
Sebuah suara berhasil membuat keduanya terkejut dan Topan langsung menarik diri dari Ana. Topan dan Ana langsung membalikkan tubuh mereka ke sumber suara.
" Kak, mas, kenapa kalian di sini?"
" Kami yang harus tanya, apa yang kalian lakukan di sini."
Glek
Topan kesusahan menelan saliva nya. Ia berpikir akan habis dengan kedua kakak lelakinya itu. Ana berusaha untuk tenang, meski begitu ia tidak bisa memungkiri bahwa jantungnya berdetak begitu kencang saat ini.
" Topan ayo bawa Ana pulang."
" I-iya mas."
Dengan sedikit gemetar, Topan meraih kursi roda Ana dan mengikuti kakak serta mas nya itu kembali ke rumah. Keduanya tampak diam tak bersuara sepanjang perjalananan dari taman menuju rumah. Ana yang paham getar ketakutan dalam diri Topan langsung menyentuh dan mengusap lembut tangan pria tersebut.
" Semua akan baik baik saja. Mari hadapi sama sama."
" Baik kak."
Topan sedikit lega, ternyata Ana mendukungnya. Ia semakin yakin kalau Ana pun merasakan hal yang sama dengan dirinya.
Sesampainya di rumah Akhza dan Abra menggiring Ana dan Topan ke ruang keluarga. Di sana sudah ada ayah dan mommy nya yang tengah menikmati teh hangat dan pisang goreng. Kedua orang tua tersebut mengerutkan kedua alisnya saat melihat ekspresi anak anak mereka.
Akhza dan Abra terlihat dingin dan datar. Sedangkan Topan dan Ana terlihat sedikit gelisah dan takut takut. Sita pun berinisiatif membuka pembicaraan di tengah suasana yang begitu tegang tersebut.
" Ada apa hmmm? Kenapa pulang jalan jalan jadi aneh gini."
" Mom, Yah, entah kalian nanti akan percaya dengan cerita Akhza atau tidak tapi tadi Akhza dan Abra melihat Ana sama Topan begini."
Akhza membuat gerakan kedua tangan yang mengerucut dan saling bertubrukan. Tentu saja Sita dan Rama paham maksudnya. Sedangkan Topan dan Ana bagai kepergok warga dan tengah di grebek, keduanya semakin menundukkan kepalanya.
" Oooh ... "
Akhza dan Abra terkejut melihat reaksi mommy dan ayahnya. Mereka sama sekali tidak terkejut. Bahkan mereka terlihat biasa saja.Tentu saja baik Akhza maupun Abra merasa aneh melihat reaksi kedua orang tuanya tersebut.
" Kok mommy sama ayah cuma ber ooh ria aja sih."
__ADS_1
" Terus Abra maunya mommy gimana, nikahin mereka langung? ya nggak apa pa sih kalau mereka berdua siap dan kalian berdua mau dilangkah."
" Betul, tapi ayah harap kalian nggak usah minta pelangkah yang macem macem ya. Kasihan Topan baru kena musibah studionya."
Akhza dan Abra semakin menganga. Mulut keduanya terbuka lebar saat mendengar ucapan mommy dan ayahnya. Mereka sungguh tidak tahu mengapa kedua orang tuanya begitu santai menanggapi apa yang terjadi dan malah berbicara begitu.
" Jangan bingung, Topan sudah bilang ke mommy dan ayah kalau dia menyukai Ana. Hanya tinggal Ana gimana perasaannya ke Topan.
" Haaaa!!!!"
Akhza dan Abra masih terus dilanda keterkejutan. Tapi kini keduanya mengerti. Sikap Topan ke Ana memang berbeda. Sebagai pria ia bisa meraskan hal tersebut.
" Baiklah, terus kalian mau bagaimana?" tanya Akhza.
" Aku ingin menikahi kak Ana," jawab Topan.
" Tidak!!" sergah Ana.
semua mata langsung tertuju kepada Ana. mereka menatap penuh dengan tanya.
" Kenapa kak?"
Topan bangkit dari duduknya dan berjongkok di dean kuris roda Ana. Pria itu meraih kedua tangan Ana lalu menciumnya.
