Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Chapter. 54


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Rafa berdiri di depan pintu pagar sekolahan TK di mana Abian bersekolah, sengaja ia datang ke tempat itu untuk bertemu dengan Sesha. Ia harus bicara dengan wanita itu untuk bicara masalah pekerjaan, setidaknya jika tak bekerja di rumah itu lagi, Sesha mau membujuk Alfa untuk memberikannya pekerjaan di tempat lain.


Karena Rafa sudah bingung harus mencari pekerjaan kemana lagi, beberapa hari terakhir ini ia sudah berusaha mencari pekerjaan baru, tapi sama sekali tidak mendapatkannya.


Sedangkan kebutuhan hidupnya dan juga sang ibu kini ada di tangannya, karena setelah kepergian Sesha 5 tahun yang lalu, ialah yang menjadi tulang punggung keluarga. Adiknya Dewi sudah menikah dan ikut bersama suaminya, sang adik tak bisa membantunya karena dia pun dalam keadaan yang susah.


Kini, hanya Sesha lah satu-satunya orang yang bisa menolongnya. Rafa tidak tahu harus kepada siapa lagi ia meminta tolong, karena dalam pikirannya kini, hanya Sesha lah yang bisa ia mintai tolong.


"Seshaaa?" panggil Rafa saat wanita itu keluar dari dalam sekolah seraya menggandeng tangan Abian.


Alis Sesha bertaut saat melihat keberadaan Rafa di luar pagar sekolah, ia lantas langsung meminta Abian untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu, kemudian mendekati Rafa.


"Kak Rafa sedang apa di sini?" tanya Sesha dengan alis yang mengerut bingung.


"Kakak mau minta tolong sama kamu," ucap Rafa.


"Bicara apa?" tanya Sesha dengan alis yang masih mengerut.


"Tolong bicara pada Tuan Alfa untuk memberikan kakak pekerjaan, Sha. Kakak sudah mencari pekerjaan kemana-mana tapi tidak menemukannya, Kakak bingung harus mencari kemana lagi, Sha. Jadi tolong, bantu bicara dengan dia ya ...." ucap Rafa memohon.


"Aku gak bisa, aku tidak berani mengatakannya," jawab Sesha.


"Ayolah, Sha. Katakan pada dia kalau aku butuh pekerjaan, karena kalau aku tidak kerja, dari mana aku bisa makan dan bertahan hidup? Kasihani aku dan juga Mama, Sha." ucap Rafa. Ia meraih telapak tangan Sesha menggenggam.


Namun, Sesha langsung menghempaskan tangan Rafa dengan sangat kasar. "Atas dasar apa aku harus kasihan pada kalian? Kalian saja dulu tidak pernah kasihan padaku, kalian lupa dengan apa saja yang sudah kalian lakukan padaku?" tanya Sesha.

__ADS_1


Napas Rafa terasa tertahan di tenggorokan dan ia menelan salivanya saat Sesha membahas masa lalu yang diperlakukan tidak baik dan juga tidak adil.


"Dulu kalian juga gak ada kasian-kasiannya sama aku," ucap Sesha lagi, "Uang gaji hasil aku kerja selalu di ambil setiap bulannya oleh ibumu, terus rumah hasil kerja keras orang tuaku juga diam-diam kalian ubah nama kepemilikan, lalu aku di usir dari rumahku sendiri dan yang paling fatal, kamu berusaha mencelakai aku sampai anakku tiada! Nyawa anakku melayang di tanganmu! Terus kenapa sekarang aku harus kasihan pada kalian yang sudah membuat hidupku sengsara?"


Mulut Rafa terasa kelu dan kini ia bingung harus berucap apa.


"Kalian gak tau kan gimana beratnya aku menjalani hidup setelah di usir. Aku mati-matian mencari uang dalam keadaan hamil, apakah saat itu kalian peduli padaku? Sedikit pun tidak! Kamu bahkan malah mencelakai aku!"


"Sha—"


"Jadi atas dasar apa aku harus kasihan pada kalian?" sela Sesha memotong ucapan Rafa, ia mulai tersulut emosinya, "Masih untung kalian tidak aku polisikan, sudah aku bilang kalau aku memang tidak dendam, tapi aku masih belum ikhlas! Jadi jangan meminta apa pun padaku, aku tidak mau menolong kalian, urus saja urusan kalian sendiri. Setidaknya kalian tuh malu! Minta tolong kok sama orang yang sudah dizalimi, gak punya malu apa bagaimana?"


