Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 26. Aku Aib Bagimu


__ADS_3

Dua minggu berlalu, kesehatan Ana berangsur pulih. Dan selama dua minggu itu Topan sama sekali tidak meninggalkan Ana. Meskipun Ada perawat wanita dan mommy Sita yang menjaga tentunya, tapi Topan tetap standby berada di kediaman Joyodiningat. Pria itu bahkan sama sekali tidak keluar. Amar atau Bianca lah yang ke rumah untuk memberikan laporan mengenai produksi atas pesanan pelanggan


Pagi hari yang begitu cerah, Topan membawa Ana untuk berkeliling komplek dengan menggunakan kursi roda. Rencana baru mulai minggu ketiga Ana akan melakukan rehabilitasi untuk kaki nya.


" Dek, bolehkah kakak duduk di kursi taman itu," tanya Ana yang lebih seperti permintaan.


Topan tersenyum, pria itu mengangguk lalu menggendong Ana dan memposisikan tubuh Ana di kursi taman. Sebenanrya tidak ada yang berubah dari gadis itu. Ana tetap ceria dan banyak bicara saat di tengah tengah saudaranya. Namun hanya Topan yang tahu kalau Ana masih sering menangis saat ia tengah di kamarnya sendiri. Namun Topan pura pura tidak tahu agar Ana tetap bisa meluapkan apa yang ia rasakan.


" Kak, mau jajan? Ada cimol tuh?"


" Boleh."


Topan pun berjalan untuk membeli cimol yang berada di sekitaran taman. Tapi pandangannya terus kepada Ana. Ia selalu memastikan bahwa gadis itu baik baik saja. Tak lama seseorang datang mendekat bersamaan dengan Topan kembali dari membeli cimol. Topan hanya tersenyum tipis saat melihat orang itu di sana. Orang yang terakhir kali mereka lihat di rumah sakit dan tidak muncul lagi setelah itu hingga hari ini.


" Kak, cimol nya mau dimakan? oh iya aku beli minum dulu ya," ucap Topan sambil kembali berlalu dari sana. Ia membiarkan Ana bisa berbicara dengan Kama. Ya, orang tersebut adalah Kama.


Sebenarnya baik Topan maupun Ana sedikit heran mengapa Kama baru muncul sekarang. Namun Topan sendiri tak mau menduga duga. Ia memilih membiarkan keduanya berbicara.


" An."


" Hei mas, gimana kabarnya?"


Ana menampilkan senyum terbaiknya yang mana membuat Kama malah merasa semakin ngilu dihatinya.


" Baik An. Maaf."


" Tidak perlu minta maaf. Aku sudah tahu ini akan terjadi."

__ADS_1


Kama menggeleng pelan, sungguh ia tidak ingin menyudahi hubungannya dengan Ana. Tapi, ada hal yang memaksanya untuk melakukan itu.


" An, apakah kau bisa menungguku?"


" Sampai kapan mas? Sampai aku sembuh begitu? Sampai aku kembali normal lalu kamu baru akan datang padaku? Jangan menggantungkan harapanku padamu mas, begitu juga sebaliknya jangan gantungkan harapanmu padaku. Aku belum tentu bisa kembali berjalan. Bahkan bisa jadi aku akan berakhir di kursi roda selamanya. Bukankah kau tidak bisa punya istri yang merepotkan? Kedua orang tua mu juga tidak bisa membanggakan menantu yang cacat. Aku hanya aib bagimu."


Kama terdiam, sungguh ia tidak bisa mengatakan apapun. 2 minggu mencoba meyakinkan kedua orang tuanya namun yang ia dapat malah ancaman. Ancaman akan di keluarkan dari kartu keluarga, ancaman akan diusir dari rumah tanpa apapun, ancaman akan berhentinya penelitian tesis nya.


Pria itu sungguh kebingungan, ditambah lagi Brigitta yang sering ke rumah membuat papi dan maminya berbalik. Dulu mereka begitu menentang hubungannya dengan Brigitta karena usia yang lebih tua, kini mereka seakan lupa akan hal itu.


