Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 48. Kebingungan Keluarga Kama


__ADS_3

Berbeda dengan kebahagiaan yang tengah dirasakan keluarga Joyodiningrat. Di sebuah rumah tepatnya di sebuah villa di sudut kota B sebuah keluarga tengah dilanda kebingungan yang tak berkesudahan. Pasalnya saham perusahaan perkebunan karet miliknya anjlok seketika. Beberapa investor menarik investasi mereka karena video penolakan Agus dan Rima menjadi viral di jejaring sosial. 


Mereka beranggapan bahwa Agus adalah seorang pria yang tidak berperasaan karena dengan tega menolak kekasih sang putra dan mengatakan hal buruk kepada gadis yang masih dalam keadaan sakit. Kata-kata yang terlontar dinilai tidak berperasaan dan tidak beretika. Bagaimana bisa pasangan suami istri itu dengan terang-terangan menolak si gadis langsung di depan keluarganya.


Pun dengan Kama, Kama dinilai sebagai pria yang tidak berkompeten karena berselingkuh dengan wanita lain hingga hamil saat kekasihnya tengah tertimpa musibah. Khalayak luas menilai keluarga Agus ini adalah keluarga yang memiliki kepribadian yang buruk. Meskipun pada saat itu Kama sudah menyudahi hubungan  dengan Ana, tapi tetaplah di mata publik dia merupakan pria brengsek.


Investor pun merasa kasus yang menimpa keluarga Agus akan berdampak pada bisnis mereka. Sehingga mereka dengan berani memilih menarik dana yang sudah sebagian digunakan itu. Bahkan sidang Kama pun akhirnya ditunda karena pihak universitas tidak ingin kasus Kama tersebut mencoreng nama instansi.


Agus tentu bingung, dia berusaha menghubungi semua relasinya namun zonk, tidak ada satupun yang mau membantu. Rima pun sama, ia sebisa mungkin mencari relasi yang bisa dimintai tolong namun seperti yang sudah-sudah tidak ada yang mendekat jika seseorang tengah mengalami masalah.


Sedangkan Brigitta terkesan acuh. Ia tidak mungkin mau mengucurkan dana untuk perusahaan yang sudah diambang pailit itu. Sama saja dengan membuang uang. Sebenarnya bukan itu alasan utamanya. Semenjak kegagalan show nya waktu itu para pelanggannya mulai beralih dan tidak lagi muncul di butiknya. 


Apalagi waktu itu Brigitta sempat keceplosan bahwa design yang ditampilkan malam itu bukan miliknya. Hal tersebut membuat pelanggan sosialitanya menjadi ilfeel dengan hasil design miliknya. Bahkan para netizen mulai mencari-cari fakta yang masih secuil tersebut.


" Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apakah masih bisa menjual karya-karyaku? Apa mereka masih bisa menerimaku?"


Brigitta termenung di balkon atas depan kamarnya. Ia mengusap lembut perutnya yang masih rata. Saat ini ia pun berada di villa milik Kama beserta kedua mertuanya. Ia enggan berada di lantai bawah karena sedari tadi Agus marah-marah tidak jelas.


" Bri, makanlah. Kamu dari tadi belum makan."


Kama masuk ke kamar membawa nampan yang berisi nasi goreng dan susu buat Brigitta. Sesaat Brigitta tersenyum, paling tidak Kama perhatian kepada dirinya yang tengah mengandung.


Kama meletakkan nampannya di atas nakas dna meminta Brigitta segera memakannya. Wanita itu pun kembali masuk ke kamar dari balkin dan langsung memakan nasi goreng tersebut.


Kama duduk di atas kasur, pria itu membuang nafasnya kasar. Terlihat sekali ia tengah merasa terbebani dengan apa yang sedang dialami keluarganya.


" Maaf Fan, aku sungguh tidak bisa membantu," ucap Brigitta tiba-tiba.

__ADS_1


" Its Ok. Tidak masalah," jawab Kama lirih.


Brigitta meneruskan makannya hingga nasi goreng di piring itu habis tak bersisa. Ia lalu menenggak susu yang masih hangat hingga tandas.


" Apakah tidak ada jalan keluar lagi?"


