
“Maksudnya foto perempuan ini?” tanya Alfa memperlihatkan foto Sesha di dompetnya.
Sesha memberikan anggukan kepala.
“Dia ... perempuan yang saya cinta,” jawab Alfa.
“Hah?” Mata Sesha sontak langsung terbelalak kaget saat Alfa berucap, “Pe–perempuan yang Tuan Alfa apa?” tanya Sesha memastikan berharap pendengarannya salah mendengar.
“Perempuan yang saya cinta Sasa,” jawab Alfa lagi. Dia kembali memasukkan lagi dompetnya ke dalam saku celananya dan kembali berjalan pelan lagi menyamakan langkahnya dengan langkah kaki Sesha.
Saliva Sesha terasa tertahan di tenggorokan, ia lalu menelannya dan menatap Alfa dengan tatapan yang kaget. Bagaimana tidak kaget, pria di sampingnya itu secara tidak langsung mengatakan kalau dia mencintainya.
“Ke–kenapa ... bisa?” tanya Sesha dengan nada suara yang gagap karena masih kaget dan speechless. Ia bingung harus mengatakan apa dan kalimat itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutnya.
Alfa yang menyadari Sesha terlihat aneh itu mengernyitkan dahi. “Kamu kenapa sih? Kok kayak orang kaget gitu?” tanya Alfa.
“Hah? Enggak,” jawab Sesha. Dia berusaha menetralkan hati dan pikirannya bersikap biasa-biasa saja agar Alfa tak curiga padanya, “Kenapa Tuan bisa jatuh cinta pada wanita itu?” tanya Sesha lagi. Kini dengan nada suara yang pelan terlihat tenang.
“Kenapa saya bisa jatuh cinta sama dia? Hmmm ... pertanyaan yang menarik, tapi sayangnya saya sendiri juga tidak tahu kenapa saya bisa jatuh cinta sama dia. Rasa itu timbul begitu saja dan saya baru menyadarinya setelah dia pergi entah kemana,” ucap Alfa.
Sesha menatap Alfa dengan sangat serius.
“Sudah hampir 5 tahun ini saya menyimpan rasa ini sendirian dan kamu orang pertama yang tahu," ucap Alfa.
Sesha kaget bukan main saat mendengar Alfa yang mengatakan menaruh hati padanya selama 5 tahun.
"Bahkan Daffa saja yang sahabat saya dan selalu ada untuk saya tidak tahu kalau saya menaruh hati pada Sesha. Bukan hanya Daffa, tapi perempuan yang kamu lihat fotonya di dompet saya saja juga dia tidak tahu kalau saya cinta sama dia. Dia sudah lebih dulu pergi dan saya belum sempat mengatakan kalau saya jatuh cinta sama dia. Tapi mungkin … salah satu alasan kenapa saya bisa jatuh cinta sama dia karena dia adalah perempuan pertama yang saya sentuh. Jadi meninggalkan bekas dan juga kenangan yang seumur hidup tidak akan pernah mungkin bisa saya lupakan.”
“Perempuan pertama?” tanya Sesha kembali kaget lagi.
Alfa memberikan anggukan kepala. “Dulu, Daffa mengejek saya habis-habisan karena saya ini masih perjaka dan belum pernah tidur dengan seorang wanita. Saya kesal sampai akhirnya meminta Daffa untuk mencarikan seorang wanita dan wanita itu Sesha. Namanya hampir sama dengan nama kamu,” ucap Alfa memberikan seulas senyum pada Sesha.
Deg!
Tiba-tiba saja, degup jantung Sesha berdegup lebih kencang dari biasanya saat melihat senyuman di bibir Alfa. Entah mengapa ada rasa yang aneh di hatinya, padahal ini bukan kali pertama ia melihat Alfa tersenyum padanya.
__ADS_1
Apa karena ia baru mengetahui sebuah fakta kalau pria itu menaruh hati padanya?
Rasa senang juga terasa di hatinya saat tahu kalau ternyata ia adalah perempuan pertama yang Alfa sentuh. Itu artinya dulu saat melakukannya, itu adalah pengalaman pertama untuknya dan juga untuk Alfa.
Sesha juga cukup senang karena ternyata saat itu Alfa mencari wanita malam bukan karena nafsu semata.
“Terus?” tanya Sesha ingin mengetahui lebih jauh.
“Apanya yang terus?” tanya Alfa, “Tidak ada terusannya karena dianya juga sekarang gak tau di mana. Saya udah coba cari dia bahkan meminta orang untuk mencari dia tapi gak ketemu, dia pergi tanpa jejak dan saya gak berhasil menemukan dia,” jawab Alfa.
“Tuan mencari dia?”
“Iyalah, saya mau memperbaiki kesalahan yang saya lakukan di masa lalu karena saya menyesali semuanya! Selama 5 tahun ini saya hidup dengan penuh penyesalan! Kesel sama diri sendiri juga, kenapa baru sadar jatuh cintanya setelah dia pergi!” sahut Alfa.
Dahi Sesha mengernyit sedikit bingung saat Alfa mengatakan kesalahan yang dilakukan. Kesalahan apa yang Alfa lakukan padanya sampai pria itu menyesalinya?
Kesalahan tidur dengannya? Atau kesalahan apa?
