
"Orang yang dulu pernah mencelakaimu?" tanya Alfa mulai menatap Sesha dengan tatapan serius dan alis yang bertaut. Ia langsung teringat saat di mana Sesha hampir saja tertabrak motor dan anak buahnya lah yang menolong, "Maksudnya kecelakaan saat kamu hampir di tabrak motor?" tebak Alfa.
Jika tadi alis Alfa yang bertaut, kali ini alis Sesha yang bertaut. "Kamu tahu aku pernah hampir celaka?" tanya Sesha.
"Hah? Hmmm ...," Alfa mengalihkan pandangannya ke arah lain dan memejamkan mata, 'Sial! Aku keceplosan! Urusannya bisa berabe kalau pembicaraan ini terus berlanjut. Kalau aku mengatakan orang yang dulu menolongnya saat dia dicelakai adalah orangku, pembicaraan pasti merembet pada Abian yang dulu Sesha lahirkan, bisa saja kan setelah ini dia bertanya kalau orang itu adalah orangmu, berarti kamu tahu anakku meninggal karena kecelakaan itu? Terus aku harus menjawab apa jika dia bertanya seperti itu? Berbohong? Mengiyakan ucapan dia? Tidak! Mengiyakan ucapan dia sama dengan mengiyakan jika Abian sudah meninggal. Bukankah ucapan adalah doa? Apalagi ucapan orang tua, bagaimana kalau ucapanku yang mengiyakan Abian sudah tiada malah dikabulkan? Enggak-enggak ... aku tidak mau! Lagi pula aku juga sudah banyak berbohong, masa iya harus berbohong lagi,' ucap Alfa di dalam hati.
"Tuan?" panggil Sesha saat melihat Alfa yang malah melamun, "Kenapa malah melamun? Jawab pertanyaanku, jadi dulu kamu tahu kalau aku pernah di celakai orang?" tanya Sesha lagi.
"Hm? Nanti saja kita bahas, kita harus segera pergi, takutnya keburu macet. Nanti setelah waktunya pas, aku akan menjelaskan semuanya sama kamu sejelas-jelasnya tanpa dikurangi dan dilebih-lebihkan."
Sesha mengerucutkan bibir dan mengangguk.
"Satu lagi, jangan panggil aku, Tuan!"
__ADS_1
"Terus? Aku harus memanggilmu dengan apa? Yang mulia raja?"
Mata Alfa memicing. "Tidak seperti itu juga, panggil Sayang kek, Ayang, Yaang, Cintaku, atau apa gitu yang lebih mesra dan enak di dengar."
Sesha mengatupkan bibir menahan senyum. "Enggak ya! Aku tidak mau!"
"Ayolah, Sayang. Biasakan dari sekarang," ucap Alfa.
Mata Sesha menyipit saat Alfa memanggilnya dengan panggilan sayang. "Kita lihat nanti saja kamu lebih enak di panggil apa," ucap Sesha, "Ayo, kita pergi sekarang, katanya takut macet." ucap Sesha kembali melangkahkan kaki berjalan ke arah Alfa.
"Rafa? Tolong buka pagarnya, saya mau keluar," ucap Alfa setengah berteriak pada Rafa saat sudah berada di samping pintu mobilnya.
Rafa si penjaga rumah itu langsung beranjak dari duduknya hendak membuka pintu pagar seperti yang sang majikan katakan. "Baik, Tu—an." ucap Rafa, ia yang hendak berjalan ke arah pagar itu menghentikan langkah tiba-tiba. Matanya terbuka sempurna karena kaget saat melihat wanita yang hampir 5 tahun ini tak ia lihat itu kini berada di hadapannya.
__ADS_1
Rafa tak membuka pintu pagar dan malah berjalan ke arah Sesha yang berdiri di samping pintu mobil. Alfa yang melihat Rafa berjalan menghampiri Sesha itu mengernyitkan dahi.
"Sha? Kamu ... kok ada di sini?" tanya Rafa pada Sesha, "Kamu apa kabar? Sedang apa di sini?" tanya Rafa lagi masih menatap Sesha dengan tatapan yang kaget tak percaya.
Alfa langsung berjalan menghampiri Sesha dan juga Rafa saat si penjaga rumah itu terlihat mengenal Sesha.
"Kamu mengenal Sesha?" tanya Alfa pada Rafa.
Rafa menatap Alfa. "Kenal, Tuan, dia adik saya. Kenapa Tuan bisa mengenal a—"
"Enggak-enggak, Sayang." sela Sesha memotong, sengaja ia memanggil Alfa dengan panggilan Sayang di hadapan Rafa si kakak tiri yang dulu pernah mencelakainya, "Aku bukan adiknya," ucap Sesha pada Alfa, "Aku kan anak tunggal, tidak punya adik apalagi kakak!" tambah Sesha lagi dengan mata memicing tajam pada Rafa enggan mengakui Rafa sebagai kakak tirinya.
Walau tak mempunyai dendam pada Rafa, tetapi rasa kesal dan marahnya pada Rafa masih bersarang di dada Sesha, jika bukan karena pria itu, ia tak mungkin kehilangan anaknya.
__ADS_1
Sedang Rafa, dia menelan salivanya saat Sesha tak mengakuinya dan juga memanggil Alfa dengan panggilan sayang.
Bersambung