Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 21. Tunggu dan Lihat Dulu


__ADS_3

Selepas menjalankan ibadah sholat subuh, Topan meminta anggota keluarganya kembali ke rumah dulu. Pemuda itu merasa kasihan melihat wajah wajah lelah dari kakak kakaknya. Terlebih mereka harus datang ke perusahaan. Kai, Akhza, dan Abra pun setuju. Bagaimana pun mereka memang harus bersiap untuk bekerja.


" Mom, Ayah, sebaiknya pulang dulu saja. Biar aku yang menjaga Kak Ana."


Sita dan Rama berpikir sejenak, mereka memang harus pulang untuk mengambil beberapa baju untuk mereka pakai ganti saat menjaga Ana.


" Baiklah. Kami tidak akan lama. Titip kakak mu sebentar ya."


Topan mengangguk, ia kemudian menyalami tangan kedua orang tua itu berganti gantian. Rama dan Sita melenggang keluar dari rumah sakit.


Topan memasuki ruangan Ana. Kali ini pria itu tak dapat membendung air matanya. Sakit, satu kata itulah yang mewakili perasaannya. Topan mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan lahan. Ia berusaha mengatur nafasnya yang terasa amat sesak melihat wanita yang dicintainya itu terbaring lemah tak berdaya.


Ia menghapus air matanya. Sebisa mungkin air matanya itu tidak merembes keluar saat ia berada di dekat Ana. Topan meraih lembut telapak tangan Ana lalu duduk di kursi yang berada di samping brankar. Ia mencium lembut tangan halus gadis itu.


" Dek."


Satu kata yang membuat Topan mengangkat kepalanya dan kemudian berdiri menatap wajah cantik Ana.


" Kak, Sudah bangun? Mau apa hmm?"


" Mau sholat."


Topan mengangguk mengerti. Ia membantu Ana menutupi kepalanya dengan kain selendang yang ia bawa dari rumah. Ana melakukan gerakan tayamum, meskipun tangannya masih sedikit lemah.


Ana pun melakukan ibadah dua rakaat dengan semampunya. Topan tertegun melihat apa yang Ana lakukan. Ia kembali meneteskan air matanya namun secepat kilat ia menghapusnya.


" Pan," panggil Ana sesaat setelah ia selesai dengan ibadah wajibnya itu.


" Ya kak, kakak butuh apa?"


Ana menggeleng, saat ini ia tidak butuh apa apa. Melihat Ana diam, Topan pun menjelaskan kemana semua anggota keluarga nya berada saat ini. Ana pun mengangguk paham.


" Pan, Mas Kama mana?"


" Oh, Mas Kama? Pas banget sebelum kakak sadar dini hari tadi mas Kama pulang. Abang yang suruh soalnya kan kasian Mas Kama harus mengurus pekerjaannya dan tesisnya."

__ADS_1


Bohong, tentu saja Topan berbohong. Setelah sore kemarin Kama pulang dan tidak kembali lagi hingga saat ini.


" Apakah Mas Kama sudah tahu kalau aku sudah sadar."


" Maaf kak belum, aku belum sempat memberitahunya. Sebentar ya aku kabarin dia dulu."


Ana mengangguk lemah. Topan pun segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia kemudian menuliskan pesan mengenai kondisi Ana. Tapi kemudian ia menghapusnya kembali lalu dengan cepat menelpon Kama.


Tuuuuut tuuuuuut


Topan menunggu beberapa saat tetapi panggilannya tak kunjung dijawab. Lagi, Topan mencoba menghubungi lagi tapi nihil, di seberang sana tidak menjawab sama sekali. Akhirnya Topan kembali ke niat awal yakni dengan menuliskan pesan.


" Tidak dijawab ya pan?"


" Iya kak, mungkin mas Kama nya sedang di jalan atau sedang sibuk."


Ana kembali mengangguk dengan lemah. Ia kembali memejamkan matanya. Rasa kantuk menyerbu mata nya setelah tadi diberi obat oleh dokter. Ana memang melihat kakinya tengah di gantung dan di gips tapi dia belum menanyakan kondisi nya saat ini.


Melihat Ana kembali tidur, Topan hanya tersenyum kecil lalu bangkit dari duduknya dan berdiri. Ia menunduk mendekatkan wajahnya di kening Ana dan menciumnya sekilas.


