
Alfa nampak gusar dengan terus berjalan mondar mandir di depan pintu ruangan operasi. Dokter menyarankan agar Sesha segera melakukan operasi Caesar demi keselamatan ibu dan juga bayinya.
Tak berselang lama kemudian, pintu ruang operasi itu akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan itu dengan senyum yang mengembang di bibir.
“Bagaimana? Dia baik-baik saja? Bagaimana dengan bayinya?” tanya Alfa.
“Alhamdulillah, ibu dan bayinya dalam keadaan sehat,” jawab dokter itu.
Seulas senyum terlukis di bibir Alfa, rasa cemasnya hilang seketika dan ia bernapas lega. “Bayinya ... laki-laki? Atau ... perempuan?” tanya Alfa.
“Bayinya laki-laki,” jawab dokter itu lagi.
Senyum Alfa semakin mengembang, ia menatap Daffa dengan senyum kebahagiaan.
.
.
Alfa menyeka air mata haru di sudut matanya setelah mengadzani bayi yang tadi sempat berbaring di atas dadanya. Baru kali ini hatinya selemah itu, ia bahagia bukan main saat jari telunjuknya di genggam oleh bayi mungil yang Sesha lahirkan.
Selang beberapa menit kemudian, bayi itu sudah kembali berada di ruang bayi lagi. Alfa dan juga Daffa yang berada di luar kamar bayi menatap lurus ke arah bayi yang sedang tertidur di dalam baby box.
Telapak tangan Alfa menyentuh kaca, pandangannya sejak tadi terus mengarah ke arah bayi yang sedang tertidur.
“Aku rasa tanpa melakukan tes DNA pun sudah bisa dipastikan kalau bayi itu adalah anakmu, Al. Wajahnya plek ketiplek kamu banget! Apalagi hidung dan juga matanya, dia kamu banget! Yang beda cuma bagian bibir. Lebih mirip ibunya.”
“Aku pun merasa kalau dia memang benar putraku, aku merasa punya ikatan yang kuat saat tadi menggendongnya,” jawab Alfa masih dengan mata yang melihat lurus.
“Lalu bagaimana dengan tes DNA-nya? Masih mau dilakukan?” tanya Daffa.
__ADS_1
Alfa memberikan anggukan kepala. “Ya, lakukan saja,” jawab Alfa. Pandangannya lalu beralih menatap Daffa, “Bagaimana dengan orangmu itu? Sudah mendapatkan informasi siapa yang dengan sengaja ingin menabrak Sesha?” tanya Alfa.
Daffa langsung menggelengkan kepalanya. “Belum, dia bilang dari CCTV yang terlihat, plat motornya memang terlihat jelas. Tapi setelah di cek, ternyata itu plat nomor palsu dan tidak terdaftar.”
Kedua telapak tangan Alfa dengan seketika terkepal kuat. Api kemarahan kembali terlihat dari sorot matanya, jika ia bertemu dengan pria yang berniat jahat dan mencelakai Sesha dan bayinya itu ada di depan matanya, sudah bisa dipastikan jika pria itu pasti akan habis di tangannya.
“Terus apa rencanamu setelah ini?” tanya Daffa.
Alfa diam tak berucap, pandangannya beralih ke arah bayi yang masih tertidur namun sesekali senyuman manis terlukis di bibir bayi itu.
Setelah berpikir cukup lama, Alfa akhirnya kembali menatap Daffa lagi. “Kita bawa bayinya pulang,” jawab Alfa.
“Pulang? Ke apartemen maksudnya?” tanya Daffa.
“Ke rumahku! Ya masa ke apartemen,” jawab Alfa.
Daffa cukup kaget saat mendengar ucapan Alfa. “Kamu yakin akan membawa Sesha dan bayinya ke rumahmu? Bagaimana dengan keluargamu? Terutama ibumu, kalau yang lain mungkin bisa menerima, tapi ibumu? Maaf kalau ucapanku ini menyinggungmu, tapi sejauh aku mengenal ibumu, dia cukup ... ya ... begitulah. Aku yakin dia tidak akan mungkin bisa menerima keberadaan Sesha di rumahmu,” jawab Daffa.
Daffa terkesiap. “Ha–hah? Ma–maksudnya? Sesha tidak akan ikut? Hanya bayinya saja begitu?” tanya Daffa.
“Iya. Aku hanya akan membawa pulang bayinya saja." ucap Alfa, ia melihat ke segala arah yang terlihat sepi kemudian berbicara dengan nada yang pelan, "Jika dia bertanya tentang bayinya, minta dokter untuk mengatakan kalau bayinya sudah meninggal saat dilahirkan. Katakan saja jika kecelakaan itu menjadi penyebab bayinya tiada.”
