
“Hah? I–Ibu ... Sasa?” tanya Alfa dengan dahi yang mengernyit. Ia menatap Abian dengan tatapan bingung saat putranya itu mengatakan jika foto yang ia perlihatkan adalah foto wanita yang mengasuhnya sejak bayi. Padahal jelas-jelas yang ia berikan adalah foto Sesha.
“Iya, ini Ibu Sasa,” jawab Abian.
Saliva Alfa terasa tertahan di tenggorokan. “Memangnya Abi sudah pernah melihat wajah Ibu Sasa? Kenapa bisa mengatakan kalau ini Ibu Sasa?” tanya Alfa.
Dengan tangan yang masih berada di bawah dada terlipat, Abian berdecak. “Ck! Dali dulu Abi tahu wajah Ibu Sasa kalena dia selalu lepas kain penutupnya kalau sedang kasih Abi susu di kamal. Telus, setiap bobo di kamal Abi, Ibu Sasa juga selalu lepas kainnya. Jadi Abi tahu wajah Ibu Sasa,” jawab Abian lagi.
Alfa menatap lurus berpikir. Entah mengapa hatinya jadi merasakan keanehan setelah mendengar Abian berucap. Ia langsung teringat pertanyaan Sesha kemarin malam saat setelah pulang dari pasar malam.
Dengan tiba-tiba saja wanita itu bertanya tentang foto yang terselip di dompetnya dan gestur tubuh wanita itu juga terlihat aneh. Belum lagi setelah itu, wanita yang ia kenali dengan nama Sasa itu jadi banyak bertanya sampai akhirnya ia mengatakan jika ia mencintai wanita yang fotonya ia simpan di dalam dompet.
‘Mungkinkah jika Sasa itu sebenarnya adalah Sesha? Apa jangan-jangan selama ini Sesha menyamar jadi Sasa? Tapi ... untuk apa dia menyamar?’ batin Alfa berucap.
Tatapan Alfa beralih menatap Abian lagi, Ia kembali memperlihatkan foto Sesha lagi pada Abian. “Abi yakin ini Ibu Sasa?” tanya Alfa kembali memastikan.
“Yakin, Papa! Ini Ibu Sasa!” jawab Abian dengan nada suara yang kesal, “Ibu Sasa kan seling tidul sama Abi dan tidak pake keludung. Jadi Abi tau kalau ini Ibu Sasa.”
Mata Alfa lalu mulai melihat ke segala arah, melihat sudut demi sudut kamar Abian. ‘Haruskah aku memasang CCTV di kamar ini?’ batin Alfa berucap.
__ADS_1
“Kenapa Papa simpan foto Ibu Sasa?” tanya Abian hingga membuat Alfa kembali menatap Abian lagi.
Abian menaruh jari telunjuknya di dagu dan matanya menyipit, menatap sang ayah dengan tatapan penuh telisik.
“Papa suka ya sama Ibu Sasa?” tanya Abian.
“Hah?” Alfa menatap Abian dengan tatapan kaget. “Enggak!”
“Kalau enggak, kenapa menyimpan foto Ibu Sasa?”
Alfa memejamkan mata sebentar, kemudian menatap Abian lagi. “Dengarkan Papa. Papa sedang ingin mencari tahu sesuatu, Abi jangan bilang ya sama Ibu Sasa kalau Abi baru saja kasih tau Papa wajah Ibu Sasa. Kalau Ibu Sasa tau Abi bilang ke Papa ini wajah Ibu Sasa, nanti Ibu Sasa marah. Kalau Ibu Sasa marah, nanti dia pergi. Abi tidak mau kan Ibu Sasa marah terus nantinya pergi?”
“Tidak, Papa. Abi tidak mau Ibu Sasa pelgi,” ucap Abian.
Abian langsung memberikan anggukan kepala pada sang ayah. “Terus foto Mama? Mana?” tanya Abian.
“Tidak perlu fotonya, Papa akan berusaha menemukan Mama dan membawa dia pada Abi.”
“Benelan?” tanya Abian menatap sang ayah dengan tatapan serius.
__ADS_1
“Papa akan berusaha lebih dulu, doakan saja. Oke?”
Abian memberikan anggukan kepala pada sang ayah. Sedangkan Alfa, dia menatap lurus dan berpikir. ‘Jika benar Sasa itu adalah Sesha, berarti selama ini orang yang aku cari ada di depan mata? Ternyata dia ada di dekatku dan selama 5 tahun ini aku tidak menyadarinya?’ batin Alfa.
Alfa juga kembali teringat saat Abian masih bayi, Abian tidak mau meminum ASI yang lain dan hanya menginginkan ASI milik Sesha sang ibu kandung. Tetapi setelah Sasa datang, Abian mau menghisap ASI milik Sasa.
Setelah mengingat hal itu, Alfa semakin yakin jika Sasa memang Sesha yang selama ini ia cari.
‘Kalau begitu … itu artinya selama ini Sasa mengasuh anak kandungnya sendiri?’ batin Alfa berucap lagi, ‘Semesta membuat ibu dan anak itu kembali bersama tanpa disadari?’
***
Keesokan harinya, Alfa meminta Sesha untuk mengajak Abian keluar berjalan-jalan. Meminta Sesha pergi ke lapangan komplek karena biasanya di sore hari, lapangan di komplek perumahannya selalu ramai oleh anak-anak yang bermain.
Selama ini Abian jarang sekali keluar, jadi Alfa meminta Sesha untuk mengajak Abian berjalan-jalan.
Sengaja ia meminta Sesha mengajak Abian pergi karena ia akan memasang kamera tersembunyi di kamar Abian. Memasang CCTV dirasa akan ketahuan, jadi ia akan memasang kamera tersembunyi di kamar itu yang ukurannya sangat kecil agar Sesha tidak menyadarinya.
“Sepertinya di sini aman, langsung mengarah ke kasur juga,” gumam Alfa setelah menaruh kamera berukuran mini di samping TV, berada di dekat beberapa bingkai foto Abian. “Aman ... ini tidak kelihatan,” gumam Alfa lagi, “Maaf kalau aku terlalu lancang, aku hanya ingin memastikan kamu itu benar Sesha wanita yang aku cintai dan selama 5 tahun ini aku cari atau bukan.”
__ADS_1
Setelah memastikan kamera itu benar-benar tersembunyi dan aman tak terlihat, Alfa keluar dari kamar Abian. “Sebentar lagi aku akan tahu siapa kamu sebenarnya. Aku berharap kamu memang Sesha ....”
Bersambung