*


*


*


Berkali kali panggilan dari Topan Kama acuhkan karena saat ini ia tengah berbicara dengan papi dan mami nya. Setelah mendengarkan penjelasan dari teman dokternya, kedua orang tua itu bersikap diluar dugaan Kama.


Bagiamana tidak, Agus dan Rima dengan tega menginginkan Kama menyudahi hubungannya dengan Ana. Tentu saja hal tersebut membuat Kama geram.


" Papi sama mami bener bener nggak punya hati ya. Bisa bisanya minta Kama buat ninggalin Ana saat kondisi Ana sedang begini. Pap, mam, Ana butuh support Kama. Ana butuh Kama sekarang."


" Halah, support support an. Orang tuanya ada, saudaranya banyak. Biar mereka yang support Ana. Kamu mau kapan nungguin gadis itu. Pemulihan Ana tidak sebentar. Bukan hanya sebulan dua bulan bahkan bisa setahun dua tahun. Emangnya kamu mau jadi perjaka tua. Umurmu sudah 27 tahun. Lagian menikah untuk kamu bisa dilayani dan diurusi istrimu bukan kamu yang kudu ngurusi istrimu."


Kama tertegun mendengar kata demi kata yang dilontarkan sang papi. Ternyata papi nya ini menganut paham patriarki, yang menempatkan pria di atas segalanya. Kama mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah membiarkan beberapa panggilan tidak terjawab, dia acuh terhadap pandangan kedua orang tuanya, Kama pun melirik pesan pesan yang masuk.

__ADS_1


Kama sedikit terkejut, namun senyuman melengkung di bibirnya saat membaca pesan dari Topan. Ia pun segera berdiri dan berlari keluar. Teriakan papi nya sama sekali tidak ia hiraukan.


" Dasar bocah tidak tahu diuntung. Dikasih tahu ngeyel banget," ucap Agus dengan begitu kesal.


Di dalam mobil, Kama langsung mempercepat laju kendaraannya. Ia sungguh senang mengetahui Ana sudah sadar.


" Alhamdulillaah, alhamduliiaah Ya Allaah Ana sudah sadar."


Kama sungguh tidak sabar ingin menemui Ana di rumah sakit. Sungguh ia tidak akan peduli dengan apa yang diucapkan oleh kedua orang tuanya. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah menemui Ana. Ia akan mengurus mami dan papi nya nanti.


Sesampainya di halaman rumah sakit, Kama langsung memarkirkan mobilnya dan segera berlari menuju ruangan Ana. Dalma pesan Topan, adik Ana tersebut memberitahu dimana kamar Ana berada.


Tok tok tok


Kama terlebih dulu mengetuk pintunya, seseorang melangkah mendekat pintu dan membuka untuknya.


" Eh Mas ,masuk."


" Thanks Pan, kamu sudah memberitahuku."


Topan mengangguk, kemudian pria itu meninggalkan Kama berdua dengan Ana. Ia cukup tahu diri untuk tidak mengganggu keduanya bertemu dan berbicara.


Topan pun memutuskan untuk pulang ketempat Amar sejenak sambil memeriksa perkerjaan para penjahit nya. Namun sebelum itu Topan terlebih dulu menghubungi mommy dan ayahnya. Entah mengapa ada rasa tidak enak meninggalkan Ana.


Pemuda itu pun berjalan menjauh meninggalkan ruangan Ana. Namun ada suatu hal yang menarik perhatian Topan. Ia kemudian menghentikan langkahnya dan melihat apa yang tengah terjadi.


" Liana? Kenapa dia bisa di rumah sakit?"


Topan semakin terkejut saat melihat seseorang lain yang ada di sana. Mata Topan memicing, ia kemudian mendekatkan tubuhnya di pintu ruangan yang ada Liana di sana. Beruntung pintu tersebut terbuka sehingga ia bisa mendengarkan pembicaraan orang yang ada di dalam itu dengan sangat jelas.


Topan semakin tersentak saat mendengar apa yang diucapkan mereka. Darahnya seketika mendidih, ia pun ingin sekali langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Namun sebuah tangan menghalanginya.


" Jangan gegabah, tunggu dan lihat dulu saja."


TBC

__ADS_1


__ADS_2