
Brigitta digendong oleh seorang pria, bahkan pria itu berteriak keras memanggil dokter saat tiba di depan ruang IGD. Petugas medis langsung membawakan brankar dan meminta pria itu meletakkan Brigitta dengan perlahan.
Pria itu terlihat cemas. Berkali-kali ia melihat ke dalam ruangan melalui kaca pintu ruangan. Setelah beberapa saat seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
" Apa anda suaminya?"
" Bu~"
" Beruntung kandungan istri anda tidak apa-apa. Sebaiknya istri anda dirawat untuk beberapa saat di sini. Dan jika di rumah mohon untuk bedrest. Jangan melakukan pekerjaan yang berat dulu. Silahkan anda sudah bisa menemui istri anda di dalam."
Pria berwajah asia itu sungguh tidak berkata apa-apa. Mulutnya menganga sempurna mendengar penjelasan sang dokter. Suami, istri, kandungan, apalah itu dia sungguh tidak mengerti. Tak mau ambil pusing pria itu langsung menghampiri wanita yang ditolongnya tadi.
" Ini tas tangan anda nona. Maaf saya harus lancang menggendong Anda."
" Terimakasih tuan, terimakasih sudah menolong saya. Saya minta maaf dokter tadi sudah salah paham dengan Anda, kalau boleh tahu siapakah nama Anda?"
" Nama saya Hwan."
" Saya Brigitta Almaida. Sekali lagi terimakasih tuan Hwan sudah menolong saya."
Ya, pria yang menolong Brigitta adalah Hwan. Oleh Mr. Sun Hwan diberi petunjung rekaman cctv yang memperlihatkan Astuti dan kedua anaknya saat berada di bandara. Selain Itu mobil yang digunakan beserta rekaman kamera dalam mobil juga bisa didapatkan oleh kai. di sana terlihat jelas siapa sopir yang membawa Astusti dan kedua anaknya. Data pribadi sopir itu juga didapat oleh Mr. sun dan sudah ia serahkan kepada Hwan. Maka dari itu Hwan langsung bertolak ke Indonesia untuk menyelidikinya sendiri.
Hal tersebut tentu saja tanpa sepengetahuan keluarga besar Park. Dengan alasan ingin berziarah ke makam sang ayah lah Hwan datang ke Indonesia. Bahkan Park Baek Yun pun tidak tahu apa yang dilakukan Hwan. Hwan sengaja menyembunyikan hal ini dulu. Dia akan memberi tahu tuannya saat sudah menemukan titik terang.
Mr. Sun hanya memberitahu sampai segitu. Selebihnya Hwan akan mencari tahu sendiri dibantu oleh orang-orangnya tentunya. Meskipun Baek Yun dianggap pemimpin boneka namun di belakangnya ada Hwan dan tim yang selalu menjadi backing yang siap dalam setiap situasi.
Seperti saat ini, ketika Hwan tengah berada di Indonesia ia sudah meminta anak buahnya untuk berjaga di sana. Hwan tentu tahu tidak ada dirinya di samping Baek Yun membuat sebuah kesempatan saudara-saudara Baek Yun bertindak.
“ Sama-sama nona. Maaf jika saya lancang, dimana suami nona berada.”
“ Aah, saya sudah berpisah dengan suami saya.”
“ Maaf saya tidak bermaksud.”
__ADS_1
Brigitta tersenyum, senyum yang membuat Hwen merasa tidak asing. Dia seperti pernah bertemu dengan Brigitta sebelumnya tapi entah itu dimana.
“ Nona, apakah kita pernah bertemu sebelumnya.”
“ Maaf sepertinya tidak.”
Hwan pun mengangguk pelan. Tak mau mengganggu, Hwan pun akhirnya pamit undur diri. Ia memberi salam dengan membungkuk khas cara memberi salam orang korea.
Pria itu melenggang keluar ruangan Brigitta. Namun perasaan yang mengganjal membuat Hwaan meminta orangnya untuk mengawasi Brigitta. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. Dengan sedikit kemampuan yang dimiliki Hwan pun mencoba untuk mencari tahu mengenai data pribadi Brigitta.ia tidak pernah salah dalam menilai orang selama ini dan instingnya selalu tepat. Saat ini itingnya mengatakan bahwa ia mengenal Brigitta.
Setelah beberapa saat akhirnya Hwan mendapatkan data pribadi brigita.
