Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 54. Kau Bukan Yang Dulu


__ADS_3

Kama berada di RS Mitra Harapan. Dia yang sudah tahu jadwal terapi Ana kali ini berniat untuk menemui wanita yang sah menjadi istri orang tersebut. Bagi Kama, Ana belumlah milik siapa-siapa. Ia beranggapan pernikahan Ana dan Topan ini adalah pernikahan rekayasa dan bukan sebenarnya. 


Kama tahu Topan bukanlah saudara kandung Ana. Tapi Kama mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa hubungan mereka hanya sebatas kakak adik dan tidak lebih dari itu. 


Kama tersenyum lebar saat melihat Ana datang. Ana terlihat semakin cantik dan anggun setiap harinya. Namun senyumnya sirna saat melihat interaksi manis dan mesra antara Ana dan Topan. Tangan Kama mengepal sempurna, ia sungguh tidak sika melihat itu. 


Topan membawa Ana menuju ruang terapi. Seperti biasa Ana berlatih di sana dengan Topan yang selalu siap menemani. 


" Bagaimana aku bisa menemui Ana jika pria itu selalu berada di sisi nya? Aku harus mencari cara agar Topan pergi dari sisi Ana."


Kama pun tersenyum saat menemukan sebuah cara yang ia yakin akan berhasil. Ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Di sisi lain, Topan yang sedang menunggui Ana tiba-tiba mendapat panggilan dari Bianca. Terdengar suara panik Bianca di seberang sana.


" Ada apa Bi, kenapa begitu ribut."


" Itu bang, ada ibu-ibu ngamuk. Katanya baju yang ia pesan tidak sesuai katalog."


" Udah coba dijelasin."


" Udah bang, tapi ibu nya nggak mau denger. Minta ketemu sama abang langsung."


" Oke, bentar ya. Tenangin dulu. Aku kesana sekarang."


Topan terdiam sejenak. Ia tidak mungkin meninggalkan Ana sendirian. Namun ia juga tidak customer nya kecewa.


" Sayang … "


" Ada apa?"


" Kak, aku harus ke studio. Ada cust yang komplain soal baju yang dipesannya."


" Ya udah tinggalin aja nggak apa-apa."


Topan ragu, tapi ia harus segera pergi. Akhirnya Topan pun pergi ke studio nya untuk menghandle customer. Kama tentu tersenyum lebar mengetahui Topan meninggalkan Ana. 


" Bagus, sesuai rencana."


Melihat Ana tengah beristirahat, Kama berjalan menghampiri Ana. Dengan tidak tahu malunya ia langsung duduk di sebelah Ana.


" Hai An, bagaimana kabarmu?"

__ADS_1


Ana reflek menoleh ke sumber suara. Wanita itu menghembuskan nafasnya kasar melihat pria yang jadi masa lalu nya itu.


Ucapan Mbak Brigitta benar. Nih orang bener-bener. Di rumah istri lagi hamil dia malah disini godain istri orang. Apa sebenarnya sifat dia emang kayak gini, batin Ana 


Melihat Ana yang acuh membuat Kama kehabisan kata untuk membuat wanita itu bicara. Dengan berani Kama meraih tangan Ana. Ana tentu saja sangat kaget, ia pun berusaha untuk memberontak. Namun cekalan tangan Kama malah semakin erat.


“ Lepaskan, atau aku akan teriak.”


“ Silahkan, aku tidak takut.'


Takut, tiba-tiba Ana merasa takut dengan ekspresi wajah Kama yang seperti itu. Ana belum pernah melihat Kama menampilkan mimik wajah yang begitu menyeramkan.Selama ini Ana mengenal Kama sebagai pria yang lembut dan penyayang. Tapi yang ia lihat saat ini adalah pria yang berambisi dan tentunya kasar.


“ Lepaskan adik ku atau kau tidak akan lagi bisa melihat matahari besok pagi!”


Kama terkejut mendengar suara bariton yang begitu menggema. Seketika itu pun juga ia melepaskan cengkraman tangannya terhadap tangan Ana. Ana menghela nafas penuh kelegaan melihat Abra.


“ Mas!”


Ekspresi ketakutan Ana jelas tertangkap oleh mata Abra. Beruntung, Topan yang mengingat peringatan Brigitta langsung menghubungi Akhza dan Abra saat berlalu ke LS Studio. Tentu saja dia tidak akan meninggalkan Ana seorang diri tanpa pengawasan sedikitpun.


Abra berjalan menghampiri Ana lalu memeluk sang adik. Matanya menatap tajam ke arah Kama. Tanpa menanggapi Abra, pria itu kemudian melenggang keluar. 


“ Sial, saudara kembar itu memang sangat mengganggu. Lihat saja aku pasti akan bisa kembali lagi nanti.”


“ Sudah semuanya sudah tidak apa-apa.”


