buruk dari ibu tirinya.
“Dan aku rasa benar apa kata tetangga di sana kalau itu adalah karma. Dia memakan harta anak yatim piatu, ya gak berkah lah. Itu kan rumahnya si Sesha, bisa-bisanya dia usir pemilik rumah. Gila tuh ibu tirinya! Tadi aku cukup puas saat mendengar ibunya ini di tipu.” kesal Daffa.
Bersambung
__ADS_1