Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Chapter. 39


__ADS_3

Pip!


Sesha lantas langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja saat mendengar suara pintu yang dibuka. Berharap orang yang membuka pintu kamar itu tak mendengar pembicaraannya dengan Lita via telepon tadi.


“Sasa?” Panggil Alfa.


Sesha lantas berjalan masuk ke kamar dan menatap Alfa yang berdiri di depan pintu. “I–iya ... Tuan? Ada apa?”


Alfa yang mendengar Sesha berucap dengan nada yang gugup itu mengernyitkan dahi. “Kenapa kamu kayak orang kaget begitu?” tanya Alfa. Matanya lalu melihat ke tangan Sesha yang sedang memegang ponsel, “Kamu punya HP ternyata, mana saya minta nomor kamu biar saya gak susah kalau ngehubungin kamu,” ucap Alfa merogoh saku celananya dan mengambil ponsel.


Sesha cukup bernapas lega saat melihat ekspresi Alfa yang biasa saja, sepertinya pria itu tidak mendengar pembicaraannya dengan Lita tadi.


Itu berarti penyamarannya masih aman.


Dan untung saja, Sesha juga sudah membeli nomor ponsel baru untuk ia pergunakan saat memutuskan untuk tinggal di rumah Alfa. Karena ia tahu, Alfa atau orang rumah yang lain pasti akan meminta nomornya nanti.


Sesha lantas langsung menyebut angka demi angka nomor ponselnya pada Alfa.


“Hmmm ... tadi Tuan memanggil saya? Ada apa?” tanya Sesha mengalihkan pembicaraan.


Alfa mendengus saat mendengar pertanyaan Sesha, ia lupa akan mengatakan apa tadi. “Hmmm ... gak jadi, saya lupa.”


“Hm?" Dahi Sesha mengernyit.

__ADS_1


“Ohh ... jadi ini pengasuhnya Abian?” ucap seorang wanita tiba-tiba datang dan berdiri di samping Alfa.


Sesha mengernyitkan dahi saat melihat gadis yang usianya sekitar 18 tahunan tiba-tiba datang, ia belum pernah melihat gadis itu di hari-hari sebelumnya.


Sesha lalu tersenyum ramah, walau senyumnya tertutup kain cadar, tetapi kepalanya sedikit menunduk seolah memberi salam hangat pada gadis itu tapi sayang keramahannya tak di sambut hangat, gadis itu malah mendelikkan matanya dengan sangat sinis pada Sesha.


Melihat Sesha yang bercadar, gadis itu menatap Sesha dengan penuh telisik. “Kamu bukan teror—”


“Shella!” tegur Alfa cepat saat ia yakin jika adik perempuannya itu pasti akan menanyakan sesuatu yang tidak-tidak. Ia cukup tahu bagaimana sikap dan watak sang adik, “Jangan mengatakan yang tidak-tidak!”


“Aku kan hanya bertanya saja!” sahut Shella dengan kedua tangan yang terlipat di bawah dada, ia lalu melihat ke arah Sesha lagi, “Sebelumnya kerja di mana? Punya pengalaman apa?” tanya gadis bernama Shella itu.


“Hmmm ... dulu saya hanya buruh pabrik saja,” jawab Sesha.


“Pengalaman kerja hanya itu? Kamu pernah jadi baby sitter di mana? Kamu—“


Shella mengerucutkan bibirnya kesal pada sang kakak. “Aku kan hanya sedikit mengintrogasi dia! Siapa tau dulunya dia itu maling, mantan rampok, tukang curi, kan kita tidak tahu! Jangan hanya karena dia pakai pakaian yang tertutup, kita jadi menutup mata! Bisa aja kan dia pake pakaian begini cuma untuk menyamar saja. Bisa saja dia masuk ke rumah ini untuk mengintai sudut demi sudut rumah ini agar nanti dia bisa lebih leluasa saat akan merampok rumah kita. Iya, kan?”


Sesha yang mendengar kata menyamar terucap dari bibir Shella itu menelan salivanya. Faktanya ia juga memang sedang menyamar, tetapi bukan untuk mengambil harta seperti yang Shella tuduhkan. Melainkan agar ia bisa dekat dengan baby Abi, karena entah mengapa ia sangat jatuh hati pada baby Abi sejak saat pertama kali mendengar tangisnya dan juga pertama kali menyusuinya.


“Sudah! Cukup! Berhenti mengatakan omong kosong dan jangan pernah mengganggu Sasa!” sahut Alfa, “Kakak yakin dia tidak seperti itu!”


“Aku kan hanya—”

__ADS_1


“Bisa tutup mulutmu rapat-rapat tidak, huh? Sudah Kakak bilang jangan bicara!” sela Alfa lagi memotong, berucap dengan nada yang tegas.


“Ck!” Shella berdecak kesal, ia menatap Sesha dengan mata yang mendelik, kemudian setelah itu langsung berbalik pergi begitu saja.


Sedangkan Alfa, setelah sang adik pergi, ia kembali menatap Sesha lagi. “Omongan Shella tidak usah di dengar, mulutnya memang tidak pernah di filter,” ucap Alfa.


Sesha mengangguk ragu.


“Ya sudah, lakukan pekerjaanmu kembali. Aku akan datang kembali jika nanti sudah ingat tujuanku menemuimu tadi itu apa,” ucap Alfa lagi.


Sesha kembali mengangguk lagi. Sedangkan Alfa, ia segera keluar dari kamar itu dan meninggalkan Sesha dan juga Abian.


Sesha menghembuskan napasnya dengan sangat kasar setelah Alfa keluar. “Untung saja aku tidak diminta untuk membuka cadar saat perempuan tadi curiga kalau aku menyamar. Kalau dia meminta aku melepas cadar? Huh! Alfa pasti akan sangat kaget.”


Rengekan baby Abi tiba-tiba saja terdengar, Sesha lantas langsung mendekati baby Abi dan menggendongnya. “Kenapa bangun? Kamu pasti lapar, iya kan?” tanya Sesha. Ia berjalan ke arah pintu dan menguncinya rapat.


Kemudian terduduk di sofa depan ranjang dan mulai menyusui baby Abian. Sesha juga melepaskan cadar yang menutupi wajahnya, entah mengapa ia lebih suka menyusui baby Abian dengan cadar yang terlepas. Ia selalu suka jika baby Abi menatap wajahnya jika sedang disusui.


Untungnya sekarang baby Abi sudah mendapatkan kamar sendiri yang lebih privacy. Jika malam, Sesha juga tidak tidur di kamarnya tetapi tidur di kamar Abian karena bayi itu masih menyusu saat di malam hari.


Rengekan yang tadi terdengar dari bibir mungil bayi itu mulai hilang, baby Abi yang sedang menyusu itu kini tersenyum saat melihat wajah Sesha.


“Kenapa selalu tersenyum saat aku melepas cadar? Kamu suka melihat wajah ibu susumu ini, hm?” tanya Sesha seraya tersenyum mengajak baby Abi mengobrol, “Oke kalau begitu, saat kita sedang berduaan ... aku tidak akan menutup wajahku lagi. Jadi yang tau hanya kamu saja, oke?”

__ADS_1


Senyuman mungil kembali terlihat di bibir baby Abi lagi.


Bersambung


__ADS_2