Rahasia Hati Sang Designer

Rahasia Hati Sang Designer
RHSD 58. Berulah


__ADS_3

Sita sungguh trenyuh melihat kondisi Brigitta yang begitu lemah. Pun dengan Ana dan Topan. Terlebih saat mereka mendengarkan apa yang terjadi dengan Brigitta sebelum akhirnya ia berada di rumah sakit.


" Mengapa dia jadi setega itu sih  bener-bener pria yang tidak tahu diri."


Ana terlihat begitu sangat marah. Ia yang hanya memiliki kesabaran setipis tisu itu ingin sekali bisa meninju wajah Kama. Pria brengsek yang dengan kejam menyakiti hati istrinya. Terlebih istrinya saat ini dengan mengandung darah dagingnya.


" Sudah An, lagipula kita juga sudah bukan suami isteri. Dia sudah menjatuhkan talaknya padaku."


" Apa!!??"


Sita, Ana dan Topan sungguh terkejut dengan apa yang mereka dengar saat ini. Bahkan Sita sudah menangis. Mengapa harus ada wanita yang mengalami nasib serupa dengan dirinya di masa lalu. Sita bahkan sampai merasa lemas dan tubuhnya sudah merosot ke lantai. 


" Mom,"


Dengan sigap Topan menangkap tubuh Sita. Ia pun membimbing Sita untuk duduk di kursi sebelah tempat tidur Brigitta. Wanita paruh baya itu meraih tangan Brigitta lalu mengusapnya lembut. Mata Sita tampak berembun dan lambat laun air mata itu sudah sungai.


Tentu saja Brigitta dan Topan bingung dengan apa yang mereka lihat. Namun tidak dengan Ana. Ia tentu tahu mengapa mommy nya bersikap seperti itu. Sebagai anak-anak Sita tentu Ana mengetahui masa lalu sang ibu. Namun meskipun begitu mereka tidak pernah membenci daddy Dani. Bagaimanapun itu adalah masa lalu. Dan semua sudah saling memaafkan dan masing-masing hidup dengan baik skarang.


Hanya saja melihat keadaan Brigitta saat ini merupakan deja vu bagi Sita. Sita kembali mengusap tangan Brigitta dan kini membelai kepala wanita tersebut.


“ Bertahanlah untuk anak mu. Mommy yakin nanti dia akan tumbuh jadi anak yang kuat dan hebat.”


“ Terimakasih tante.”


“ Panggil mommy seperti Topan memanggilku.”


Ada rasa nyaman saat Brigitta menerima semua bentuk perlakuan dari Sita. Ia merasa tenang stiap kali tangan lembut wanita paruh baya itu menyentuh tangan dan kepalanya. Ia merasakan sentuhan lembut seorng ibu.


“ Terimakasih mom, aku akan kuat karena anakku ini. Fan maafkan aku mom telah berbuat buruk kepada anak-anak mommy.”


Sita mengangguk lalu tersnyum. Bagi dirinya Brigitta ini hanyalah kurang perhatian. Dia berharap sebuah perhatian dari seseorang namun ternyata semuanya salah alamat dan malah berakibat fatal seperti ini.


“ Lalu setelah ini mbak mau pulang kemna?”


“ Ke apartemen Pan. Aku masih punya apartemen.”


“ Nanti aku akan sering main, tapi jika mbak Bri nggak keberatan.”


“ Tentu saja tidak An aku malah seneng.”


Semuanya kembali tersenyum. Suasana sendu yang tadi sempet terbentuk kini lambat laun berubah menjadi suasana yang hangat.


*


*


*

__ADS_1


Di kediaman Kama, pria itu menyusun rencana untuk kembali menemui An. Namun semuanya buyar ketika Agus dan Rima menarik tubuh Kama yang sednag fokus dengan ponselna itu untuk diajak berbicara.


“ Ada apa sih pap, mam.”


“Syukurlah perkebunan kita suah ada yang membeli. Kita juga sudah mendapatkan investor, akan tetapi kita tak lagi memiliki perusahan tersebut.”


“ Apa, mengapa bisa begitu?”


Agus lalu menjelaskan bahwa kepemilikan saham mereka di perusahaan tersebut hanya sekita 20%. Selebihnya merupakan milik investor dan pemilik perkebunan karet yang baru. Maka dari itu mulai besok baik Agus maupun Kama harus bekerja sebagai pengelola atu lebih tepatnya sbagai karyawan.


Meskipun jabatan mereka masih lumaya tinggi namun tentu saja bukan CEO. Agus akan berada di posisi Direktur utama dan Kama menjabat sebagai direktur pemasaran. Tentu saja hal terebut membuat Kama terkejut. Bagaimana bisa yang tadinya mereka pemilik perusahaan kini harus turun pangkat menjadi karyawan. Sungguh Kama tidak bisa menerima semua ini.


“ Terus besok aku harus bekerja gitu?  Heh yang benar saja pap,” protes kama.


“ Terserah, jika kau tidak mau maka terserah bagaimana kau akan memiliki uang. Aku tidak akan memberimu lagi. Kamu sudah dewasa, kamu pasti bisa mengasilkan uang sendiri bukan,” sahut Agus kesal.


“ Huh, jika dulu kalian tidak menghalangiku untuk teus brsama Ana. kita tidak aan ngeblangsak seperti sekarang.