" Kak, aku tulus mencintaimu. Aku tidak peduli apa pun keadaanmu. Bahkan, maaf jika kakak berakhir di kursiroda selamanya pun aku tidak akan pernah menyesal."
Apa yang diucapkan Topan tentu membuat semua orang terharu. Bahkan Ana sudah meneteskan air matanya. Topan pun menghapusnya dengan lembut.
" Woiii sapa nih yang naruh bawang di mari!" Celetukan Abra tentu saja membuat semuanya tertawa. Suasana yang tadi sendu berubah menjadi kembali cerah.
Beda Topan beda lagi Kama. Pria itu berjalan gontai saat memasuki rumah. keputusannya mengakhiri hubungannya dengan Ana sungguh membuat pria 27 tahun tersebut seperti kehilangan semangat.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Kama mendesahkan nafasnya dengan berat saat melihat wanita itu sudah berada di dalam rumah. Ia tampak sedang memasak di dapur bersama Rima.
__ADS_1
" Hey, gimana? apakah semuanya sudah selesai?"
Pertanyaan Rima diacuhkan oleh Kama. Pria itu memilih masuk ke kamarnya dan tidak mempedulikan tatapan tajam mami dan papinya.
Brak!!!
Suara pntu ditutup dengan sangat keras. bahkan Brigitta terkejut, tentu saja ia hanya pura pura agar mendpatkan simpati oleh Rima.
" Maafkan Kama ya Bri, anak itu benar benar."
" Memangnya Fandi dari mana mam, kenapa bisa begitu lesu.
" Mami menyuruh dia memutuskan hubungannya dengan gadis lumpuh itu. Siapa yang mau juga punya menantu lumpuh gitu."
" Oh begitu, pantas saja Fandi sedih. kenapa suruh putus sih mam. Kan nanti juga sembuh."
" Kita nggak tahu kapan dia sembuh. Kata dokter kenalan papi dia akan lama lagi bisa berjalan. Ya sudah mami minta tolong antarkan jus ini buat Kama ya sekalian hibur dia."
Brigitta mengangguk. Ia benar benar berhasil memainkan perannya dengan sangat baik. terbukti dalam kurun waktu 2 minggu ia sudah berhasil mendapatkan hati Agus dan Rima. Wanita itu tersenyum smirk. sebuah langkah berhasil ia lakukan, dan tinggal memasuki langkah selanjutnya.
Dengan sebuah nampan berisikan segelas jus alpukat susu Brigitta masuk ke kamar Kama setelah mengetuk dan diberi izin oleh Kama.
" Fand minumlah."
" Thanks Bri."
Kama menenggak jus tersebut dengan sekali tenggak. Ia pun menaruh gelas tersebut ke atas nakas. Sedangkan Brigitta duduk di sebelah Kama. Wanita itu mencoba menenangkan Kama dengan mengatakan bahwa semua baik baik saja. Ia bahkan mnyarankan kama untuk fokus menyelesaikan tesis nya terlebih dulu lalu ia bisa fokus kembali mengejar Ana nanti.
" Sudahlah fan, kamu harus kembali semangat."
" Thanks Bri."
Kama menundukkan kepalanya, sungguh ia merasa tidak berdaya saat ini namun tiba tiba Brigita memeluknya. Ia pun mengangkat kepalanya saat Brigitta mengurai pelukan. Brigitta yang tidak ingin menyia nyiakan kesempatan dan cemistry yang sudah terbangun ini langsung berani meraup bibir Kama. Tentu saja Kama terkejut namun detik selanjutkan Kama menikmati ciuman tersebut. Bahkan Kama sudah menjatuhkan tubuh Brigitta di atas ranjang besar miliknya. Kama semakin brutal menyerang Brigitta bahkan ciuman itu sudah turun ke leher membuat Brigita mendesaah pelan. Kama seakan haus akan hal tersebut, dan Brigitta merupakan sebuah air yang melepas dahaganya.
" Thanks Bri. Dan maafkan aku."
" Tidak perlu minta maaf, sejujurnya aku sungguh rindu Fand. Aku rindu semua tentang mu."
__ADS_1
Brigitta menatap lekat mata Kama. Ia pun kembali meraup bibir Kama. Keduanya kembali berbelit lidah bahkan Kama berhasil melupakkan kesedihannya karena telah memutuskan berpisah dangan Ana.
TBC