Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Bab 12. Pil Kontrasepsi?


__ADS_3

1 Bulan kemudian.


“Haiii ....” sapa Lita begitu sampai di kantin pabrik. Seperti biasa, saat setelah apa yang terjadi satu bulan yang lalu, setiap jam istirahat ia kini selalu menemui Sesha untuk makan siang bersama. Karena sebelumnya mereka tak begitu dekat dan Sesha juga selalu sendirian.


Sesha tak menjawab ucapan Lita, ia hanya membalas ucapan Lita dengan seulas senyuman.


Dahi Lita sedikit mengernyit saat melihat wajah Sesha yang terlihat agak berbeda. Tidak seperti biasanya, gadis itu terlihat lemas tak bersemangat.


“Bagaimana? Sudah sampai mana perkembangan peralihan nama rumah kamu?” tanya Lita.


“Masih tetap sama seperti kemarin, belum ada perkembangan,” jawab Sesha seraya melahap malas nasi di dalam lunch box. “Aku masih belum berhasil mendapatkan tanda tangan ibu tiri aku, gak tau juga harus dengan cara seperti apa,” jawab Sesha.


Lita diam sebentar untuk berpikir saat mendengar jawaban Sesha, setelah itu akhirnya dia berucap, “Mau pake cara aku enggak? Harusnya sih ini berhasil,” ucap Lita.


Mata Sesha sontak langsung menatap Lita dengan tatapan paling serius. “Apa? Membuat dia mabuk?” tanya Sesha, “Ibu tiri aku gak pernah mabuk, jadi agak sulit kalau bikin dia mabuk. Terus lagi kalau misal dengan sengaja kita kasih, yang ada nanti dia malah curiga,” ucap Sesha lagi.


“Enggak … bukan, bukan dengan cara yang seperti itu, kita bikin dia ngantuk parah sampe pandangan dia itu buyar, nanti kamu minta tanda tangan dia dengan beralasan sedang mencari pekerjaan baru yang posisinya lebih bagus. Kan biasanya ngelamar kerja butuh izin dari orang tua dan butuh tanda tangan orang tua juga. Kita bikin dia ngantuk parah sampe susah melek biar dia gak bisa baca kertas itu, kan orang ngantuk biasanya pandangannya tuh udah gak jelas. Jadi nanti dia juga gak akan ngeuh kalau sebenernya itu surat pemindahan nama kepemilikan rumah,” jelas Lita memberikan solusi.


Sesha yang mendapatkan solusi dari Lita yang masuk akal dan sepertinya lebih mudah untuk ia lakukan itu sontak langsung memberikan senyum yang begitu sangat manis. “That is a very good idea!” ucap Sesha.


“Haelah, Sha. So-soan ngomong enggres, biasa aja kali ah!” sahut Lita.


“Tapi ide kamu bener-bener brilian!” jawab Sesha.

__ADS_1


“Ya iyalah ... Lita!” ucap Sesha berbangga diri.


“Tapi ... dimana aku bisa dapet obat tidurnya? Di apotik memang di jual bebas?” tanya Sesha.


“Hmmm ... biar aku yang cari deh, besok aku bawa,” jawab Lita.


Sesha langsung menggenggam tangan Lita yang berada di atas meja. “Thank you, Lit. Kamu ternyata temen yang baik, kamu banyak membantu aku keluar dari sebuah masalah. Kalau gak ada kamu, mungkin sekarang aku sudah menjadi istri juragan Basri dan sedang menangis meratapi hidup. Walau dengan cara yang salah, tapi setidaknya aku bisa bebas,” jawab Sesha.


“Udahlah, biasa aja. Gak usah berlebihan kayak begitu, aku tidak terlalu pantas mendapatkan pujian karena caranya salah,”


“Tapi setidaknya aku tidak tersiksa batin,” jawab Sesha.


“Udah, gak usah dibahas. Sekarang kita makan,” ucap Lita lagi seraya tersenyum.


Sesha tak lagi menjawab ucapan Lita dan kembali melahap nasinya dengan malas. Membuat Lita yang melihatnya kembali mengernyitkan dahi.


Sesha kembali menatap Lita dan mengangguk ragu. “Iya, dari kemarin badan aku lemes banget. Bawaannya pengen tidur, terus pagi tadi juga aku pusing, mual lagi. Gak enak deh pokoknya,” ucap Sesha.


Lita yang tadi terduduk santai dengan punggung sedikit membungkuk itu sontak langsung terduduk tegak saat mendengar aduan Sesha. Ia menatap Sesha dengan sangat serius. “Sha?”


“Hm?”


“Kamu kapan terakhir kali datang bulan?” tanya Lita.

__ADS_1


“Hm? Mmmhh ...,” Sesha menatap langit-langit kantin berpikir, “Kapan ya? Lupa aku,” jawab Sesha.


Lita langsung keluar dari tempat duduknya dan kembali terduduk lagi di samping Sesha, kemudian berucap dengan nada suara yang sangat pelan. “Pada saat melakukan hubungan intim dengan pria itu, kamu tidak sedang dalam masa subur, kan? Kamu juga minum pil kontrasepsi, kan?” tanya Lita, ia menatap Sesha dengan sangat serius menunggu jawaban.


“Hah? Masa subur? Itu apa? Dan apa? Pil, pil apa? Pil kontrasepsi? Itu juga apa?” tanya Sesha.


Mata Lita sontak langsung terbuka sempurna, sudah bisa ia pastikan jika Sesha pasti tak meminum pil yang akan mencegah atau menunda kehamilan.


“Pil kontrasepsi itu obat untuk mencegah kehamilan,” bisik Lita.


Kali ini Sesha yang terbelalak kaget, menatap Lita dengan wajah yang sangat terkejut. “Enggak, aku gak minum kek begituan, aku kan gak paham. Orang gak pernah ngelakuin sebelumnya, kamu juga gak ngasih tau. Aku pikir gak akan langsung jadi karena kan cuma sekali doang. Orang tua aku aja dulu setelah nikah setahun baru punya anak,” jawab Sesha.


“Ya ampun, Sesha! Ya kalau kamu sedang dalam masa subur terus punyanya si laki juga oke, tidak menutup kemungkinan untuk bisa hamil! Jangan di samain sama orang tua kamu," ucap Lita.


Sesha semakin dibuat kaget. “Terus aku harus gimana? Kamu juga gak bilang!”


“Ya aku pikir kamu paham,” ucap Lita.


“Aku sama sekali tidak mengerti untuk hal urusan seperti ini, Lita! Dunia aku tuh sempit! Mana paham urusan kayak begini,” ucap Sesha.


“Makanya jangan hidup menyendiri! Minimal berbaur tuh sama ibu-ibu, kalau kerja juga jangan terlalu fokus, minimal kalau gak ikutan ghibah ya kamu nguping kek pembicaraan ibu-ibu yang sering bicara soal ranjang dan bahas kek beginian. Kamu terlalu fokus sama hidup kamu yang nyungsep jadi ya kek gini. Hal sekecil ini aja kamu gak tau!” ucap Lita begitu sangat kesal. Karena memang selama ini Sesha hampir tidak pernah berbaur dengan karyawan lain dan cenderung menyendiri.


Ini saja dia berani mendekati Sesha karena Sesha lebih dulu mengajaknya berbicara sebulan yang lalu.

__ADS_1


“Terus aku harus bagaimana?” tanya Sesha dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena takut.


Bersambung ...


__ADS_2