Daffa begitu terkesiap saat mendengar Alfa berbicara.
“Atau ... katakan saja kalau bayinya drop saat setelah dilahirkan dan tidak bisa di selamatkan,” lanjut Alfa lagi.
Daffa semakin terbelalak kaget. “Apa kamu gila? Kamu ingin memisahkan ibu dan juga bayinya?” Daffa berucap dengan nada yang sarkas. Menatap Alfa dengan tatapan tak percaya jika kalimat dan pemikiran seperti itu akan terucap dari bibir Alfa.
“Aku melakukannya untuk keselamatan bayiku,” sahut Alfa, “Si Sesha itu dikelilingi oleh orang jahat! Bagaimana kalau nanti bayiku kenapa-kenapa, huh? Aku tidak mau putraku kenapa-kenapa! Bisa saja kan orang itu ingin menabrak Sesha agar bayiku ini tiada. Kalau orang tau bayinya masih hidup terus dia kembali mencelakai putraku lagi bagaimana, huh?”
__ADS_1
“Putramu? Cih! Kita bahkan belum melakukan tes DNA! Bagaimana mungkin kamu bisa dengan leluasa melakukan rencana gila seperti itu!”
“Aku sangat yakin kalau dia adalah bayiku! Batinku mengatakan seperti itu!” jawab Alfa.
“Kalau ternyata bukan bagaimana, huh?”
“Sudahlah! Jangan banyak menjawab! Lakukan saja apa yang aku katakan,” ucap Alfa, dia mendekati Daffa hingga jaraknya begitu dekat, kemudian kembali berucap dengan nada berbisik, “Suap saja dokter yang menangani Sesha agar dia mau mengatakan bahwa bayinya sudah tiada. Dengan uang aku rasa semua akan beres! Kalau dia tidak mau, lakukan apa pun agar dia mau melakukannya!”
“Gila! Kamu memang gila, Al!” ujar Daffa dengan gigi yang menggertak kesal tidak terima, “Kalau alasanmu karena Sesha sedang diikuti oleh orang jahat, kita bisa memberikannya bodyguard untuk menjaga dia! Tidak sampai harus memisahkan ibu dan juga bayi yang baru saja dilahirkan.”
“Apa kamu lupa dengan apa yang kamu bicarakan tadi? Keluargaku tidak mungkin mau menerima keberadaan Sesha! Kamu tahu dengan jelas bagaimana caraku bertemu dengan dia, apa kamu yakin keluargaku mau menerima wanita yang pernah menjual harga dirinya? Apa kamu yakin keluargaku mau menerima dia yang pernah jual diri dan pernah menjadi wanita malam, huh? Tidak! Terus aku harus bagaimana? Melawan orang tuaku hanya untuk seorang wanita begitu?”
“Kamu bisa menyembunyikan dia dari keluargamu, bawa saja dia ke apartemen dan biarkan dia tinggal di sana,” jawab Daffa.
Alfa menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau!”
Daffa mendengus kesal. “Terus kenapa waktu itu kamu tiba-tiba ingin bertemu dengan dia kembali dan mencari informasi tentang dia? Aku pikir kamu begitu sangat tertarik dengan dia.
“Pffftt …," Alfa tertawa pelan, “Aku hanya tertarik pada dia Daffa, tertarik bukan berarti ingin memiliki, kan? Tidak semua barang yang menarik dilihat harus kita miliki," ucap Alfa, "Aku kembali mencari informasi tentang dia lagi karena melihat dia yang sedang hamil dan berpikir kalau itu adalah anakku! Bukan karena ingin bersama dengan dia. Sudahlah ... ikuti saja apa kataku dan jangan banyak membantah! Gunakan kekuasaan yang kita miliki agar semua yang aku katakan tadi berjalan dengan mulus.”
“Ya tapi—“
“Aku bilang jangan banyak membantah dan lakukan saja!” ucap Alfa dengan mata yang mendelik sinis. Matanya lalu kembali melihat ke arah bayi yang masih terpejam lagi.
Sedangkan Daffa, ia menatap Alfa dengan tatapan yang sangat kesal. Baru kali ini ia sekesal itu pada sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.
Ia begitu sangat tidak setuju dengan apa yang Alfa katakan, dia memang seorang pria yang brengsek, tapi jika ia ada di posisi Alfa, ia tak akan melakukan hal sekejam itu sampai harus memisahkan bayi dari ibunya.
Entah akan sehancur apa nanti hati ibunya jika diberitahu jika bayinya tiada.
__ADS_1
Bersambung