“ Owalah pantes. Dia fashion Designer. Bahkan pernah di NY Fashion Week. Pantesan wajahnya tidak asing. Haish, aku terlalu banyak berpikir.’
Hwan kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit. Sedangkan Brigitta sungguh bersyukur bayi yang ia kandung tidak apa-apa. Ia kemudian menghubungi Risa sang sahabat. Hanya Risa satu-satunya orang yang bisa ia jadikan sandaran saat ini.
Namun sebelum ia berhasil menghubungi Risa ternyata ia mendapat panggilan dari Ana. Brigita mengerutkan kedua alisnya, ada gerangan apa Ana tiba-tiba menelpon.
“ Hallo An, Assalamualaikum.”
" Alhamdulillah, kenapa An?”
“ Ini mbak, mommy ngundang mbak ke rumah. apakah bisa?”
Brigitta terdiam sejenak. Ada apa sebenarnya keluarga Joyodiningrat ini tiba-tiba mengundangnya ke rumah mereka. Namun Brigitta tidak mau banyak berpikir.
“ Maaf An, aku tidak bisa. Aku lagi di rumah sakit. Sampaikan salamku untuk mommy kamu ya”
Di seberang sana Ana tentu terkejut. Kemarin mereka bertemu dan Brigitta baik-baik saja. mengapa kini tiba-tiba ada di rumah sakit.
“ Kenapa An?”
“ Mbak Brigitta di rumah sakit mom.”
__ADS_1
Entah mengapa Topan yang mendengar Brigitta ada di rumah sakit memiliki perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Ada rasa khawatir dalam hatinya.
“ By, apa perlu melihatnya?”
“ Baiklah mari kita lihat.”
Beruntung Ana mengusulkan ide untuk menghampiri Brigitta ke rumah sakit. Topan pun bersiap, namun rupanya Sita juga ingin ikut. Sia merasa prihatin dengan cerita Ana dan Topan mengenai Brigitta. Jadi wanita paruh baya itu juga ingin tahu kondisi Brigitta saat ini.
Ketiganya masuk ke mobil dan langsung meluncur ke rumah sakit. Di perjalanan Sita meminta Topan mencoba menghubungi Nataya menanyakan Brigitta. Nataya yang bertugas di bagian IGD pasti sedikit banyak tahu pasien yang masuk.
“ Apa kata Nataya Pan.”
“ Kata dia, Mbak Brigitta dibawah pengawasan dr. Lisa. Tadi emang dia lihat Mbak brigitta datang dengan digendong oleh seorang pria. tapi kata Nataya pria itu bukan suami mbak Brigitta.”
Sita dan Ana saling pandang. Kalau buka Kama siapa lagi yang membawa Brigitta ke rumah sakit? Pertanyaan itu memenuhi pikiran ibu dan anak tersebut.
“ Mom, kak, jangan berpraduga. Kita lihat saja kondisi Mbak Brigitta nanti. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.”
Ana merasa suaminya itu begitu khawatir. Namun entah mengapa tidak ada rasa cemburu di hai Ana. Karena jika boleh jujur setelah bertemu Brigitta dan melihatnya dengan seksama, Ana merasa keduanya ada kemiripan.
Meskipun wajah Topan didominasi wajah oppa-oppa korea dan Brigitta lebih ke pribumi namun mereka memiliki mata yang sama dan garis wajah yang mirip. Terlebih saat keduanya sama-sama tertawa. Jika membandingkan saat keduanya tidak bersama maka tidak akan terlihat mirip. Akan tetapi jika dijejerkan maka kemiripan itu begitu jelas.
“ By, kamu apakah dulu tidak pernah tahu mengenai keluargamu?”
“ Tidak, aku besar di jalan kak. Kakak tahu itu kan. Kenapa bertanya begitu.”
“ Enggak, siapa tahu kau itu adalah anak orang yang hilang.”
Ucapan ana yang tiba-tiba itu membuat Topan sedikit berpikir mengenai asal usulnya. Topan selama ini memang besar di jalanan. Kata orang-orang dia ditemukan oleh seorang pemulung. Sempat dirawat beberapa tahun, Tapi akhirnya ia harus kembali hidup sendiri saat orang yang menolongnya itu meninggal.
“ Jangan ngadi-ngadi deh kak.”
Ana kemudian terdiam. Sita yang sedari tadi hanya menyimak obrolan Ana dan Topan dibuat heran dengan putrinya itu. Mengapa Ana tiba-tiba menanyakan hal seperti itu sekarang.
__ADS_1
TBC