Rahasia Di Balik Cadar

Rahasia Di Balik Cadar
Chapter. 51


__ADS_3

"Kamu mengenal Rafa dari mana?" tanya Alfa saat mobil yang ia kemudikan itu sudah keluar dari perkomplekan rumahnya, "Kenapa dia—"


"Dia pernah menjadi saudara tiriku," sela Sesha memotong ucapan Alfa dan langsung menjawab ucapan sang calon suami dengan to the point.


"Apa?" Mata Alfa terbelalak kaget, ia menoleh menatap Sesha yang terduduk di sampingnya itu dengan wajah kagetnya lalu kembali melihat lurus lagi fokus pada jalanan, "Saudara tiri? Kamu dan Rafa saudara tiri?" tanya Alfa lagi, "Jadi yang tadi dikatakan oleh si Rafa itu benar?"


Sesha memberikan anggukan kepala. "Kamu pasti mau tanya kenapa tadi aku tidak mengakuinya, kan? Aku punya masalah dengan dia!" jawab Sesha.


Alfa diam sebentar, dulu ia sempat mencari informasi tentang Sesha dan sedikit jelas ia tahu tentang keluarga Sesha. Ibunya yang meninggal kemudian ayahnya menikah lagi, tapi ia tidak tahu siapa saja keluarganya itu dan juga tidak tahu dengan masalah yang Sesha maksud.


"Masalah apa?" tanya Alfa.


Sesha diam sebentar, setelah yakin untuk bicara, ia lalu menatap Alfa dengan sangat serius. "Kamu masih ingat kan kalau dulu aku pernah hamil."


Alfa menelan salivanya dan mengangguk ragu.


"Waktu itu aku berbohong tentang ayah dari bayi yang aku kandung," ucap Sesha, "Sebenarnya ... bayi yang aku kandung saat itu … anak kamu."


Alfa kembali menatap Sesha lagi dan menelan salivanya saat Sesha mulai membahas masa lalu. Bayi yang Sesha maksud itu adalah Abian tetapi Sesha belum mengetahuinya.


Alfa tetap diam, ini belum saatnya untuk ia berkata jujur tentang Abian.

__ADS_1


"Dan dia meninggal, itu karena Kak Rafa!"


"Apa?" Alfa menatap Sesha dengan mata yang terbuka sempurna, dia akhirnya menghentikan laju mobilnya di jalur kiri untuk bicara serius dengan Sesha. Setelah mobilnya terhenti di tepi jalan, Alfa kembali menatap Sesha, kali ini dengan tatapan yang sangat serius. "Karena siapa tadi katamu?"


"Karena Kak Rafa! Anak kita meninggal karena Kak Rafa!" ucap Sesha mempertegas.


"Jadi yang mencelakaimu waktu itu si Rafa?" tanya Alfa.


Sesha langsung mengangguk. "Waktu itu dia mau menabrak aku dengan motornya, aku melihat dengan jelas kalau orang itu adalah Kak Rafa! Makanya aku benci banget sama dia! Aku marah, aku kesal dan aku tidak terima! Aku sudah banyak berkorban untuk ibunya, untuk semua orang yang aku anggap keluarga. Aku bahkan sampai rela menjadi wanita malam agar bisa membantu kesulitan mereka, tapi apa yang aku dapatkan? Kak Rafa malah dengan sengaja mencelakaiku sampai anakku tidak ada. Jujur saja aku tidak dendam, aku selalu menanamkan dalam diri untuk tidak dendam pada orang yang menyakitiku, tapi aku masih tidak ikhlas! Aku masih belum bisa memaafkan mereka semua."


"Kamu yakin kalau orang itu adalah Rafa?" tanya Alfa kembali memastikan.


Sesha mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya hingga terlihat seperti huruf V pada Alfa. "Aku berani bersumpah! Aku sangat yakin kalau dia yang berusaha mencelakai aku."


Sesha menaikkan kedua bahunya tak tahu. "Aku tidak tahu," jawab Sesha.


"Apa hubungan kalian sejak lama memang sudah buruk? Jadi saat melihat kamu di jalan, dia yang benci secara spontan ingin mencelakaimu saja," ucap Alfa.


"Hubunganku dengan dia sebelumnya sangat baik, saat Mama Ika dan Dewi selalu menindasku, hanya Kak Rafa satu-satunya orang yang waras. Tapi setelah tahu aku hamil, dia berubah dan ya itu ... dia berusaha mencelakaiku," jawab Sesha.


Alfa menatap lurus, ia memikirkan sesuatu kemudian mendengus, lalu kembali menatap Sesha lagi. Kali ini dengan wajah yang terlihat kesal. "Terus kalau sudah tahu dia jahat, kenapa kamu malah sengaja membuka cadarmu, huh? Kenapa tidak tetap menyamar dan menutup wajahmu saja? Sekarang dia sudah tahu kamu tinggal di mana, bagaimana kalau dia berniat membunuhmu?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihat bagaimana ekspresi dia saat melihatku setelah 5 tahun lamanya dan setelah membunuh anakku!"


"Kalau tau ternyata alasanmu membuka cadar karena itu, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya! Huhhhh!" Alfa membuang napas dengan sangat kasar, "Ya ampun, Sesha! Harusnya kamu mengatakan ini sejak awal padaku! Kalau si Rafa itu malah nekat bagaimana, huh?"


"Ya aku kan ...." Sesha bingung harus menjawab apa.


"Apa? Aku apa, huh?"


"Ya sudah ... tenang saja, aku pastikan semua akan baik-baik saja. Nanti kamu bersikap pura-pura tidak tahu saja, aku akan menyelesaikan masalahku dengan dia," jawab Sesha.


"Pura-pura tidak tahu katamu? Kamu pikir aku ini pria lemah yang tidak bisa membantu saat wanitaku sedang dalam masalah?"


'Wanitaku?' ucap Sesha di dalam hati. Entah mengapa hatinya senang luar biasa saat Alfa berucap. Bibirnya dengan spontan malah tersenyum.


Alfa yang melihat Sesha tersenyum itu mulai kesal.


"Aku sedang kesal! Kenapa malah tersenyum?"


Sesha mengerucutkan bibir.


"Sudah! Pokoknya kamu jangan melakukan apa pun, bisa fatal jika kamu salah langkah. Urusan ini biar menjadi tanggung jawabku, biar aku yang mengurus si Rafa itu," ucap Alfa.

__ADS_1


"Hm?"


Bersambung


__ADS_2