" Ada, jalan satu-satunya yakni menjual sebagian perkebunan karet tersebut agar perusahaan bisa tetap ada dan pabrik tetap bisa beroperasi."


Ya itu adalah jalan satu-satunya. Meskipun tadi Agus sempat menentang, namun tidak ada cara lain selain itu. Namun itu pun juga belum bisa dikatakan sebagai pemecahan masalah karena mereka juga belum menemukan orang yang mau membeli perkebunan karet milik mereka. 


Brigitta hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apapun. 


" Baiklah, kau istirahatlah. Aku harus membantu papi menyelesaikan masalah ini."


Brigitta mengangguk dan Kama melenggang keluar dari kamar dengan membawa kembali nampan tersebut.


" Bagaimana Pi, apa papi berhasil menemukan orang yang mau membeli perkebunan itu?"


" Belum, mereka tidak ada yang mau. Sekalinya ada harganya sangat murah dan kita tidak bisa melepasnya dengan harga yang sangat murah. Kita tidak akan bisa menutup kerugian yang kita alami."


Kama tertunduk, ada sisi dihati nya yang secara tidak langsung menyalahkan kedua orang tuanya tersebut. Kalimat pengandaian pun muncul.


Andaikan papi dan mami tidak bersikap begitu, kita pasti masih baik-baik saja. Aku masih bersama dengan Ana dan perusahaan juga tidak akan terguncang segini hebatnya.


Kama mendengus. Ada rasa kesal di hatinya saat mengingat sikap mami dan papinya yang terang-terangan menghina Ana bahkan di depan kedua orang tua dan saudaranya.


" Semua gara-gara wanita lumpuh itu semuanya jadi seperti ini."

__ADS_1


" Cukup Mi. Mami tidak seharusnya bicara begitu. Mami dan Papi yang salah. Bukan Ana. Jangan jadi looser dengan lempar batu sembunyi tangan. Aku meskipun tidak atau mungkin belum mencintai Brigitta tapi aku berusaha bertanggung jawab dengan kesalahan yang kuperbuat. Aku sadar aku brengsek, tapi sebisa mungkin aku tidak menyalahkan mami dan papi. Coba kalian runut kebelakang, jika kalian merestuiku menunggui kesembuhan Ana semua ini tidak akan terjadi."


Deg 


Brigitta yang hendak turun terkejut mendengar semua ucapan Kama. Meskipun ia sudah tahu kalau Kama belum mencintainya lagi seperti dulu, tapi mendengar langsung kalimat tersebut dari mulut Kama membuat hati Brigitta sungguh nyeri.


Akhirnya Brigitta pun urung untuk turun ke lantai bawah. Ia memilih kembali masuk ke kamar. Wanita itu kembali duduk di balkon dan melihat pemandangan hijau di luar sana.


Ada satu hal yang hingga saat ini ia sesali yakni lahir di dunia ini. Jika boleh memilih ia tidak ingin lahir di dunia yang semua meninggalkan dirinya. Ia bahkan tidak tahu dimana gerangan kedua orangtuanya. Dari kecil Brigitta hidup di panti asuhan. 


" Mengapa kalian membuangku. Jika tidak menginginkanku, mengapa kalian melahirkanku."


Brigitta menangis. Ia tergugu menahan sesaknya dada yang saat ini ia rasakan.


Di lantai bawah Kama masih mencoba menjawab apa yang maminya katakan. Rima terus-terusan menyalahkan keadaan ini kepada Ana.


" Tidakkah mami mau sedikit saja mengakui kesalahan mami."


" Mami tidak salah, jika bukan karena dia kita tidak akan begini."


" Sudah! Cukup, kalian bisa diam tidak! Nasi telah menjadi bubur. Percuma juga kalian menyesalinya."


Ibu dan Anak itu seketika terdiam mendengar teriakan Agus. Ia tahu apa yang ia lakukan kemarin adalah hal yang salah tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Menyesal pun tiada arti.


" Aku ada satu cara pi."


Agus dan Rima saling pandang mendengarkan ucapan tiba-tiba Kama. Mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan Kama hingga putra mereka itu menjelaskan apa yang dimaksud.

__ADS_1


TBC


__ADS_2