Kedua tangan Rafa terkepal kuat saat Sesha mengatakan seolah ia tak punya malu dan ia merasa terhina.


"Aku sedang sibuk, jadi maaf aku harus segera pergi," ucap Sesha lagi, ia lantas masuk ke mobil yang sejak tadi menunggunya dan meninggalkan Rafa begitu saja.


*


*


*


"Kok kamu sudah pulang?" tanya Mama Ika pada Rafa. Dahinya mengernyit saat sang putra sudah pulang lebih siang tak seperti biasanya.


Rafa yang baru saja masuk ke rumah kontrakan yang selama hampir 6 tahun ia tinggali karena rumah lamanya tiba-tiba diakui oleh orang lain karena kesalahan sang ibu itu langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


Selama beberapa hari ini ia memang selalu pergi pagi dan pulang sore seperti biasa ia kerja. Setelah menjelang siang, ia akan pergi ke rumah temannya karena enggan berada di rumah.

__ADS_1


Rafa belum mengatakan pada sang ibu jika ia sudah dipecat tak bekerja karena sang ibu pasti akan mengomel.


"Kenapa?" tanya Mama Ika lagi.


"Aku dipecat," jawab Rafa akhirnya jujur.


"Apa?" Mata Mama Ika terbelalak kaget. Ia langsung terduduk di samping Rafa dan menatap putranya dengan tatapan kaget, "Dipecat? Kok bisa? Memangnya kamu melakukan kesalahan apa, huh? Kenapa bisa sampai dipecat?" tanya Mama Ika lagi.


Dengan punggung yang bersandar dan mata yang terpejam, Rafa berucap, "Tuan Alfanza ternyata menjalin hubungan dengan Sesha. Dia memecatku karena dia tahu kalau dulu aku pernah mencelakai Sesha dengan berusaha menabrak dia," jawab Rafa.


"Apa?" Mama Ika semakin terperanjat kaget saat sang putra berucap, "Sesha? Maksudnya ... ini dia Sesha yang ...."


Rafa membuka mata dan terduduk tegak menatap sang ibu. "Iya, Sesha. Anak tiri Mama yang dulu Mama usir karena hamil tanpa suami! Sesha yang dulu selalu Mama manfaatkan dan selalu Mama perlakukan dengan buruk."


"Hah?" Mama Ika masih terlihat kaget.


"Dan Mama tau? Ternyata dulu dia hamil tanpa suami karena menjual diri. Uangnya untuk apa? Untuk membayar hutang Mama! Huuuhhh … kalau saja aku tahu kalau dulu dia menjual diri demi membayar hutang Mama, aku tidak akan memperlakukan dia seburuk itu!" ucap Rafa lagi, matanya mendelik sinis, menatap sang ibu dengan tatapan kesal.


"Ya … Mana Mama tahu kalau dia hamil karena jual diri!" sahut Mama Ika tidak terima di salahkan, "Jujur saja Mama juga menyesal sudah mengusir dia, semenjak dia pergi hidup kita sengsara! Mama jadi tidak punya tambahan uang lagi, dulu kan semua uang dia Mama yang pegang. Setelah dia pergi, sumber keuangan Mama hilang! Kamu juga tidak bisa diandalkan, apalagi si Dewi! Dia malah makan cinta! Boro-boro ngandelin dia, dia bisa makan saja sudah alhamdulilah! Huh ...," Mama Ika membuang napas dengan sangat kasar.


Selang beberapa detik kemudian, alisnya bertaut saat kembali mengingat yang Rafa katakan beberapa menit yang lalu, ia lalu kembali menatap Rafa lagi dengan tatapan serius. "Tunggu sebentar ... kamu bilang si Sesha itu menjalin hubungan dengan majikanmu? Si Tuan Alfanza yang kaya raya?" tanya Mama Ika.


Rafa langsung memberikan anggukan kepala pelan.


Mata Mama Ika dengan seketika berbinar. "Itu artinya dia itu calon Nyonya Alfanza?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2