“Andai saja saya bisa bertemu dengan dia lagi. Huuuhhh ....” Alfa menghembuskan napasnya dengan sangat kasar dan memasang wajah yang terlihat sedih, “Sekarang dia sedang apa, ya? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia dalam keadaan yang sehat? Apa hidupnya semakin sulit? Bagaimana kehidupan dia sekarang? Semoga dia sehat, tidak dalam kesulitan dan dalam keadaan baik-baik saja,” ucap Alfa.
Sesha yang mendengar Alfa terlihat mengkhawatirkannya dan peduli padanya itu tiba-tiba saja tersenyum. Entah mengapa ia begitu sangat senang mendengarnya.
“Memangnya kalau Tuan bertemu dengan dia, apa yang akan Tuan lakukan?”
“Memperbaiki semuanya dan menikahi dia,” jawab Alfa cepat.
“Hah? A–apa?” tanya Sesha.
“Dari tadi saya jawab kamu hah-hah terus. Masa gak kedengeran sih,” ucap Alfa.
“Ya maksudnya, kenapa langsung menikah?” tanya Sesha, "Kan baru bertemu."
“Ya kenapa? Saya kan cinta sama dia,” jawab Alfa, “Eehh, tapi usaha dulu deh bentar, kalau langsung diajak nikah nanti dia kaget terus jadi takut dan kabur lagi. Tapi ... kalau dia tau saya nyimpen rasa selama 5 tahun, harusnya tanpa mikir panjang dia terima dong. Saya sesetia itu lho sama dia, 5 tahun terakhir ini saya gak pacaran sama yang lain.” ucap Alfa.
Alfa berpikir sebentar, kemudian menoleh menatap Sesha yang berjalan di sampingnya.
__ADS_1
“Nanti ... kalau saya berhasil bertemu dengan dia, kamu bantuin saya, ya. Bilang sama dia kalau saya beneran cinta sama dia, terus bilang juga kalau 5 tahun ini hidup saya tuh gak beraturan, gak bersemangat atau apa lah. Sedikit drama juga gak pa-pa, biar dia yakin aja gitu! Oke?”
Sesha yang mendengar Alfa berkata seperti itu sontak kembali tersenyum lagi. ‘Kamu tidak tahu saja kalau orang yang mau kamu kibulin itu sekarang ada di hadapanmu!’ batin Sesha berucap, 'Minta tolong kok sama targetnya,'
“Sasa?” panggil Alfa saat ucapannya sama sekali tak ditanggapi. “Sasaaaa ....” panggilnya lagi.
“Hah? A–apa? O–oke ....” jawab Sesha.
Alfa mengerutkan alis saat Sesha terlihat tidak fokus. “Kenapa kamu? Patah hati setelah tahu kalau saya punya perempuan idaman?” tanya Alfa.
“Hah? Eng–enggak,” jawab Sesha.
“Jangan menaruh hati pada saya, nanti kamu sakit hati, lho."
"Dih … anda terlalu percaya diri, Tuan. Saya tidak menaruh hati pada anda," jawab Sesha.
Alfa tersenyum. "Ya siapa tau saja kan? Habis dari tadi kamu keliatan aneh banget," ucap Alfa, "Tapi … kamu jangan tersinggung ya. Saya mengatakan ini seperti itu bukan karena status kamu yang jadi pengasuhnya Abian jadi merasa kalau kamu tidak pantas. Saya tidak peduli akan status seseorang, Sesha juga dulu hanya karyawan pabrik dan bukan orang berada kok, tapi saya gak peduli. Saya mengatakan seperti itu tidak mau bikin orang jadi berharap. Saya sudah coba lupain Sesha dengan menjalin hubungan dengan wanita lain, tapi sayangnya sampai detik ini Sesha masih belum bisa tergantikan, Sa. Dia punya daya tarik yang luar biasa sampai saya bisa sejatuh ini."
Sesha benar-benar bingung harus menjawab ucapan Alfa dengan jawaban apa.
"Sesha … dia wanita beruntung karena bisa dicintai seperti itu," jawab Sesha akhirnya.
Alfa kembali tersenyum lagi, ia tak menjawab ucapan Sesha dan terus berjalan sampai akhirnya sampai juga ke rumahnya.
"Malam ini Abian tidur di kamar saya aja, kamu bebas mau tidur di mana. Di kamar Abian atau di kamar kamu sendiri," ucap Alfa.
Sesha memberikan anggukan pada Alfa.
Alfa yang mendapatkan respon dari Sesha itu lantas langsung menaiki anak tangga hendak ke kamarnya. Begitu pun dengan Sesha, dia juga masuk ke kamarnya dan langsung melepas kain hijabnya setelah mengunci pintu kamar.
Sesha berbaring di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Seulas senyum kembali terlihat lagi di bibirnya saat mengingat kalimat demi kalimat yang tadi banyak terucap dari bibir Alfa.
Entah kenapa ia begitu sangat senang, ia masih sangat tidak menyangka jika pria itu ternyata selama ini menaruh hati padanya.
Pantas saja pria itu masih belum menikah juga, padahal beberapa kali Mama Mila menjodohkan Alfa dengan seorang wanita tetapi tak pernah ada akhir dari hubungan itu.
__ADS_1
Sekarang ia tahu kenapa Alfa selalu enggan dijodohkan oleh keluarganya. Itu karena pria itu mencintainya.
"Kenapa bisa sesenang ini?" gumam Sesha. "Padahal biasanya aku tidak pernah mau tau dan tidak peduli juga dengan dia, tapi kenapa sekarang rasanya aneh?"