“ Berhentilah membicarakan wanita itu. Sekarang lebih baik pikirkan bagaimana kau akan bekerja dengan baik dan selesaikan sidangmu!”


Kama acuh, ia masuk ke kamar dan mengambil kunci mobilnya lalu kembali keluar. agus pikir Kama kan melakukan pa, tidak tahunya anaknya itu langsung saja pergi ke luar rumah meninggalkan Agus dan Rima yang terbengong.


“ Anak itu benar-benar tidak trtolong lagi. huft.”


Sepanjang mengendarai mobilnya kama terus mengumpat. ia menyalahkan Brigitta atas apa yang menimpa dirinya saat ini.


Kama sungguh kesal. Saat ini ia benar-benar membenci Brigitta. Kama menapikan mobilnya lalu menghubungi wanita yang sudah uia jatuhi talak itu.


“ Ada apa?”


“ Dimana kamu?”


“ Apa peduli mu. Kita bukan suami istri sekarang. Untuk apa kamu mencari ku.”


Kama membuang nafsnya kasar. Benar aja apa yang dikatakn oleh Brigitta untuk apa dia mencari Brigitta. Namun satu hal yang ia tahu pasti adalah ia ingin melampiaskan kemarahannya pada Brigitta. Karena Kama merasa Brigitta adalah sumber segala kekacauan hidupnya.


“ Tck, katakan saja dimana kau saat ini.”


“ Aku dirumah sakit.”


Kama langsung menutup panggilan teleponnya dan bergegas ke rumah sakit.  Entah apa yang ia akan lakukan kepada Brigitta hanya ia yang tahu.


Di rumah sakit Brigitta sungguh merasa kesal dengan panggilan telepon dari Kama tersebut. Rasa cinta yang dulu pernah ada benar-benar telah terkikis habis seiring dengan perlakuan kama terhadap dirinya.


“ Siapa Mbak?’


“ Kama.”

__ADS_1


Rupanya Topan masih berda di situ. entah mengapa Ana tiba-tiba meminta Topan untuk kembali ke rumah sakit setelah suaminya itu mengantarnya dan sang mommy plang.


“ Kamu nggak pulang Pan?”


“ Nanti aku pulang, oh ya mbak belum makan kan.Aku akan membelikan beberapa makanan dulu biar mbak kalau malam nggak bingung pas lagi lapar.”


Brigitta tersenyum. Ada rasa hangat yang menjalar di hati wanita itu saat mendapat perhatian dari Topan. Brigitta sungguh merasa menyesal dengan kejahatan yang pernah ia lakukan kepada anak baik itu.


“ Maafkan aku ya Pan. Aku dulu benar-benar jahat padamu.”


Tentu saja Topan tidak mendengar apa yang Brigitta katakan karena dia sudah keluar dari ruang rawat Brigitta. Tak berselang lama Kama datang ke ruangan tersebut menemui Brigitta yang baru akan merebahkan tubuhnya.


“ Dasar wanita brengsek. kau enak-enakan disini saat keluargaku terpuruk.”


“ Jaga ucapan mu Kama. aku tidak ada hubungannya lagi denganmu. dan soal keluarga mu lebih baik kalian segara taubat dan minta maaf agar kalian hidup tenang.”


“ Cuiih, jangan sok suci kamu Bri. Kamu tidak ada ubahnya seperti jalaang. Kau kan yang medekatiku terlebih dahulu.”


“ Heh, Kama Darfandi. Jika aku jalaang lalu apa bedanya dengan mu. Apa kau mendadak amnesia? Apa kau tidak ingat siapa yang pertama kali menyerang ku?”


Kama seketika terdiam. Ia tentu ingat hal tesebut. Kalau boleh bilang, Brigitta sama skali tidak pernah menggodanya terlebih dahulu. Kama lah yang memulai semua permainan itu hingga Brigitta kini mengandung anaknya. Namun sikap tinggi hati Kama tentu saja membuat pria itu memutar balikkan fakta.


“ Halaah jika kau tidak muncul aku tidak akan seperti ini. Keluargaku tidak akan bangkrut, Ana pun tetap masih akan bersamaku.”


Brigitta menggelengkan kepalanya perlan. sungguh ia sudah salah mencintai seorang pria. Ia pun acuh dnegna rentetan ucapan Kama yang sungguh tidak pantas diucapkan itu.


Melihat Brigitta acuh membuat Kama naik pitam. Dengan tega ia menarik tubuh Brigitta hingga Brigitta jatuh dari brankar.


“ Auch …"


“ Brengsek apa yang kau lakukan!”


Bugh 


Bugh 


Bugh


Topan yang baru datang sangat terkejut melihat Brigitta mengerang kesakitan di lantai. Ia pun dengan brutal memukuli Kama.


Mendengar keributan dalam ruang rawat, Nataya yang melintas tentu saja terkejut melihat temannya itu tengah menghajar seseorang. Nataya memnggil beberpa orang untuk memisahkan Kama dan Topan.


“ Stop Pan, stop. bisa mati anak orang nanti. istigfar.”


Kama yang sudah babak belur langsung diamankan oleh beberapa orang. Sedangkan Topan pandangannya beralih kepada Brigitta. Ia sunggu terkeut melihat keadaan brigitta tersebut. Pun dengan Nataya.


“ Mbak … Mbak bangun … Mbak!!!”

__ADS_1


TBC


__ADS_2