
Pagi ini Ana dan Topan bersiap untuk datang ke acara pernikahan Kama dan Brigitta. Bersama dengan Rama dan Sita, karena dalam undangan yang dikirim kemarin tertera untuk seluruh keluarga Joyodiningrat. Tentu saja para pria tidak ikut menghadiri. Kai tidak mau datang, baginya acara tersebut tidak penting. Dan baik Akhza dan Abra setali tiga uang dengan sang abang. Kedua saudara kembar Ana itu sungguh tidak ingin menghadiri acara dari pria yang telah menyakiti hati adik perempuan mereka.
" Ana yakin mau datang?" tanya Sita khawatir.
" Yes mom, tentu. Tidak enak sudah diundang. Paling tidak kita memenuhi undangan untuk sekedar menghormati bukan?" jawab Ana tenang.
Namun ketenangan Ana dalam berbicara tersebut malah membuat Rama dan Sita saling pandang. Kedua orang tua itu jadi ingat kepada anak sulung mereka yang setelah tenang menghadapi sesuatu tiba-tiba ada sebuah hal yang muncul setelahnya.
" Kamu merasa ada yang aneh nggak sih mas?"
" Iya, Ana tidak seperti biasanya. Saat seperti itu hampir mirip sama Kai."
Sita mengangguk setuju. Keduanya pun hanya pasrah mengikuti keinginan putri mereka. Sedangkan Topan yang masih belum mengerti apa yang sedang dipikirkan Ana hanya diam dan terus mengawasi.
Acara pesta pernikahan yang begitu meriah terlihat digelar di ruangan semi outdoor. Nuansa putih menjadi hal yang paling mendominasi di sana. Bunga- bunga berwarna senada juga menjadi penghias pelaminan. Terlihat senyum Brigita yang begitu mengembang di bibir wanita yang sudah sah menjadi istri Kama tersebut. Dia benar-benar jadi ratu sehari kali ini.
Para awak media yang meliput acara tersebut tentu menanyakan acara pernikahan yang berkesan dadakan. Di tambah mengenai pagelaran fashion yang dianggap FAILED kemarin harus diklarifikasi.
" Maaf, aku sungguh minta maaf. Acara fashion show kemarin memang sebuah kegagalan ku dalam berkarir di dunia fashion designer selama ini. Itu semua karena pikiranku terbagi dengan acara pernikahanku. Aku sungguh sangat gugup sehingga aku mengacaukan semuanya."
Sungguh akting yang luar biasa. Brigitta benar-benar menampilkan wanita cantik dan manis yang bisa menarik simpati banyak orang. Pun begitu dengan Kama, pria itu seolah-olah menjadi suami yang begitu mencintai istrinya.
Pemandangan tersebut sungguh membuat Ana muak. Begitu juga dengan Topan. Mereka yang baru masuk ke venue tentu saja langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan awak media yang tadinya sibuk mewawancarai pasangan pengantin yang baru saja resmi menikah itu langsung meluncur meninggalkan mereka dan beralih kepada keluarga Joyodiningrat.
" Topan Arsyanendra, apakah benar anda akan menikah dengan saudara Ana?"
" Apakah kabar yang beredar benar adanya bahwa saudari Anandita tidak bisa berjalan selamanya?"
__ADS_1
" Apakah benar anda menikahi saudari Anandita karena balas budi dan merasa kasihan saja?"
Topan mengepalkan tangannya erat di pegangan kursi roda Ana. Ia terlihat begitu marah dengan pertanyaan-pertanyaan para pemburu berita tersebut. Sedangkan Sita dan Rama pun tak kalah marahnya.
Di atas pelaminan, Brigitta tersenyum sinis. Apa yang diharapkan benar-benar terjadi yakni mempermalukan keluarga Joyodiningrat. Bahkan Agung dan Rima pun juga ikut terkekeh mengejek. Lain pula dengan Kama, pria itu tampak khawatir dengan ulah awak media yang menyerang kepada Ana dan keluarganya.
Saat Topan hendak berbicara Ana menyentuh lembut tangan Topan dan menggeleng pelan. Kode bahwa Topan diminta diam saja oleh Ana.
