
Ana tengah berada di halaman rumah menyirami tanaman yang ditanam oleh Kiran saat berada di rumah dulu. Biasanya Sita yang merawatnya. Kali ini entah mengapa Ana ingin menyiramnya. Dengan dibantu oleh Bi Inah menyalakan keran, Ana terlihat senang melakukan hal tersebut. Bahkan dia bersenandung kecil di sela-sela kegiatannya menyiram. Percikan air yang mengenai tubuhnya membuat Ana semakin lebar senyumannya.
" An,"
" Astagfirullah."
Ana sungguh terkejut dengan kedatangan seseorang yang sungguh tidak ia harapkan. Ana hanya menengok sejenak lalu kemudian ia kembali melanjutkan apa yang ia kerjakan.
Sedangkan Kama ia mendengus pelan. Ana benar-benar acuh padanya. Hal tersebut meyakinkan Kama bahwa apa yang didengar dan dilihat adalah benar adanya. Kama pun menjadi sedikit kesal. Ia kemudian menarik paksa selang yang ada di tangan Ana lalu melemparnya ke sembarang arah. Ana mengerangg marah.
" Apa yang kau lakukan!"
Kilatan marah karena merasa diabaikan pun terlihat di kedua mata Kama. Pria tersebut mengungkung Ana di kursi rodanya. Ia menangkup wajah Ana dengan kedua tangan besar miliknya. Ana jelas takut bahkan ia sudah hampir menangis.
" Lepas, apa yang mau kau lakukan padaku!"
Ana mencoba menarik kedua lengan Kama. Namun semakin menariknya, Kama juga semakin erat tangannya.
" Aku bilang lepas! Kalau tidak maka!"
" Maka apa hah, apa yang bisa kau lakukan!"
Bagai kesetanan, Kama meraup bibir Ana dan menciumnya dengan paksa. Ana tentu saja terkejut. Ia bahkan sambil menangis mencoba melepaskan tangan Kama dari wajahnya.
" Badjingaaaan!!!'
Bugh bugh bugh
Ana terkejut melihat Topan yang datang dan memukul Kama membabi buta. Sungguh Topan tidak terima dengan apa yang Kama lakukan kepada Ana. Topan memukul Kama hingga pria itu babak belur.
" Topaaan!!!"
Teriakan Ana rupanya tidak berhasil menghentikan Topan. Akhirnya Ana berteriak memanggil Rama. Rama yang mendengar panggilan dari sang putri langsung berlari. Betapa terkejutnya Rama melihat Topan benar-benar seperti kesetanan memukuli Kama. Bahkan bisa dilihat Kama sudah tidak sanggup bergerak. Yang keluar dari mulut Kama hanya dessahann kesakitan.
Rama kemudian memeluk tubuh tinggi milik Topan sambil terus membujuk Topan untuk menyudahi apa yang dia lakukan. Sita yang ikut Rama berlari keluar tak kalah terkejutnya. Ia mencoba membantu Kama untuk bangkit dari tanah yang basah akibat air dari selang yang masih mengalir.
__ADS_1
" Nak, istigfar nak, istighfar. Ikuti ayah ya, astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim."
Tubuh Topan yang menegang dan tangan yang mengepal keras serta erat itu lambat laun mulai melemah. Degup jantung yang tadi sangat cepat itu lambat laun juga mulai kembali normal.
Mengetahui Topan yang sudah mulai tenang, Rama pun melepaskan pelukannya itu. Ia kemudian mengusap lembut kepala Topan.
" Apakah sudah tenang?"
Topan mengangguk, ia kemudian menghampiri Ana lalu meraih kedua tangan gadis yang amat dicintainya itu. Ia mengucapkan maaf berkali-kali. Ia sungguh menyesal karena tidak becus menjaga Ana.
" Maaf kak. Maafkan aku. Sungguh aku minta maaf."
" Bukan, bukan salahmu. Memang pria itu saja brengsek. Maafkan aku, aku … "
" Kak, Kak Ana pasti takut ayo kita kembali masuk ke rumah. Yah, mom, Topan bawa masuk Kak Ana dulu ya."
Rama dan Sita mengangguk. Mereka baru melihat sisi lain Topan tadi. Sungguh pemuda itu sangat protektif dan brutal saat melihat orang yabg dicintai dan disayanginya menangis disakiti.