Ana tersenyum sinis melihat kebingungan wajah Kama. Ia melihat Kama saat ini tengah dilema, namun bukan dilema untuk kuat memperjuangkan dirinya tapi lebih kepada dilema ingin mengatakan pisah.


" Kita sudahi saja mas, tidak perlu satu bulan membuat keputusan. Saat ini pun aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan. Pergilah, kau berhak mendapatkan bahagia mu dan itu bukan aku."


Topan yang melihat dari kejauhan paham jika Ana sudah tidak ingin berlama lama di sana. Ia pun segera berlari kemudian membopong tubuh Ana dari kursi taman ke kursi roda. Gadis itu pun memberi kode kepada Topan untuk pergi meninggalkan tempat dimana Kama berada.


" Pan!"


" Cimol ku ketinggalan di bangku."


Topan tersenyum simpul ia pun membalikkan tubuhnya lalu mengambil cimol milik Ana, sedangkan Kama di sana masih duduk termangu. Topan pun enggan menyapa, meskipun dari jarak yang lumayan jauh namun Topan masih bisa mendengar setiap apa yang mereka bicarakan.


Kau sudah menyia-nyiakan Kak Ana. Jadi jangan menyesal suatu hari nanti. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberikan Kak Ana untuk mu meski kau menangis darah sekalipun.


Topan menyeringai, mulai hari ini ia bertekad akan melindungi seluruh hidup Ana. Tidak akan ia biarkan sesiapapun berani menyentuhnya.


Setelah memberikan jajanan Ana, Topan pun mendorong Ana ke tempat lain. Gadis itu belum mau pulang. Ia meminta Topan membawanya ke tepi danau. Di taman tersebut ada sebuah danau buatan yang lumayan bisa menyegarkan pernafasan di tengah padatnya kota J tersebut.

__ADS_1


" Pan, sepertinya aku tidak akan bisa menikah sampai kapanpun?"


" Kenapa begitu?"


" Siapa yang mau punya istri cacat sepertiku. Akan lama bagiku unyuk sembuh. Bukannya melayani suami akau pasti hanya akan merepotkan suami ku nanti."


" Aku mau kak."


" Maksudmu?"


Ana memicingkan matanya, sedangkan Topan ia berjongkok di depan Ana dan meraih kedua tangan gadis itu. Ia menatap lekat mata hijau kebiruan milik sang gadis. Sebaliknya Ana, gadis itu sungguh tidak mengerti apa yang adik yang ia kenal dari usia 19 tahun itu katakan.


" Kak, dengarkan dulu dan jangan menyela. Kak aku menyayangimu, sayangku lebih dari sekedar adik ke kakak. Aku menyayangi mu layaknya pria kepada wanita. Aku mencintaimu kak. Sungguh aku mencintaimu."


Bukannya terkejut, Ana malah tertawa terbahak. Bahkan gadis itu tepingkal hingga keluar air mata di sudut mata nya.


" Haish, bercanda mu berhasil membuatku tertawa dek. Jangan bicara sembarangan begitu, kau bisa membuat seorang gadis salah paham."


Topan mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan. Ia pun melepaskan tautan tangannya dan berdiri. Pria itu membungkuk lalu kedua tangannya bertumpu di kursi roda Ana.


" Dek, kamu mau apa."


" Membuktikan apa yang aku katakan biar kakak percaya."


Topan semakin mengikis jarak dengan Ana hinga wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa centimeter. Tanpa Ana duga Topan meraup bibir mungilnya. Bahkan ia sudah memagutnya. Ana yang terkejut hanya bisa membelalakkan matanya. Ia sungguh tidak percaya Topan akan melakukan ini dengan keadaan sadar.


Yang tadinya terkejut, Ana pun lambat laun menikmati pagutan Topan. Bahkan lidah mereka sudah saling bertaut. Ana mengalungkan kedua tangannya dileher pria yang ada di depannya itu. Ada rasa aman dan nyaman di sana. Kini ia benar benar menyadari bahwa apa yang Topan katakan adalah benar adanya. Tapi bagaimana nanti reaksi keluarganya.

__ADS_1


" Apa yang kalian berdua lakukan???"


TBC


__ADS_2