“ Apa Topan yang meminta mas kesini?”


Abra mengangguk. Abra pun mengatakan bahwa Topan juga sudah menceritakan pertemuan keduanya pagi tadi dengan Brigitta dan menjelaskan mengenai peringatan Brigitta.


“ Sepertinya untuk sementara kamu lebih baik berlatih di rumah. Nanti kita bicarakan kepada dr. Arga apaka bisa menjalankan terapi di rumah saja. Aku yakin kunyuk itu pasti akan datang lagi.”


Ana mengangguk setuju. Ia juga tidak ingin bertemu lagi dengan Kama. Pria itu sungguh menakutkan, sangat berbeda dari ia mengenalnya. Terbesit rasa kasihan dalam diri Ana kepada Brigitta.


“ Semoga Allaah melindungi Mbak Brigitta dan bayi yang ada dalam kandungannya.”


*


*


*

__ADS_1


Sesampainya di rumah Kama marah-marah tidak jelas. Bahkan dia mulai membanting sesuatu yang ia pegang.


Pranggggg


Barang pecah belah itu sukses meluncur ke lantai hasil dari tangan lincah Kama. Brigitta yang berada di kamar tentu terkejut dengan apa yang ia dengar. Dengan perlahan, ia pun berjalan ke luar Kamar dan menuju ke arah suara.


“ Fand. apa yang kau lakukan.”


Kama berjalan mendekat ke arah Brigitta lalu dengan cepat mencengkeram leher wanita yang telah menjadi istrinya selama sebulan itu.


“ Fa-fan. Le-lepas-kan. A-aku ti-dak bi-sa ber-na-fas.”


Brigitta benar-benar kesusahan bernafas dengan apa yang tengah dilakukan Kama. Pria itu seperti kesetanan. Akhirnya Kama menghempaskan tangannya dan membuat Brigitta terhuyung. Beruntung Brigitta bisa kembali menyeimbangkan tubuhnya sehingga tidak terjatuh ke lantai. Jika ia terjatuh akibatnya akan sangat fatal. Mata Brigitta sudah berembun. Pria yang ia kenal itu sungguh sangat berbeda sekarang. Ia seperti tak lagi mengenal Kama Darfandi.


“ Kau pasi yang memberitahu mereka bahwa aku ingin mendekati Ana, ya kan!”


“ Iya, Fand Ana sudah menikah. Mengapa kau ingin mendekati dan mengejarnya lagi. Dan lagi apa kau lupa. Kau juga sudah menikah bahkan akan punya Anak.”


“ Heh asal kau tahu, aku menikahimu karena terpaksa. Aku sungguh tidak ingin menikah denganmu jika bukan karena anak sialan yang kau kandung itu. Anak itu benar-benar pembawa masalah bagiku. Gara-gara anak itu aku tidak lagi bisa mendapatkan Ana dan malah harus menikahimu. Wanita tua!”


Deg


Brigitta benar-benar terkejut dengan apa yang terlontar dari mulut kama. Pria itu sungguh kejam hingga berbicara buruk mengenai bayi yang bahkan masih belum lahir. Air mata Brigitta kini pun tumpah ruah tak lagi bisa terbendung dan reaksi Kama sungguh acuh.


“ Lalu apa yang kau inginkan Fand.”


“ Aku tidak ingin kau ada dalam hidupku.”


Brigitta mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Sepertinya ia memang tidak diharapkan dalam keluarga ini. Ia memejamkan matanya sejenak merasakan pedih yang luar biasa. Dalam hati Brigitta berkata,” Mungkin ini adalah karma atas perbuatan jahat yang ku lakukan.”


Brigitta menghapus air mata yang membasahi pipinya. Kemudian dengan kepala terangkat ia menatap Kama.


“ Lalu apa keputusanmu? Apa kau menginginkan kita berpisah.”


“ Ya tentu saja. Aku akan menalakmu. Kita tak lagi suami istri. Meskipun begitu aku baru akan mengajukan gugatan di pengadilan nanti saat anak itu lahir. Tapi sungguh aku tidak ingin melihatmu di rumah ini.”


" Baik jika keputusanmu seperti itu. Aku akan pergi dari rumah ini. Dan silahkan lakukan apa yang ingin kau lakukan.”


Dengan air mata berlinang, Brigitta perjalan perlahan menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Ia membereskan barang-barang yang ia miliki lalu memasukkannya ke dalam koper. Hatinya hancur sehancur-hancurnya. Harapannya mendapatkan keluarga untuk bernaung kini kandas. Lagi, ia harus hidup sendiri lagi. Namun Brigitta tersenyum. Ia mengelus lembut perutnya.


“ Paling tidak kali ini mama tidak benar-benar sendiri karena ada kamu nak kesayangan mama. mari pergi karena kita tidak diinginkan. mari hidup berdua dengan baik.”

__ADS_1


TBC


__ADS_2