" Semua yang kalian katakan mungkin ada benarnya dan tidak sepenuhnya salah. Tapi ada hal yang sungguh salah dengan pertanyaan poin kedua yang Anda semua lontarkan. Siapa bilang saya tidak bisa berjalan selamanya. Sepertinya Anda harus mencari berita yang valid, bukan hanya berita sampah semata."
Kalimat terakhir yang Ana katakan membuat semua orang bertanya-tanya. Siapa gerangan yang menyebarkan rumor tersebut. Ana melirik tajam kepada Brigitta, sesaat wanita yang duduk di pelaminan itu merinding dengan tatapan Ana.
Tanpa diduga Ana berdiri dari kursi rodanya. Semua melihat takjub bahkan Topan dan kedua orang tua Ana pun sungguh terkejut.
" Dek, ka-kamu bisa berdiri?" ucap Sita.
Kedua orang tua itu sungguh senang melihat perkembangan pemulihan Ana yang menurut mereka sungguh cepat dari prediksi. Sedangkan Topan, pria itu sudah menangis haru sambil memeluk wanita yang dicintainya dan kembali mendudukan Ana di kursi rodanya.
" Cukup kak, kakak sudah berusaha keras. Kakak istirahat ya."
Ana menghapus air mata yang terlanjur membasahi pipi Topan. Wanita itu pun mendengus kesal.
" Padahal aku ingin tunjukkan ini saat pernikahan kita nanti. Eh malah harus sekarang."
Topan secara spontan mencium pipi Ana yang menggembung. Sungguh ia tidak tahan melihat wajah Ana yang begitu menggemaskan.
Tentu saja momen manis itu membuat semua tamu undangan di sana berdecak kagum. Mereka seperti menyaksikan sebuah drama romantis.
__ADS_1
" Baiklah para rekan wartawan. Saya sampaikan di sini. Tidak ada balas budi di acara pernikahan yang akan kami selenggarakan. Saya Topan Arsyanendra sangat mencintai gadis ini. Saya sangat menyayanginya apapun keadaannya. Dan mommy juga ayah, Topan akan selalu menjaga dan mencintai putrimu hingga batas usia yang Allaah berikan kepadaku."
Sweet, itulah kata yang terucap dari bibir semua orang yang berada di sana. Mereka sungguh takjub dengan cinta Topan kepada Ana. Beberapa sosialita yang jadi tamu Brigitta merasa patah hati. Pasalnya mereka diam-diam mengidolakan sosok Topan untuk jadi suami masa depan mereka.
" Ya elah belum juga perang, gue harus mundur karena udah tahu bakalan kalah," ucap salah seorang wanita sosialita yang ada di sana.
Brigitta tentu kesal, ia yang berencana mempermalukan Ana dan keluarganya malah menjadi berbalik menjadi sanjungan dan pujian. Namun Brigitta tak kehabisan akal. Ia meminta mc acara mengadakan sesi menyalami pengantin untuk mengucapkan selamat dan doa.
" Tapi khusus untuk saudara Ana biar saya saja yang ke sana. Kasihan jika harus susah payah naik ke atas panggung."
Ucapan Brigitta mendapat tatapan tajam dari Kama. Namun Brigitta acuh ia seolah-olah tidak melihat apa yang Kama lakukan.
" Ooh terima kasih Nyonya Darfandi atas kemurahan hati nyonya. Tapi sebelum itu, perkenankan saya untuk memberikan sebuah kado manis yang saya sudah persiapkan semalaman untuk kedua mempelai."
Ana menjentikkan jarinya. Sebuah layar besar di sana tiba-tiba muncul. Padahal baik Brigita maupun keluarga Kama tidak meminta hal tersebut.
Jentikan jari yang kedua sebuah layar video ditampilkan. Semua orang begitu terkejut, semua mata menatap tajam. Bahkan Kama tidak bisa berkata apapun di sana. Begitu juga Agus, Rima dan Brigitta. Semua fokus menyaksikan video itu dengan tatapan mata yang nanar dan wajah pias.
" Surprise!!!!!"
Ana mengucapkan kata itu dengan binar kebahagiaan, dia menyeringai puas. Apa yang ia kerjakan semalaman tidak sia-sia rupanya. Disisi lain Rama dan sita hanya bisa membuang nafas mereka dengan kasar.
" Sudah kuduga."
Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Rama dan diikuti anggukan kepala oleh sang istri.
TBC
__ADS_1