Rama dan Sita yang sebenarnya belum mengerti apa yang terjadi hanya sebisa mungkin membantu Rama untuk bisa lagi berdiri.
" Tidak om, tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri. Dan maaf om untuk kejadian hari ini. Saya permisi."
Dengan terseok dan memegangi perutnya yang terasa amat sakit, Kama memasuki mobilnya dan bergegas pulang ke rumahnya. Setelah Kama pergi Rama dan Sita segera bergegas masuk ke rumah dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka semua berada di ruang keluarga. Ana kemudian menceritakan kejadiannya kepada kedua orang tuanya. Sungguh Rama terlihat begitu marah mendengar cerita Ana.
Pantas saja bocah ini kalap seperti orang kesetanan. Orang yang dicintainya dicium paksa. Siapa yang tidak marah. Kalau aku pasti juga akan melakukan hal yang sama.
Rama bergumam dalam hati. Ia tidak menyalahkan Topan sedikitpun dengan apa yang sudah dilakukan pemuda itu. Hal tersebut merupakan sebuah tindakan spontan.
" Mommy nggak habis pikir dengan kelakuan pria itu. Mengapa dia begitu jauh berbeda dengan dulu," keluh Sita di depan semuanya.
Ana menunduk pilu. Ia sendiri tidak menyangka Kama berbuat seperti itu. Dan, Ana baru ingat. Di baju Kama ada parfum yang mana itu bukan milik Kama. Bisa Ana ketahui, itu adalah parfum milik seorang wanita.
" Ya sudah tidak usah di bahas. Ayo An, mommy antar kamu ke kamar."
__ADS_1
" Mom, bisakan Topan saja. Ada yang mau Ana bicarakan dengan Topan."
Sita mengangguk dan tersenyum. Kursi roda yang sudah ia pegang itu diserahkan kepada Topan. Topan pun mendorong kursi roda Ana menuju ke kamar.
" Mau bicara apa kak?" ucap Topan sambil memindahkan Ana dari kursi roda ke ranjang king size milik gadis itu.
Tanpa aba-aba Ana meraup bibir Topan. Pria itu sungguh terkejut, tidak biasa-biasanya Ana memulai terlebih dahulu. Namun detik selanjutnya Topan mulai menikmati setiap sesapan demi sesapan yang dilakukan oleh Ana. Topan bisa merasakan Ana sedikit agresif kali ini.
" Kak … "
Bagaimanapun Topan pria normal, ketika Ana mulai menciumi lehernya muncul juga gejolak yang berada di bawah sana. Topan pun segera menghentikan apa yang Ana lakukan.
" Kenapa?" tanya Ana polos.
" Kakak membangunkan yang di bawah sana, dan itu sungguh berabe kalau dia terbangun sempurna," jawab Topan asal.
Ekspresi Ana benar-benar malu saat ini. Dia benar-benar tidak bermaksud untuk memancing itu.
" Kenapa tiba-tiba begitu agresif hmmm?"
Topan menyingkirkan surai anak rambut Ana yang menutupi mata gadis itu. Ia kemudian menangkupkan tangannya ke wajah Ana, mengangkat sedikit wajah gadis tersebut lalu menatap mata biru kehijauan itu dengan lekat.
" Huffttt, aku tidak ingin jejak bibir pria itu menempel di bibirku."
Topan tergelak mendengar jawaban Ana. Ia kemudian memeluk Ana dengan begitu posesif dan mengusap punggung Ana dengan lembut. Jika Topan tidak salah tangkap, Ana tidak ingin dirinya salah sangka dengan yang terjadi. Sungguh Topan senang, Ana ternyata begitu menjaga perasaannya. Ia pun juga bertekad untuk selalu menjaga perasaan Ana.
" Pan,"
" Hmmmm?"
" Kalau kita menikah nanti, bagaimana kalau aku belum bisa memenuhi kewajibanku?"
" Aku akan menunggu. Aku akan menunggu kakak sampai Kak Ana mampu dan sanggup melakukannya. Aku akan menunggu sampai kapanpun itu. Aku tidak akan memaksa, menuntut, dan memburu-buru kakak. InsyaaAllaah aku akan senantiasa sabar hingga hari dimana kakak bis amelakukan kewajiban kakak tersebut."
" Terimakasih, terima kasih lelakiku. Topan Arsyanendra, aku mencintaimu."
__ADS_1
TBC