
7 bulan kemudian.
“Biar aku saja, Sha.” ucap Lita mengambil alih beberapa kue dalam piring di atas nampan yang sedang Sesha pegang.
7 bulan yang lalu setelah berhasil mendapatkan tanda tangan Ika, Sesha langsung mengurus semua surat-surat itu agar berpindah kepemilikan menjadi namanya. Akhirnya, rumah itu berhasil Sesha dapatkan kembali.
Walau akhirnya rumah itu kembali atas namanya lagi, Sesha tidak berani jika harus mengusir ibu tirinya secara langsung, belum lagi ia juga tak berani berhadapan langsung dengan Rafa.
Menyewa seorang pria berbadan besar untuk mengusir mereka juga tak berani Sesha lakukan. Sesha mana tega jika harus mengusir kakak tirinya itu dengan sangat kejam. Jadi Lita mengusulkan untuk menjual saja rumah itu, agar yang mengusir Ika bukanlah Sesha tetapi pemilik rumah yang baru.
Sesha sebenarnya masih tak enak hati, walau rumah itu miliknya, tapi selama ini Rafa selalu membantu dan juga membelanya. Tetapi Lita meyakinkannya untuk harus bersikap tega, Rafa juga ternyata tega membiarkannya di usir. Dan toh, Ika juga sudah menerima uang sebanyak 20 juta. Setidaknya Sesha memberikan uang pada mereka.
Setelah berhasil menjual rumah itu, Sesha menggunakan hasil uang penjualan rumah untuk modal usaha. Setelah kandungannya mulai membesar, Sesha keluar dari pabrik dan membuka usaha katering.
Dan saat ini, ia dan juga Lita sedang berada di sebuah taman yang sudah di disewa oleh si pemilik acara, Sesha mendapatkan pesanan catering untuk acara pesta pertunangan.
“Aku bisa kok, Lit.” ucap Sesha saat Lita akan mengambil alih pekerjaannya.
“Udah … biar aku, Bu Nia, sama Teh Dinda aja yang urus, kamu duduk aja. Lagian dari tadi kamu udah sibuk kesana-kesini, jadi ini biar aku yang urus. Kamu juga pasti capek, kan? Udah engap juga, kan? Jadi udah deh, duduk aja. Nanti anak kamu kenapa-kenapa lagi kalau kamu kecapean.”
Sesha tersenyum dan mengangguk. “Ya sudah kalau gitu, aku emang agak engap sih. Aku cari tempat duduk dulu,” ucap Sesha.
Lita memberikan anggukan kepala pada Sesha, ia lalu berbalik seraya membawa nampan yang tadi Sesha bawa. Sedangkan Sesha, karena lelah mengurusi semua makanan yang ia persiapkan, ia akhirnya memilih untuk mencari tempat yang cukup sepi untuk beristirahat. Ia begitu sangat kegerahan, padahal sedang berada di luar.
__ADS_1
Sesha memilih untuk pergi sedikit menjauh dari taman yang ramai. Namun, tiba-tiba saja seseorang dari belakang berjalan dengan cepat dan menyenggol bahunya hingga ia hampir terjatuh.
“Eeehh ....”
Pria itu dengan cekatan menarik tangan Sesha agar tak jatuh tersungkur. Hingga tubuh Sesha berputar sedikit dan kedua telapak tangannya kini mendarat di atas dada pria yang tadi menyenggolnya.
Mata Sesha terbelalak kaget saat menatap sorot mata yang kini sedang menatapnya. Ia langsung mundur menjauh dari pria yang berdiri di hadapannya.
Pria yang ia tatap adalah pria yang pernah ia temani sekian jam di ranjang 8 bulan yang lalu.
“Maaf,” ucapnya pada Sesha.
Sesha tak menjawab, ia langsung berbalik pergi dari hadapan pria itu.
***
“Ayo, kita pulang saja. Yang penting kita sudah datang dan menyalami mempelai. Aku tidak suka terlalu lama berada di acara seperti ini,” ucap Alfa pada Daffa yang berjalan di sampingnya.
“Belum ada lima menit kita di sini, Al. Ayolah ... sepuluh menit lagi, aku masih ingin menikmati makanan yang ada di sini, cup cake yang tadi aku makan begitu sangat enak dan aku menginginkannya lagi,” jawab Daffa dengan langkah yang tergesa mengikuti langkah Alfa yang begitu sangat cepat.
Alfa menghentikan langkah dan menatap Daffa dengan mata yang memicing. “Hanya cupcake saja kamu ributkan! Bahkan membeli seribu cupcake pun kamu sanggup! Kenapa harus ribut segala?”
“Ini bukan hanya sekedar cup cake! Tapi rasanya begitu sangat enak! Dan yang terpenting, cup cake itu gratis! Jadi ayo, masuk dulu sebentar dan nikmati dulu cup cake-nya. Aku yakin kamu juga akan suka dengan rasanya,” ucap Daffa seraya tersenyum.
__ADS_1
“Tidak! Aku ingin pulang dan beristirahat!” jawab Alfa kemudian melangkahkan kaki lagi meninggalkan Daffa.
“Ck!” Daffa berdecak dan kembali mengikuti langkah kaki Alfa.
Alfa melangkahkan kakinya dengan langkah yang cepat dan tergesa. Padahal ia tak akan kemana-mana setelah ini.
Saat dia sedang berjalan dengan langkah yang cepat, dengan tidak sengaja lengannya mendorong bahu seorang wanita yang berjalan di depannya hingga wanita itu hampir saja tersungkur.
“Eehh ....”
Beruntung dengan cepat Alfa langsung memegang lengan si wanita dan menarik tangannya itu ke arahnya.
Kedua tangan si wanita kini menyentuh dada bidangnya. Mata Alfa terbelalak kaget saat menatap sorot mata wanita kini sedang menatapnya. Wanita itu ialah gadis yang pernah ia tiduri 8 bulan yang lalu.
Wanita yang tak lain ialah Sesha itu menjauh mundur.
"Maaf," ucap Alfa dengan mata yang masih menatap Sesha.
Sesha tak menjawab ucapan Alfa dan langsung berbalik segera pergi.
Alfa masih dalam posisinya, ia berdiri mematung cukup kaget saat melihat perut Sesha yang buncit tadi.
"Dia … hamil?" gumam Alfa. Ia langsung mengingat ucapan Daffa jika saat itu dirinya adalah orang pertama dan juga terakhir yang menyentuh Sesha. Itu artinya ... ia adalah ayah dari bayi yang sedang dikandung oleh Sesha?
__ADS_1
Alfa berlari dari posisinya hendak mengejar Sesha.
Bersambung